Video Aneh Tapi Nyata! Air Terjun Mengalir ke Atas, Begini Penjelasannya

Techno | Kamis, 13 Agustus 2020 17:13
Video Aneh Tapi Nyata! Air Terjun Mengalir ke Atas, Begini Penjelasannya

Reporter : Ulyaeni Maulida

Fenomena alam unik ini terjadi akibat cuaca ekstrem yang tengah melanda.

Dream – Sebuah fenomena aneh di Royal National Park, Sydney, Australia, tertangkap kamera. Sebuah air terjun tak mengalir ke bawah, melainkan ke arah atas. Fenomena itu menjadi pemandangan alam yang begitu spektakuler.

Namun, fenomena itu bukan tanpa sebab. Kejadian ini ternyata disebabkan oleh hujan deras dan angin yang berhembus kencang hingga mencapai kecepatan 70 km/jam. Hujan dan angin tersebut menghantam garis pantai dan menyebabkan fenomena air terjun terbalik.

Video yang diposting ke situs pengunjung Bundeena ini pun memperlihatkan betapa kerasnya angin yang meniup air ke tepi tebing. Rekaman itu pun berhasil memperlihatkan dua air terjun yang saling berdekatan. Dan merupakan jalur pantai yang cukup populer di Bundeena.

2 dari 9 halaman

Akibat cuaca esktrem

Ahli meteorologi mengatakan bahwa air terjun terbalik tersebut terjadi ketika angin kencang datang dari arah laut dan menghantam tebing dengan kekuatan yang sangat kuat.  Sehingga mendorong air kembali ke tempat asalnya. Dan menimbulkan fenomena air terjun terbalik tersebut.

Kota Bundeena dan Maianbar tengah menghadapi banjir kecil karena cuaca ekstrem yang tengah terjadi. Beberapa pelayanan pelayaran menggunakan feri pun harus dibatalkan. Karena adanya gelombang besar laut.

Sementara beberapa akses jalan tertutup oleh batu-batu besar yang tergelincir ke jalan akibat hujan lebat. Sehingga membuat penduduk setempat harus berdiam diri didalam rumah.

3 dari 9 halaman

Ini Videonya

 

(Sumber: ndtv.com)

4 dari 9 halaman

Misteri `Batu Berjalan` di Lembah Kematian Terkuak

Dream - Hampir sebabad batu-batu yang berada di Death Valey atau Lembah Kematian menjadi misteri ilmu pengetahuan. Bebatuan besar yang rata-rata beratnya sekitar 320 kilogram didapati berpindah tempat. Seolah ada kekuatan magis yang memindah dari satu titik ke titik yang lain. Batu-batu ini seperti punya kaki.

Hanya terdapat bekas goresan pada lumpur yang sudah kering saja, sebagai petunjuk adanya pergeseran batu. Sementara bagaimana dan apa penyebab batu-batu itu berpindah tempat, menjadi misteri dalam jangka waktu sangat lama. Pengamatan demi pengamatan yang dilakukan para ilmuwan hanya mendapati padang debu dan tanah retak saja.

Namun, kali ini para ilmuwan tak bingung lagi. Pertanyaan seputar fenomena aneh itu sudah terpecahkan. Bisa dijelaskan secara ilmiah pula. Sehingga, tak ada anasir magis yang tak bisa dicerna akal manusia dalam proses pergeseran batu-batu yang kerap disebut 'sailing stones' atau 'batu-batu berlayar' tersebut.

 

5 dari 9 halaman

Menurut laman Daily Mail, Kami 28 Agustus 2014, misteri itu diungkap oleh ilmuwan dari San Diego. Para ilmuwan tersebut mengklaim telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana batu-batu itu pindah dari satu titik ke titik lain pada Lembah Kematian yang berada di wilayah Amerika Serikat itu.

© Daily Mail

Pergeseran batu di Death Valey. Sumber: Daily Mail

Tak mudah memang bagi para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography, San Diego, untuk mendapat jawaban itu. Mereka bahkan tak pernah berharap untuk melihat pergerakan batu-batu itu. Sebab, selama puluhan tahun melakukan pengamatan, hanya mendapati batu-batu itu duduk terdiam di atas tanah gersang itu.

Hingga pada suatu saat mereka memutuskan untuk memonitor bebatuan itu dengan memasang GPS pada sejumlah batu serta alat pengintai stasiun cuaca yang memiliki resolusi tinggi yang bisa mengukur riak air untuk interval satu detik saja. Alat-alat itu dipasang pada 15 batu di sana.

 

6 dari 9 halaman

Penelitian ini dilakukan pada musim dingin 2011 silam. Tetunya dengan izin petugas taman tersebut. Kepala penelitian, Ralph Lorenz, menyebut eksperimen itu merupakan penelitian paling membosankan yang pernah dia lakukan. Karena harus menunggu pergerakan batu-batu yang tidak berkaki.

