WTO Tangguhkan Paten Vaksin Covid, Cerita Sarah Gilbert Tolak Hak Paten Agar Harga Vaksin Murah

News | Senin, 4 Juli 2022 20:46

Reporter : Edy Haryadi

Harga vaksin buatannya cuma seharga Rp 56 ribu per dosis.

Dream – Stadion Wimbeledon, London, Inggris, Senin, 28 Juni 2018. Sore hari itu nampak cerah. Stadion dipenuhi oleh ribuan penonton yang tidak menggunakan masker. Mereka tengah menunggu pertandingan pembukaan di lapangan tengah antara juara bertahan tenis, Novak Djokovic, dan penantangnya, petenis Jack Draper dari Inggris.

Di saat ini, penyiar stadion mewartakan ke penonton ada  tamu undangan khusus yang berada di kotak kerajaan di Centre Court.  Mereka adalah penyumbang dana untuk pengembangan dana vaksin Covid-19. termasuk " pemimpin riset yang telah mengembangkan vaksin anti-Covid" .

Menurut Sky News, sang penyiar  tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. karena sorakan dan tepuk tangan super meriah langsung  membahana  di arena olahraga tenis terkenal di dunia itu, menutupi suara si penyiar.

Di tengah sorakan meriah itu fokus hadirin menyasar kepada seorang wanita setengah baya, mengenakan kaca mata, berjaket merah dan baju putih dengan rambut yang lurus tergerai.

Untuknya, tepuk tangan itu berlangsung panjang. Seorang penonton ada yang berdiri seraya bertepuk tangan. Tingkahnya ini  kemudian diikuti para penonton  lainnya. Ribuan penonton pun berdiri sembari bertepuk tangan. Mereka memberi penghormatan pada wanita berkamata dan berjaket merah itu.

 Sarah Gilbert saat menerima standing ovation di Stadion Wimbeldon© The Bridge

(Sarah Gilbert saat menerima standing ovation dari penonton tenis Wimbledon/The Bridge)

Wanita berjaket merah itu adalah Dame Sarah Gilbert. Namanya Sarah Gilbert. Tambahan Dame itu merupakan gelar ningrat kehormatan dari Kerajaan Inggris yang diberikan kepadanya oleh Ratu Inggris tahun 2021. Gelar ini untuk menghormati ketulusannya dalam mengembangkan vaksin Oxford/AstraZeneca. Vaksin inilah yang membuat para penonton sore itu bisa bebas menonton pertandingan tenis di Inggris tanpa menggunakan masker.

Bukan hanya penemuannya itu yang menggerakan hati penonton memberikan penghormatan besar. Melainkan juga ketulusan Profesor Sarah Gilbert untuk tidak mengklaim hak paten atas temuan vaksin Covid-19 buatan Universitas Oxford yang dipimpinnya. Dengan demikian, dia melepas haknya atas ratusan triliun yang bisa saja dia dapat secara pribadi berkat vaksin ini.

Sarah Gilbert mengikuti jejak Jonas Salk, penemu vaksin polio, yang tidak mematenkan hasil temuannya. Padahal Jonas Salk berpotensi menerima penghasilan sampai Rp 103 triliun untuk vaksin polio temuannya.

“ Sebagai orang yang menemukan vaksin yang sangat dibutuhkan sekarang, saya bisa meraup untung besar. Saya menolak mematenkan vaksin, selain mendapatkan royalti atas kerja keras tim,” ujar Sarah Gilbert, mengungkapkan tekadnya.

" Saya tidak ingin mengajukan paten penuh, karena saya ingin berbagi manfaat intelektual dengan siapa pun yang dapat memproduksi vaksin mereka sendiri," kata Gilbert seperti dikutip The Star.

Sejalan dengan pemikiran Sarah Gilbert, AstraZeneca pun akhirnya meneken persetujuan dengan Sarah Gilbert dan Universitas Oxford untuk tidak mengambil profit dari vaksin Covid buatan mereka.

" Itu kesepakatan yang kami miliki dengan Universitas Oxford," kata juru bicara AstraZeneca, seraya mengatakan mereka baru akan menentukan harga setelah pandemi Covid-19 usai, seperti dikutip Kaiser Health News.

Keputusan ini akhirnya berdampak pada harga jual vaksin AstraZeneca yang paling murah dibandingkan harga vaksin Covid-19 di seluruh dunia. Vaksin Oxford/AstraZeneca hanya dijual Rp 56.000 per dosis.

Bandingkan dengan vaksin buatan Johnson & Johnson dan Sputnik V seharga Rp 141.000, atau buatan Sinovac sebesar Rp 200.000, Novavax yang Rp 226.000, Pfizer-BioNTech seharga Rp 283.000, dan Moderna yang harganya Rp 526.000 per dosis.

