Ini Biang Kelangkaan Vaksin Meningitis yang Sebabkan Jemaah Umroh Indonesia Gagal ke Tanah Suci

Stories | Rabu, 28 September 2022 15:00

Reporter : Okti Nur Alifia

BPOM bersama instansi lain berupaya mencari peluang alternatif untuk mengatasi kelangkaan vaksin meningitis.

Dream - Kelangkaan vaksin meningitis membuat puluhan jemaah umroh gagal berangkat ke Tanah Suci. Sebab, vaksin meningitis masih menjadi syarat bagi calon jemaah umroh.

Untuk mengatasi masalah itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama instansi lain berupaya mencari peluang alternatif untuk mengatasi kelangkaan vaksin meningitis.

" Perlu dilakukan rapat koordinasi bersama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama untuk mencari solusi dengan pemasukan jalur khusus vaksin meningitis untuk jemaah umroh," kata Kepala BPOM, Penny K Lukito, saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX DPR, dikutip dari merdeka.com, Rabu 27 September 2022.

Menurut Penny, selama ini pengadaan vaksin meningitis dilakukan melalui empat jalur, yaitu dari produsen PT Mersifarma dengan merek dagang Formening, Produksi PT Bio Farma merek Menivax, Produsen Glaxo merek Menveo, dan produksi PT Aventis dengan merek Menactra.

Kelangkaan vaksin meningitis untuk jemaah umroh, kata dia, merupakan imbas dari importasi vaksin dari produsen-produsen itu yang sedang terkendala. Berdasar catatan BPOM, ketersediaan vaksin meningitis di Tanah Air saat ini berkisar 66 vial di tengah permintaan vaksin yang cukup tinggi dari jamaah umroh.

Ini Biang Kelangkaan Vaksin Meningitis yang Sebabkan Jemaah Umroh Indonesia Gagal ke Tanah Suci
Kepala BPOM RI (Liputan6.com/Faizal Fanani)
2 dari 6 halaman

Laporan BPOM Tentang 4 Produsen Vaksin

" Formening sudah dapat nomor izin edar, tapi ada masalah diakses. Saat ini produsen belum mengadakan impor produk karena terdapat temuan inspeksi Good Manufacturing Practices (GMP) di negara asalnya oleh otoritas setempat," kata Penny.

GMP adalah suatu pedoman cara memproduksi pangan yang baik dengan tujuan agar produsen menghasilkan produk yang bermutu sesuai tuntutan konsumen, yang berarti produk tersebut terjamin mutunya dan aman dikonsumsi.

Untuk vaksin Menivax, Penny menjelaskan sudah memiliki izin edar BPOM pada Agustus 2022. BPOM sudah menerbitkan surat keterangan impor.

" SK ini digunakan Bio Farma untuk urus ekspor dari China. Berdasarkan komunikasi dengan Bio Farma, mereka tidak siap dengan tingginya permintaan Vaksin Meningitis sehingga tidak menyiapkan jauh hari," katanya.

Bio Farma sebagai produsen Menivax, lanjut Penny, telah berkomitmen melakukan importasi secara bertahap vaksin tersebut dari Oktober 2022 hingga Januari 2023 dengan total 675 dosis.

3 dari 6 halaman

Lain halnya dengan vaksin Menveo yang mempunyai permasalahan pada pengadaan dikarenakan produsen menginformasikan bahwa produk mereka sudah lama tidak beredar. " Pendaftar sudah konfirmasi ke global, tapi belum ada jawaban dari global," katanya.

Vaksin Menactra, terakhir impor pada 11 Juli 2022. Berdasarkan catatan BPOM sebanyak 6.600 boks. " Tapi saat ini stok vaksinnya tinggal 66 vial di Indonesia," katanya.

Penny menambahkan, Aventis selaku pemilik izin edar akan mendatangkan stok 5.400 vial ke Indonesia pada akhir Oktober 2022.

" Kami cari lagi cara lain untuk percepatan pengadaan vaksin Meningitis, bisa melalui mekanisme jalur khusus (Special Access Scheme/SAS). Saya akan minta Deputi 1 BPOM cari sumber lain di jalur internasional," katanya.

