Mengenal Fenomena Ekuinoks yang Bikin Lama Siang dan Malam Hampir Sama

Techno | Jumat, 24 September 2021 12:36

Reporter : Arie Dwi Budiawati

Saat itu terjadi, matahari seolah-olah berada tepat di atas kepala.

Dream – Fenomena astronomi langka berupa ekuinoks terjadi pada 23 September 2021 malam lalu. Gerak semu tahunan matahari ini menyebabkan warga di Bumi merasakan lama waktu siang dan malam seperti hampir sama yaitu 12 jam.

Ekuinoks September merupakan titik perpotongan ekliptika dan ekuator langit yang dilewati matahari dalam perjalanan tahunan. Gerak semu tahunan matahari akan melintasi langit belahan utara menuju ke selatan.

Terkadang, matahari terbit tepat di timur dan terbenam tepat di barat, lain hari matahari terbit agak ke arah utara dan agak ke arah selatan.

Mengutip Edukasi Sains Antariksa (ESA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), fenomena ekuinoks inilah yang menyebabkan gerak semu harian matahari, bulan, planet, bintang-bintang dan objek luar angkasa lainnya dari arah timur ke barat.

Ketika bumi mengelilingi matahari, bumi juga melakukan rotasi dengan kemiringan sumbu 66,5 derajat terhadap bidang edar atau orbit bumi atau 23,5 derajat terhadap sumbu kutub langit utara .

Ketika matahari berada di garis lintang nol derajat, bagi pengamat yang terletak di ekuator bumi, akan melihat matahari tepat di atas kepala ketika tengah hari.

Saat ekuinoks terjadi, belahan bumi utara dan selatan sama-sama menerima radiasi matahari yang sama besar dan sama panjang durasinya.

Mengenal Fenomena Ekuinoks yang Bikin Lama Siang dan Malam Hampir Sama
Apa Itu Ekuinoks? (foto: Shutterstock)
2 dari 2 halaman

Siang dan Malam yang Nyaris Sama

Jika ditinjau dari pengamat tata surya di luar bumi, posisi sumbu rotasi bumi tegak lurus terhadap arah sinar matahari ke Bumi.

Hal inilah yang menyebabkan di setiap tempat di permukaan bumi akan merasakan malam yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Panjang siang dan malam untuk setiap tempat di permukaan bumi nyaris sama. Walau dalam kenyataannya tidak tepat 12 jam karena dipengaruhi oleh refraksi atmosfer.

Pergeseran ekuinoks September disebabkan oleh presesi apsidal yakni bergesernya titik perihelion Bumi (titik terdekat Bumi dari Matahari) terhadap titik pertama Aries/Hamal.

Saat ini, titik perihelion berada di sekitar 13 derajat dari Solstis Desember atau 77 derajat dari ekuinoks vernal. Presesi apsidal ini memiliki siklus 21 ribu tahun.

Fenomena malam yang terjadi pada bulan September 2021 antara lain, fase bulan perbani awal, elongasi timur maksimum merkurius dan oposisi merkurius yang terjadi pada 14 September 2021. Ada juga fenomena konjungsi tripel bulan-jupiter-saturnus pada tanggal 16 sampai 19 September 2021. Selain itu, pada tanggal 20 dan 21 terjadi fenomena apoge mars dan fase bulan purnama.

(Sumber: akun Instagram LAPANedukasi.sains.lapan.go.id)

(Laporan : Syifa Putri Naomi)

Join Dream.co.id