Penampakan Drone Komersial di Indonesia

Techno | Rabu, 1 Desember 2021 15:34

Reporter : Alfi Salima Puteri

Ehang 216 sebagai Autonomous Aerial Vehicle (AAV) dengan teknologi otomatisasi yang dapat menampung dua penumpang.

Dream - Seiring berkembangnya teknologi transportasi, Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) menjadi alternatif moda transportasi udara yang sangat menarik untuk dikembangkan dan dioperasikan karena dinilai lebih cepat, murah, efisien dan ramah lingkungan. PUTA ini biasa disebut juga drone.

Dalam pengoperasiannya, PUTA harus tetap mengutamakan aspek keselamatan, sehingga Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) menyatakan bahwa pengoperasian drone komersial tersebut harus melalui proses sertifikasi dan validasi yang sangat ketat.

" Regulator yakni Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub selalu berusaha mengakomodir pengoperasian PUTA, sebagai respon terhadap perkembangan teknologi transportasi udara yang saat ini tumbuh sangat cepat," jelas Kepala Sub Direktorat Sertifikasi Pesawat Udara DKPPU, Agustinus Budi Hartono, dikutip dari Liputan6.com, Selasa, 30 November 2021.

Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam mengatur pegoperasian PUTA, peraturan terkait PUTA tersebut telah dimasukkan ke dalam Undang-Undang Cipta Kerja dan PP 32 Tahun 2020.

" Akan tetapi apabila PUTA ingin dioperasikan secara komersial, kita harus mengacu aturan Internasional yang ada pada ICAO (International Civil Aviation Organization) yang sangat mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan. Kami siap untuk melakukan proses sertifikasi dan validasi secara ketat sesuai aturan yang ada," kata Agustinus.

Penampakan Drone Komersial di Indonesia
Foto: Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA)/Kemenhub
2 dari 6 halaman

Assessment selama delapan bulan

Terkait demo flight PUTA milik PT. Prestisius Aviasi Indonesia dengan jenis Ehang 216 belum lama ini, ia menjelaskan bahwa demo flight tersebut dilaksanakan setelah Kemenhub melakukan assessment selama delapan bulan terhadap pesawat udara Ehang 216, personel yang mengoperasikan, dan lokasi yang digunakan.

Hasil assessment tersebut menjadi rekomendasi kepada operator untuk pelaksanan demo flight tersebut.

Agustinus juga menegaskan bahwa walaupun telah melaksanakan demo flight, Ehang 216 tidak secara otomatis diijinkan untuk melakukan penerbangan secara komersial.

Hal ini berkaitan dengan masih adanya beberapa ketentuan yang harus dipenuhi, sesuai regulasi yang ada, sebelum PUTA tersebut dapat dioperasikan secara komersial.

" Yang kami sertifikasi tidak hanya dari sisi pesawatnya saja. Kita juga harus mempertimbangkan dan melakukan validasi dari sisi ruang udara, keamanan, lisensi pilot, termasuk organisasi yang nanti akan melakukan mengoperasikannya. Selain itu, masih ada hal teknis lainnya yang harus dipenuhi oleh Pabrikan Pesawat Ehang 216 dan kami juga sangat memperhatikan masalah safety dan kelaikudaran dari PUTA," tuturnya.

3 dari 6 halaman

Mampu mengangkat beban sampai 220 kg

Seperti yang diketahui, akhir pekan lalu Ehang 216 telah sukses melaksanakan demo flight di di Pantai Tegal Besar Klungkung, Bali.

Dilansir dari laman resminya, disebutkan bahwa Ehang 216 sebagai Autonomous Aerial Vehicle (AAV) dengan teknologi otomatisasi yang dapat menampung dua penumpang.

Ehang 216 juga bisa melakukan vertical take-off and landing (VTOL), dimana PUTA ini nantinya bisa mengantar penumpang di area perkotaan dengan memanfaatkan jaringan internet 4G dan 5G dan dikendalikan pilot di darat.

PUTA ini mampu mengangkat beban hingga 220 kilogram dan dapat melaju dengan kecepatan maksimal 130 km/jam dengan ukuran lebar pesawat 5,6 meter, tinggi 1,7 meter, dan dibekali 16 baling-baling yang terletak pada 8 lengan yang dapat dilipat.

4 dari 6 halaman

Drone Elang Hitam Segera Mengangkasa, PTDI Mau Ciptakan Rudal Made-in Indonesia

Dream - Perusahaan pertahanan, PT Dirgantara Indonesia (Persero) telah mempersiapkan berbagai proyek berteknologi maju dalam rentang tiga tahun ke depan. Salah satunya Indonesia akan memiliki peluru kendali (Rudan) yang diproduksi di di Tanah Air.

Di akhir tahun 2021, PTDI bahkan sudah menargetkan akan melakukan terbang perdana sebuah pesawat udara nirawak (drone) jenis medium altutide long endurance.

" Tahun ini, PTDI masih terus melanjutkan Tiga Program Strategis Nasional," ungkap Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro dalam keterangan tertulisnya dikutip Dream dari Indonesia-aerospace.com.

Selain dua proyek besar tadi, Elfien mengatakan, satu program strategis nasional lain yang sedang digarap perusahaan adalah pengembangan pesawat N219 amphibi. Pesawat ini nantinya dirancang bisa melakuan lepas landas dan mendarat di atas permukaan air.

Elfien optimistis pesawat jenis amphibi ini dapat menghubungkan antar pulau di Indonesia yang memiliki kondisi geografis kepulauan. Selain memangkas keberadaan pembangunan infrastruktur landasan udara atau bandara, Pesawat N219A juga diyakini akan mempercepat pengembangkan sektor pariwisata nasional.

" Karena bisa landing di kawasan pantai pulau wisata yang dituju wisatawan.” Tambahnya.

5 dari 6 halaman

Drone Buatan Indonesia Mengangkasa Tahun Ini?

Khusus mengenai pesawat niarwak buatan Indonesia, PTDI memberikan nama untuk proyeknya ini sebagai Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Elang Hitam. Drone ini dirancang mampu beroperasi secara otomatis dan memiliki daya tahan terbang 24 jam.

Pengembangan drone Elang Hitam dilakukan bersama dalam konsorsium nasional yang melibatkan PTDI sebagai lead integrator, PT Len Industri (Persero), LAPAN, Balitbang Kemhan RI, Dislitbang AU, Pothan Kemhan RI, BPPT dan ITB.

Penguasaan teknologi PUNA Elang Hitam nantinya dapat menjadi sarana bagi kemajuan teknologi pertahanan nasional yang secara bertahap dapat membangun kemandirian industri pertahanan dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) bagi TNI.

Ke depan, diharapkan PTDI bisa menghasilkan produk drone MALE kombatan yang dapat diterima TNI AU sesuai persyaratan operasi dan spesifikasi teknis.

6 dari 6 halaman

Siapkan Rudal di 2024

Sementara terkait program Rudal Nasional, PTDI akan mengembangkannya bersama dengan PT Len Industri, PT Pindad dan PT Mulatama.

Pengembangan Rudal (Surface to Surface) ini juga dilakukan untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

Elfien mengatakan, untuk pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI, sertifikasi Rudal Nasional diharapkan bisa diperoleh pada tahun 2024.

Join Dream.co.id