Kelamaan di Luar Angkasa Bisa Bikin Otak Manusia Berubah

Techno | Jumat, 17 April 2020 09:33
Kelamaan di Luar Angkasa Bisa Bikin Otak Manusia Berubah

Reporter : Arini Saadah

Saraf optik astronot membengkak. Beberapa kasus mengalami pendarahan pada retina serta perubahan struktur lain pada mata.

Dream – Pernah nggak sih membayangkan kamu melakukan perjalanan ke luar angkasa? Informasi yang kita sering dengar adalah astronot yang terbang ke lapisan di atas atmosfir bisa melihat planet bumi yang berbentuk bulat.  

Namun tahukah Sahabat Dream jika menghabiskan waktu lama di luar angkasa dapat membuat otak manusia berubah.

Melansir dari Space, para peneliti telah melakukan eksplorasi bagaimana ruang angkasa dapat memengaruhi fisiologi manusia dan juga kesehatannya. Salah satu penelitian menemukan banyak perubahan yang akan dialami para astronot, ruang angkasa dapat mengubah fisik hingga perubahan gen manusia loh.

Namun satu penelitian menunjukkan pesawat luar angkasa dapat memengaruhi otak manusia dengan cara yang tak biasa, bahkan penglihatan astronot akan rusak permanen.

2 dari 3 halaman

Astronot Mengalami Masalah Penglihatan

 Ilustrasi
© unsplash.com

Jurnal Radiology Society of North America mencatat, hingga saat ini, para astronot telah melaporkan masalah penglihatan mereka pasca melakukan perjalanan dari luar angkasa. Ahli membuktikan saraf optic astronot membengkak. Beberapa kasus mengalami pendarahan pada retina serta perubahan struktur lain pada mata.

Para ilmuwan berasumsi masalah penglihatan ini disebabkan oleh peningkatan tekanan di kepala selama berada di luar angkasa. Sebuah penelitian yang dipimpim Larry Kramer, ahli radiologi di Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Texas di Houston, menemukan bukti bahwa tekanan ini menyebabkan gaya berat mikro pada mata.

Tim peneliti melakukan MRI otak pada 11 astronot baik sebelum maupun sesudah melakukan perjalanan ke luar angkasa. Gambar MRI menunjukkan bahwa dengan eksposur lama ke gaya berat mikro, otak mengalami pembengkakan. Sementara cairan serebrospinal yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang meningkat volumnya.

Kramer mengatakan, temuan ini tentu saja mendukung teori bahwa luar angkasa dapat meningkatkan tekanan di kepala yang menurut para peneliti dikaitkan dengan masalah visi astronot.

Krame dan timnya menemukan bahwa kelenjar hipofisis juga berubah dengan paparan terhadap gayaberat mikro. Kelenjar itu menjadi padat dan beruabah selama perjalan ke luar angkasa. Hal ini membuktikan meningkatnya tekanan pada kepala astronot.

3 dari 3 halaman

Ruang Angkasa Menyebabkan Otak Bengkak

 Ilustrasi
© Pixabay

Tim peneliti juga menemukan efek pembengkakan otak di samping kelenjar pituitari yang menekan di kepala terlihat setahun setelah kepulangan astronot dari luar angkasa. Efek ini bisa bertahan lama. Namun dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi secara tepat.

Kramer menyebut para ilmuwan memiliki sejumlah teori tentang mengapa otak membengkak di ruang angkasa. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya gaya gravitasi di ruang angkasa. “ Darah yang biasanya menggenang di kaki menjadi menyebar di kepala. Itu bukan sesuatu yang wajar kita alami di bumi,” kata Kramer.

Ilmuwan berusaha mengembangkan teknologi untuk menanggulangi efek buruk bagi para astronot ini. Pengujian tindakan pencegahan, subjek penelitian diletakkan di tempat tidur dengan kepala miring ke bawah.

Posisi ini untuk menstimulasi pergeseran cairan yang diyakini terjadi dalam gayaberat mikro. Akhirnya ditemukanlah saraf optik membengkak dan juga tampak efek fisik lainnya.

Salah satu upaya pencegahannya adalah astronot harus mengatur posisi hanya untuk memindahkan darah melalui tubuh dan kembali ke kaki. Penanggulangan lain adalah settingan khusus untuk kaki dan tungkai yang akan membantu menjaga kadar cairan darah mereka.

Join Dream.co.id