Maka, miliaran vaksin Oxford/AstraZeneca pun dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Terutama ke negara-negara miskin dan berkembang yang tak mampu membeli vaksin dengan harga mahal. Padahal, efektivitas vaksin Oxford mencapai 97 persen, tak kalah dengan vaksin berharga mahal lainnya.

Atas ketulusan hatinya itu pula warga Inggris memberi tepuk tangan penghormatan secara terbuka pada Sarah Gilbert dan tim peneliti Oxford yang dipimpinnya. Sebuah standing ovation  yang amat menyentuh.

***  

Sarah Catherine Gilbert lahir di Inggris pada April 1962. Usianya kini 60 tahun.

Sarah Gilbert mengikuti pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kettering High School, kota Kettering, Northamptonshire, Inggris. Sejak SMA dia sudah menyadari bahwa kelak  ingin bekerja di bidang kedokteran.

Kemudian, Gilbert lulus dengan mendapat gelar Bachelor of Science atau Sarjana Sains bidang ilmu biologi dari University of East Anglia di Norwich, Inggris.

Gilbert melanjutkan studinya ke University of Hull untuk mendapat gelar doktor, dalam bidang  genetika dan biokimia.

Setelah mendapatkan gelar doktoral, Gilbert sempat bekerja sebagai peneliti pascadoktoral bidang industri di Yayasan Riset Industri Pembuatan Bir (Brewing Industry Research Foundation). Setelah itu, dia pindah ke Leicester Biocentre.

Tahun 1990, Gilbert sempat bergabung dengan Delta Biotechnology, sebuah perusahaan biofarmasi yang memproduksi obat-obatan di Kota Nottingham.

Pada tahun 1994, Gilbert kembali ke dunia akademis. Ia bergabung dengan mentor-nya Adrian V. S. Hill, di sebuah laboratorium Universitas Oxford. Penelitian awal yang dia kerjakan ialah mengembangkan vaksin  malaria.

Gilbert adalah peneliti dan seorang ibu. Pada tahun 1998, Gilbert melahirkan anak kembar tiga. Ini yang membuat suaminya, memutuskan untuk meninggalkan karirnya. Ia menjadi bapak rumah tangga sekaligus pengurus anak-anak mereka,  demi mendukung karir Gilbert.
Tahun 2004, Gilbert sudah menjadi pengajar tetap dan ahli vaksin di Universitas Oxford.

Tahun 2008 merupakan tahun pertama Gilbert melakukan uji klinis. Ia memantau gejala harian pasien influenza menggunakan virus Influenza A subtipe H3N2. Hasil studi pertamanya ini menemukan adanya rangsangan sel T sebagai respons terhadap virus flu, dan bahwa stimulasi ini dapat melindungi seseorang dari penyakit flu.

Penelitian tersebut menemukan hasil bahwa vektor adenoviral ChAdOx1 dapat digunakan untuk membuat vaksinasi yang melindungi manusia dari sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) yang ada pada tikus, dan mampu menginduksi respon imun terhadap MERS. Vektor yang sama juga digunakan untuk membuat vaksin melawan virus Nipah.

Tahun 2010, Gilbert diangkat menjadi seorang profesor di Jenner Institute.

Pada Januari 2020, ketika ilmuwan China mulai mempublikasikan genetika virus Covid-19, Gilbert kemudian langsung bekerja untuk  pengembangan vaksin baru untuk melindungi manusia dari virus Corona sejak awal terjadinya pandemi Covid-19.

Dia menjadi pemimpin dalam pekerjaan ini untuk mencari vaksin Covid-19, bersama dengan Andrew Pollard, Teresa Lambe, Sandy Douglas, Catherine Green dan Adrian Hill.

 Sarah Gilbert dan koleganya© PT

(Sarah Gilbert dan koleganya/PT)

Seperti pekerjaan sebelumnya, vaksin COVID-19 menggunakan vektor adenoviral, yang dapat merangsang respons sistem kekebalan tubuh terhadap lonjakan protein virus corona.

Rencana awal uji klinis pada hewan dilakukan awal bulan Maret 2020. Selanjutnya merekrut 510 responden untuk tujuan uji coba fase I  dan II yang dimulai pada 27 Maret 2020.

Pada September 2020, Gilbert menyatakan bahwa vaksin AZD1222, sudah diproduksi oleh perusahaan AstraZeneca, sementara uji coba fase III sedang berlangsung di bulan September 2020. Vaksin itulah yang kini dikenal sebagai vaksin Oxford/AstraZeneca.