4 dari 6 halaman

Kemenag Tegaskan Vaksin Meningitis Masih Jadi Syarat Umrah dari Pemerintah Arab Saudi

Dream - Direktur Umrah dan Haji Khusus (UHK) Kementerian Agama (Kemenag) Nur Arifin menegaskan vaksin meningitis masih menjadi syarat keberangkatan ibadah umrah oleh Pemerintah Arab Saudi. Dikatakannya, Arab Saudi belum mencabut aturan tersebut.

“ Sampai sekarang Saudi masih mewajibkan vaksin meningitis. Belum ada regulasi baru yang mencabut aturan ini,” katanya kepada Dream, Senin, 26 September 2022.

“ Kita menghormati dan mentaati aturan Saudi,” lanjutnya.

Aturan ini tertuang pada dokumen yang dilampirkan Arifin tentang “ Persyaratan Kesehatan dan Rekomendasi untuk Wisatawan ke Arab Saudi untuk Haji dan Umrah – 1443H (2022)”.

Dalam dokumen tersebut tertera instruksi dari Pemerintah Arab Saudi yang berbunyi, “ Kementerian Kesehatan di Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan dokumen ini untuk menangani kesehatan persyaratan dan rekomendasi bagi pengunjung yang bepergian ke Arab Saudi untuk keperluan umrah, Haji, atau pekerjaan musiman di daerah haji dan umrah selama 1443H (2022).”

 

   

5 dari 6 halaman

Adapun syarat vaksin meningitis dituliskan dalam poin 1.2 tentang vaksinasi yang diperlukan salah satunya yakni Meningococcal Meningitis. Dengan ketentuannya sebagai berikut:

- Semua pelancong, domestik atau internasional, dewasa dan anak-anak berusia di atas 1 tahun yang tiba untuk umrah, Haji atau untuk pekerjaan musiman di zona haji, diminta untuk menyerahkan sertifikat vaksinasi yang valid dengan vaksin a quadrivalent (ACYW) meningococcal diterima setidaknya 10 hari sebelum kedatangan yang direncanakan ke daerah haji dan umrah.

- Vaksinasi dengan SATU dari vaksin berikut ini dapat diterima:

   * Quadrivalent (ACYW) polysaccharide vaccine dalam 3 tahun terakhir.

   * Quadrivalent (ACYW) conjugate vaccine dalam 5 tahun terakhir.

- Bukti ilmiah saat ini menunjukkan bahwa conjugate vaccine aman dan efektif untuk yang di atas 55 tahun.

- Otoritas kesehatan di negara asal jemaah harus memastikan vaksinasi mereka dalam masa berlaku yang diperlukan dan pastikan bahwa jenis vaksin ditunjukkan dengan jelas dalam vaksinasi sertifikat. Jika jenis vaksin tidak tertera pada sertifikat, maka akan dianggap valid selama 3 tahun saja.

 

6 dari 6 halaman

Terpisah, sebelumnya Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), mengatakan bahwa beberapa waktu lalu sejumlah jemaah umrah gagal berangkat akibat kelangkaan vaksin meningitis dan buku kuning yang terjadi di Bandara Keberangkatan Juanda, Surabaya, Jawa Timur.

Kejadian ini berlangsung bahkan sebelum munculnya kelangkaan vaksin meningitis dan buku kuning.

“ Itu kejadian sebelum vaksin meningitis langka, apalagi sekarang vaksin meningitis tidak tersedia, pemerintah tidak mampu menyediakan vaksin yang dibutuhkan masyarakat yang mau ibadah,” ujarnya, kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat AMPHURI, Firman M Nur, dalam keterangan tertulis AMPHURI yang diterima Dream, Sabtu, 24 September 2022.

Terkait ketentuan vaksin meningitis dan buku kuning, Firman menegaskan, pemerintah Arab Saudi sudah melonggarkan penerapan aturan ini dalam pelaksanaan di lapangan. Malah, lanjutnya, sudah tidak ada lagi pemeriksaan terkait vaksin meningitis karena sudah tidak menjadi perhatian utama pemerintah Saudi saat menerima jemaah umroh.

“ Ini sesuatu yang dipaksakan, padahal di Saudi sudah tidak menjadi concern utama,” ujar Firman.

Join Dream.co.id