Tapi pada Desember 2013, Richard Norris, penulis penelitian, serta sepupu Norris, Jim Norris, datang ke Lembah Kematian. Kala itu mereka menemukan danau, yang juga disebut Playa, tertutup air dengan ketinggian sekitar tujuh sentimeter. Tak lama setelah itu, mereka melihat sebuah keajaiban, batu-batu di hadapan mereka bergerak.

" Ilmu pengetahuan kadang-kadang memiliki unsur-unsur keberuntungan," kata Norris. " Kami memperkirakan menunggu lima hingga sepuluh tahun tanpa ada apapun yang bergerak, namun hanya dalam waktu dua tahun proyek ini berjalan, kami hanya kebetulan saja berada di sana pada waktu yang tepat untuk melihat sendiri hal itu terjadi."

 

7 dari 9 halaman

Dari pengamatan mereka menunjukkan bahwa batu-batu yang bergerak itu memerlukan kombinasi peristiwa yang langka. Pertama, Playa terisi air, yang harus memiliki ketinggian yang cukup untuk mengambangkan es selama malam-malam di musim dingin, tapi juga cukup dangkal untuk mengangkat batu.

© daily mail

Saat malam tiba, temperatur di wilayah itu menjadi turun. Kolam yang berisi air itu kemudian membeku. Lembaran-lembaran es pun terbentuk, menyerupai kaca-kaca jendela, yang cukup tipis untuk bergerak bebas, tapi juga harus agak tebal untuk mempertahankan kekuatannya.

Saat hari mulai cerah, es mulai mencair dan kemudian pecah menjadi gumpalan-gumpalan yang mengambang, dengan angin yang berhembus tipis saja di atas kolam luas itu, ditambah licinnya es yang mulai mencair, batu-batu yang berada di atas kolam terdorong. Meninggalkan jejak di lumpur lunak yang berada di bawah permukaan.

" Pada 21 Desember 2013, es pecah sekitar tengah hari, dengan terdengar suara retakan yang datang dari seluruh permukaan yang membeku. Saya bilang kepada Jim, ini dia," kata Richard Norris.

 

8 dari 9 halaman

Fenomena ini telah membalikkan teori-teori yang sebelumnya banyak bermunculan, seperti kekuatan badai, setan debu, alga licin, atau lembaran es yang tebal, yang mempengaruhi pergerakan batu itu.

Sebaliknya, batu-batu itu bergerak di bawah angin spoi-spoi, yang berhembus 3 hingga 6 meter perdetik dan didorong dengan es yang tebalnya hanya 3 hingga 5 milimeter saja. Ukuran yang sangat mustahil untuk mengangkat batu-batu besar. Namun, es tipis itu telah mengurangi gesekan dengan permukaan tanah.

Menurut pengamatan, batu-batu itu bergerak lamban, hanya sekitar 2 hingga 6 meter per menit. Sebuah pergerakan yang nyaris tak bisa dilihat dari kejauhan. " Ada kemungkinan wisatawan benar-benar melihat ini terjadi tanpa disadari," kata Jim Norris.

Batu-batu itu bergerak ke tempat lain antara beberapa detik sampai16 menit. Dalam salah satu kesempatan, para peneliti mengamati batu yang berada pada bidang seluas tiga kali lapangan bola. Batu itu bergerak terus menerus hingga jarak sekitar 60 meter, sebelum akhirnya berhenti.

 

9 dari 9 halaman

Para peneliti yakin bebatuan itu telah berkali-kali bergerak sebelum akhirnya mencapai tempat terakhir. Mereka menduga pergerakan terakhir sebelumnya terjadi pada 2006. " Sehingga batu dapat bergerakhanya seperjuta waktu saja," kata Profesor Lorenz.

" Ada juga bukti bahwa frekuensi gerakan batu, yang membutuhkan malam yang dingin untuk membentuk es, kemungkinan telah menurun sejak tahun 1970 karena perubahan iklim," tambah Lorenz.

Lantas, dengan temuan itu, apakah misteri batu bergerak di Lembah Kematian telah terungkap? " Kami mendokumentasikan lima peristiwa pergerakan batu dalam dua setengah bulan di kolam itu dan beberapa diantaranya melibatkan ratusan batu," ujar Norris.

" Jadi kami telah melihat bahwa meskipun di Death Valey, yang terkenal panas, es mengambang merupakan kekuatan besar dalam pergerakan batu," tambah Norris. Namun para ilmuwan itu sebelumnya belum pernah melihat batu-batu besar bergerak dengan mekanisme seperti yang ditemui di Lembah Kematian ini.

Join Dream.co.id