***

Pada bulan Maret 2021, Gilbert menerima anugerah penghargaan Albert Medal untuk jasanya dalam mengembangkan vaksin Oxford/AstraZeneca.

WTO Tangguhkan Paten Vaksin Covid, Cerita Sarah Gilbert Tolak Hak Paten Agar Harga Vaksin Murah© Dream

Gilbert yang menciptakan vaksin Oxford/Astrazeneca mengatakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepadanya adalah " pengakuan" atas pekerjaan yang telah dilakukan seluruh timnya selama setahun terakhir.

Dia telah dianugerahi Albert Medal untuk karyanya. Penghargaan ini  diberikan setiap tahun kepada seseorang yang telah memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Penghargaan serupa sebelumnya telah diberikan kepada Sir Winston Churchill dan Sir Stephen Hawking.

Prof Gilbert bangga atas peghargaaan itu, tapi ia pun menambahkan: " Saya pikir pengakuannya bukan hanya atas apa yang telah saya lakukan, tetapi juga atas usaha yang telah dilakukan oleh seluruh tim yang mengerjakan vaksin ini selama sekitar satu tahun terakhir."

Prof Gilbert, yang merupakan Profesor bidang Vaksinologi di Universitas Oxford, dengan demikian telah diakui atas jasanya dalam inovasi kolaboratif untuk kebaikan bersama secara global.

" Saya selalu ingin bekerja dalam penelitian medis dan melakukan sesuatu yang melalui sains dan penelitian akan meningkatkan kesehatan manusia" , katanya kepada ITV News.

" Saya sangat senang bahwa saya akhirnya bisa melakukan itu, setelah bertahun-tahun melakukan penelitian," paparnya.

 Sarah Gilbert saat menerima gelar Dame dari Ratu Inggris© ITV

(Sarah Gilbert saat menerima gelar Dame dari Ratu Inggris/ITV)

Namun, Prof Gilbert mengungkapkan ada titik di awal karirnya ketika dia berada di ambang ingin menyerah pada  sains.

Dia berkata: " Sulit untuk berkarir di bidang sains. Ada tahapan saat segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik. Ada kesulitan dalam menyelesaikan penelitian.

" Tapi sesudah saya memikirkan lebih dalam, saya malah berpikir untuk melakukan sesuatu yang lain. Memutuskan saya benar-benar ingin mencobanya lagi dan saya sangat senang sekarang saya bertahan dengan kesulitan itu," akunya.

Prof.Gilbert memiliki anak kembar tiga. Ia mengatakan pengalamannya membesarkan anak triplet memberinya kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan profesionalnya.

Dia berkata: " Jika Anda dapat melewati membesarkan balita  ketiganya pada usia yang sama, sambil tetap bekerja penuh waktu dan mempertahankan karir, maka Anda tahu bahwa Anda dapat melakukan hal-hal yang sulit.

" Sangat sulit untuk melakukan hal seperti itu, tetapi wanita melakukan hal semacam itu. Dan saya pikir itu harus memberi kita kepercayaan diri bahwa kita dapat melakukan hal-hal yang lebih sulit di bagian lain dari karir kita," jelasnya, seraya menyemangati para wanita karir yang memiliki perjuangan yang sama sepertinya.

Dia penerima medali Albert Medal ke-156, yang dilembagakan pada tahun 1864 sebagai peringatan untuk Pangeran Albert, mantan Presiden Lembaga Royal Society of Arts.

Penerima sebelumnya berkisar dari ilmuwan hingga seniman hingga juru kampanye sosial, termasuk: Winston Churchill pada tahun 1945 karena memimpin sekutu menuju kemenangan, Marie Curie pada tahun 1910 untuk penemuan radium, Alexander Graham Bell pada tahun 1902 untuk penemuan telepon, Stephen Hawking pada tahun 1999 untuk meningkatkan kesadaran publik tentang fisika dan Tim Berners-Lee pada tahun 2002 untuk pembuatan World Wide Web

“ Albert Medal dari Royal Society of Arts merayakan inovasi terbaik, dan vaksin Oxford adalah kemenangan besar bagi kreativitas, penelitian, dan pengembangan di Inggris. Jalur yang ditetapkan oleh Profesor Gilbert dan timnya menunjukkan bahwa sektor publik, swasta, dan filantropi dapat berkolaborasi untuk kepentingan publik,” kata Matthew Taylor, Kepala Eksekutif Royal Society of Arts.

***

Dame Sarah Gilbert juga membuat buku bersama koleganya Dr.Catherine Green berjudul “ Vaxxers”. Buku ini mendokumentasikan tentang kesulitan mereka membuat vaksin Oxford/AstraZeneca.

