Kejinya Guru Rudapaksa Santriwati, Istri Dicuci Otak Sampai Tak Bisa Melapor

News | Jumat, 31 Desember 2021 17:00

Reporter : Ahmad Baiquni

Sang istri ternyata mengetahui perilaku keji HW namun tak bisa berbuat apa-apa.

Dream - HW, guru perudapaksa santriwati di Kota Bandung ternyata benar-benar keji. Ternyata sang istri juga mengetahui perbuatan keji HW, bahkan menyaksikan secara langsung.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Asep N Mulyana, menyebutkan fakta ini terungkap pada persidangan yang berlangsung tertutup Kamis kemarin. Muncul dugaan para korban dan istri HW sendiri telah dicuci otak.

" Jadi kalau teman-teman bertanya kenapa ini baru terungkap sekarang, kenapa istrinya tidak mau melapor, itu seperti itu (cuci otak). Di dalam istilah psikolog ada dampak dirusak fungsi otak," ujar Asep.

Menurut Asep, HW membuat kondisi kejiwaan istrinya tidak berdaya dengan cara-cara licik. Sehingga, istri pelaku tidak bisa membedakan antara benar dan salah.

" Boro-boro melapor, istrinya pun tidak berdaya," kata Asep.

Apalagi saat mendapati HW sedang melakukan tindak pelecehan seksual kepada santriwati, wanita tersebut hanya diam. Bahkan sampai meminta maaf sudah melihat suaminya melakukan kekejian tersebut.

" Bahkan, mohon maaf, ketika istri pelaku mendapati suaminya kemudian pada saat malam, tidur malam, naik ke atas dan mendapati pelaku melakukan perbuatan tidak senonoh pada koorban, dia tidak bisa apa-apa," kata dia.

Kejinya Guru Rudapaksa Santriwati, Istri Dicuci Otak Sampai Tak Bisa Melapor
Ilustrasi
2 dari 6 halaman

Tega Rudapaksa Sepupu Istri

Parahnya, kata Asep, pelaku juga melancarkan aksinya kepada salah satu santriwati yang merupakan sepupu istrinya sendiri. Malah, aksi itu dilakukan di saat sang istri sedang hamil besar sehingga mengalami guncangan kejiwaan.

" Dia melakukan itu pada saat istri si pelaku itu dalam kondisi hamil besar, jadi ada dampak psikologis terhadap istrinya itu secara luar biasa," ucap dia.

Yang lebih memprihatinkan, HW tega menyuruh istrinya ikut merawat bayi hasil hubungan gelapnya dengan para korban. Wanita itu juga hanya menurut saja.

" Karena kondisi otaknya yang dibekukan tadi, sehingga dia (istri HW) pun nurut, termasuk disuruh pelaku mengurus anak-anak yang sebetulnya dilahirkan dari perbuatan pelaku," kata Asep, dikutip dari Merdeka.com.

3 dari 6 halaman

Guru Perudapaksa Santriwati Sempat Coba Kelabui Dokter dan Bidan Saat Antarkan Korban Bersalin

Dream - Fakta lain kasus rudapaksa guru rudapaksa santriwati di Kota Bandung kembali terkuak. Pelaku ternyata pernah mengantarkan korban menjalani persalinan di fasilitas medis.

Fakta itu diungkap dua orang saksi yang berprofesi sebagai dokter dan bidan dalam persidangan tertutup yang berlangsung Selasa, 28 Desember 2021. Ternyata HW pernah berupaya mengelabui dokter dan bidan soal usia korban.

Kasipenkum Kejaksaan Tinggi Jawa barat, Dodi Gazali Emil, mengatakan dokter dan bidan yang dihadirkan sebagai saksi merupakan tenaga medis yang membantu persalinan korban. Proses persalinan dijalankan sehari sebelum HW diamankan.

" HW mendampingi salah satu korban untuk persalinan," ujar Dodi.

Menurut Dodi, dokter dan bidan yang menangani sempat curiga dengan usia korban. Kepada keduanya, HW mengatakan korban berusia 20 tahun.

" Tapi kondisi fisiknya bisa dilihat secara kasat mata, di bawah 20 tahun," ungkap Dodi.

 

4 dari 6 halaman

Yakin Bisa Kelabui Dokter

Saat itu, terang Dodi, HW yakin usahanya mengelabui dokter dan bidang berhasil. Ini lantaran korban memakai masker saat dibawa ke klinik sehingga tidak mudah dikenali.

" Datang pakai masker, dokter tahu (usia korban masih di bawah umur) setelah memeriksa," kata dia.

Dalam sidang kali ini, Dodi menerangkan ada enam orang didatangkan sebagai sebagai saksi. Selain dokter dan bidan yang menangani persalinan korban, sebagian saksi adalah keluarga HW dan ada pula orangtua korban.

" Untuk saksi ada enam orang, hadir lengkap," kata dia, dikutip dari Merdeka.com.

5 dari 6 halaman

Fakta Baru Kasus Rudapaksa Guru ke Santriwati, Korban Dikurung Agar Tak Melapor

Dream - Fakta demi fakta seputar rudapaksa 12 santriwati oleh seorang guru di Kota Bandung, HW terus terkuak. Banyak hal baru seputar kejahatan pelaku bermunculan dalam persidangan.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Asep N Mulyana, turut memantau secara langsung persidangan kasus ini. Di persidangan terkini yang digelar pada Kamis, 23 Desember 2021, terkuak pelaku melakukan segala cara agar para korban tidak melapor, mulai dari dikurung hingga diawasi aktivitas sosialnya.

Parahnya, ada korban yang mengalami rudapaksa sampai empat kali. Ini berdasarkan keterangan salah satu korban yang dihadirkan dalam persidangan tertutup di Pengadilan Negeri Kota Bandung.

" Salah satu saksi yang menyatakan bahwa mereka disetubuhi oleh si pelaku bahkan sampai empat kali," ujar Asep.

Para korban, terang dia, korban mengalami depresi namun tidak bisa melaporkan kekerasan seksual yang mereka terima. Karena korban ditempatkan pada ruangan tertutup rapat dan terkunci.

" Didukung oleh keterangan saksi lain kalau tempat itu tertutup," ucap dia.

 

6 dari 6 halaman

Aktivitas Sangat Tertutup

Fakta lain yang juga didapat adalah terdakwa memiliki dua lembaga pendidikan yang masing-masing berlokasi di Antapani dan Cibiru. Aktivitas dua lembaga ini berjalan secara tertutup dan para penghuninya jarang terlihat berbaur dengan masyarakat.

" Masyarakat tidak pernah tahu kalau di situ ada kegiatan keagamaan dan sebagainya," kata dia.

Asep juga mengungkapkan lembaga pendidikan yang dikelola HW di Antapani ternyata merupakan sumbangan dari pihak ketiga. Tetapi, terdakwa malah menyalahgunakan amanah tersebut.

" Karena pemilik tidak tinggal di sana dan mempersilakan tempatnya digunakan untuk kegiatan sosial atau ibadah tapi oleh tersangka disalahgunakan," ucap Asep, dikutip dari Merdeka.com.

Join Dream.co.id