 Dr Catherine Green dan Profesor Sarah Gilbert© Nature

(Dr Catherine Green dan Profesor Sarah Gilbert/The Nature)

Selama ini Dame Sarah Gilbert dan Dr.Catherine Green tidak pernah mencari pusat perhatian. Sebagai dua ilmuwan terkemuka di balik pengembangan vaksin Oxford, jauh sebelum mulai diproduksi secara massal oleh AstraZeneca, mereka terbiasa bekerja di belakang layar daripada di bawah sorotan media dunia.

Pekerjaan mereka  dalam membuat vaksin Covid yang menjadikan nama mereka dikenal luas. Dame Sarah memimpin tim pengembangan awal, sementara Dr.Green bertanggung jawab untuk memproduksi batch pertama vaksin agar dapat diuji dalam uji klinis. Kini pasangan tersebut harus menyesuaikan diri pula untuk menjadi  kesayangan media massa.

Dame Sarah Gilbert menulis dalam buku itu bahwa, sebagai ibu dari anak kembar tiga, dia sangat siap menghadapi tekanan dari upaya vaksin.

“ Menjadi ibu dari anak kembar tiga dengan pekerjaan penuh waktu mungkin memberi saya manfaat yang baik untuk tantangan tahun 2020. Tiba-tiba menjadi pencari nafkah utama untuk keluarga yang terdiri dari lima orang, dengan tidur beberapa jam setiap malam: itu adalah tekanan,” katanya seperti dikutip inews.co.uk.

Ketika anak-anaknya masih balita, dia berada di bawah begitu banyak tekanan sehingga dia pernah menderita amnesia sesaat. Ia melupakan identitasnya sendiri saat mengemudi untuk bekerja suatu pagi.

“ Saya tidak tahu jalan mana yang saya inginkan, karena saya tidak tahu ke mana saya pergi,” tulisnya. “ Saya juga tidak tahu di mana saya berada, mengapa saya berada di dalam mobil, atau siapa diri saya,” kenangnya soal amnesia sesaat akibat stres pekerjaan dan kehidupan jungkir balik sebagai ibu dalam membesarkan triplet.

Ketiga anak kembar tiga itu kini telah dewasa. Mereka pun terdaftar dalam uji coba vaksin yang dibuat ibu mereka.

 Sarah Gilbert dan boneka barbie yang khusus dibuat untuk mengenang jasanya© CNN

(Sarah Gilbert dan boneka barbie yang khusus dibuat untuk mengenang jasanya/CNN)

Di buku Vaxxers, Dame Sarah Gilbert mengingat momen emosional yang langka dalam pekerjaan. “ Untuk satu wawancara, saya telah dikirimi daftar 16 pertanyaan untuk saya jawab. Pada pertanyaan terakhir adalah 'Apa yang Anda tunda selama tahun 2020 yang ingin Anda lakukan setelah ini selesai?'”

“ Bahkan memikirkan  pertanyaan itu ketika membaca email, membuat mata saya berkaca-kaca. Saya mengatakan kepada mereka bahwa jika mereka menanyakan pertanyaan itu kepada saya (secara langsung), saya akan menangis. Dinding antara diri profesional dan diri pribadi saya runtuh. Jadi saya menyiapkan jawaban yang bisa saya berikan tanpa menjadi emosional: 'Saya ingin mengajak keluarga saya berlibur ke tempat yang menyenangkan',” ujarnya.

Upaya Dame Sarah sejak awal pandemi tidak luput dari perhatian publik. Ketika dia menghadiri turnamen tenis Wimbledon tahun 2021, dia menerima tepuk tangan meriah dari penonton, sebuah momen yang dia gambarkan sebagai “ benar-benar luar biasa”.

Dia menambahkan: " Saya tidak menganggap tepuk tangan meriah itu sebagai ditujukan hanya untuk saya. Itu adalah rasa terima kasih untuk vaksin… dan tim yang mengujinya,  membuatnya dan menyebarkannya kepada banyak orang."

Pada akhirnya tepuk tangan di arena lapangan tenis Wimbledon itu mungkin adalah pertanda. Tanda bahwa masyarakat tak lupa atas ketulusannya. Termasuk melepas hak paten, sehingga vaksin buatan Oxford menjadi vaksin dengan harga paling terjangkau di seluruh dunia. Dan, membantu rakyat Inggris dan miliaran penduduk miskin dunia bisa mengakses vaksin yang aman, efektif, sekaligus murah. Profesor Sarah Gilbert memang manusia langka dengan kebaikan yang luar biasa! (eha)

Terkait
Join Dream.co.id