Hukum Selamatan Orang Meninggal Menurut 4 Mazhab Islam, Antara Kebolehan dan Larangan

Stories | Selasa, 9 Agustus 2022 14:00

Reporter : Arini Saadah

Inti dari selamatan orang meninggal adalah mendoakan dan mohon ampunan kepada Allah agar orang yang telah mendahului kita diterima di sisi-Nya.

Dream - Islam masuk ke Indonesia dengan proses akulturasi yang menjadi sebab masyarakat menerimanya dengan sukarela. Sebelum Islam, Indonesia khususnya pada masyarakat Jawa, telah memegang teguh kebudayaan yang adiluhung.

Tradisi spiritual sudah melekat pada masyarakat Jawa pra-Islam. Sehingga saat Islam datang, para ulama penyebar agama Islam di Indonesia melakukan proses akulturasi.

Persilangan tradisi Jawa dengan agama Islam ini terbukti dengan banyaknya tradisi yang masih dilaksanakan hingga sekarang, salah satunya adalah selamatan orang meninggal.

Banyak orang menyebut selamatan orang meninggal tidak dilakukan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Tentu saja benar, sebab kebudayaan di Arab dan Indonesia khususnya Jawa pun sangat jauh berbeda.

Inti dari selamatan orang meninggal adalah mendoakan dan mohon ampunan kepada Allah agar orang yang telah mendahului kita diterima di sisi-Nya. Isi dari selamatan orang meninggal pun adalah bacaan Al-Quran dan doa-doa Islam.

Tradisi yang juga dikenal dengan istilah tahlilan ini biasanya dilakukan dengan mengundang para tetangga untuk ikut serta mendoakan orang yang sudah meninggal.

Lantas bagaimana hukum selamatan orang meninggal menurut empat mazhab dalam Islam? Ikuti penjelasan selengkapnya berikut ini, dirangkum Dream dari laman NU Online.

Hukum Selamatan Orang Meninggal Menurut 4 Mazhab Islam, Antara Kebolehan dan Larangan
Ilustrasi Selamatan Orang Meninggal Dengan Membaca Yasin Dan Tahlil. (Foto: Shutterstock.com)
2 dari 6 halaman

Hadis tentang Selamatan Orang Meninggal

Menurut sudut pandang Islam, selamatan orang meninggal atau yang lebih dikenal dengan sebutan tahlilan merupakan penyelenggaraan doa bersama untuk orang yang sudah meninggal.

Tahlilan berasal dari hata hallala, yuhallilu, tahlilan yang artinya membaca kalimat tahlil 'Laa ilaha illallah'. Dari istilah inilah kemudian merujuk pada tradisi membaca doa-doa yang ada di dalam Al-Quran, dengan harapan pahalanya dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal.

Biasanya acara tahlilan dilaksanakan selama tujuh hari dari hari meninggalnya seseorang. Lalu kemudian acara tersebut dilaksanakan lagi pada hari ke-40, ke-100, ke-1000 hingga peringatan hari kematiannya.

Pelaksanaan tahlilan ini dilakukan karena merujuk pada beberapa hadis, seperti hadis yang diriwayatkan Abu Dawud berikut ini:

“ Sahabat Ma’qal bin Yasar ra bahwa Rasulallah SAW bersabda: Surat Yasin adalah pokok dari al-Quran, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian.” (HR. Abu Dawud)

Seentara itu dari Abul Walid, Ibnu Rusyd juga mengatakan sebagai berikut:

“ Seseorang yang membaca ayat al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut.”

3 dari 6 halaman

Hukum Selamatan Orang Meninggal Menurut 4 Mazhab

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum selamatan orang meninggal. Tradisi ini dalam Islam lebih dikenal sebagai menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran dan kalimat thayyibah 'laa ilaaha illallah' kepada mayit. Berikut penjelasan ulama dari keempat mazhab mengenai tradisi selamatan orang meninggal.

Pendapat Pertama: Boleh

Pendapat pertama ini berasal dari ulama mazhab Hanafi, sebagian ulama mazhab Maliki, ulama mazhab Syafi’i dan ulama mazhab Hanbali. Para ulama ini menegaskan, menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran serta kalimat thayyibah kepada mayit hukumnya boleh-boleh saja, dan pahalanya sampai kepada mayit.

Syekh Az-Zaila’i dari mazhab Hanafi menyatakan pendapatnya dalam kitab Tabyinul Haqaiq Syarh Kanzud Daqaiq bahwa seseorang diperbolehkan menjadikan pahala amalnya untuk orang lain, menurut pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah, baik berupa sholat, puasa, haji, sedekah, bacaan Al-Quran, Dzikir, atau sebagainya, berupa semua jenis amal baik. Menurutnya semua pahala dari ibadah-ibadah itu sampai kepada mayit dan bermanfaat baginya.

4 dari 6 halaman

 Ilustrasi© Shutterstock.com

Syekh Ad-Dasuqi dari mazhab Maliki dalam kitabnya Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabir menyatakan, " Jika seseorang membaca Al-Quran, dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada mayit, maka hal itu diperbolehkan, dan pahala bacaannya sampai kepada mayit."

Senada dengan hal itu, Syekh Ibnu Qudamah dari mazhab Hanbali mengatakan dalam kitab Al-Mughni:

" Dan apapun ibadah yang dia kerjakan, serta dia hadiahkan pahalanya kepada mayit muslim, akan memberi manfaat untuknya. Insya Allah. Adapun doa, istighfar, sedekah, dan pelaksanaan kewajiban maka saya tidak melihat adanya perbedaan pendapat (akan kebolehannya)."

Selain itu, Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Majmu’ul Fatawa juga membolehkan menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran dan kalimat thayyibah kepada mayit.

5 dari 6 halaman

Pendapat ke Dua: Tidak Boleh

Pendapat kedua ini berkebalikan dengan pendapat pertama, yaitu menyatakan ketidakbolehan menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran kepada mayit pada acara selamatan orang meninggal.

Sebagian ulama mazhab Maliki yang lain menyatakan, pahala bacaan Al-Quran dan kalimat thayyibah tidak sampai kepada mayit. Oleh karenanya hukum selamatan orang meninggal tidak diperbolehkan.

Syekh Ad-Dasuqi dari mazhab Maliki dalam kitab Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabir menulis:

" Penulis kitab At-Taudhih berkata dalam kitab At-Taudhih, bab Haji: Pendapat yang diikuti dalam mazhab Maliki adalah bahwa pahala bacaan tidak sampai kepada mayit. Pendapat ini diceritakan oleh Syekh Qarafi dalam kitab Qawaidnya, dan Syekh Ibnu Abi Jamrah."

6 dari 6 halaman

Kesimpulan

Perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran dan kalimat thayyibah kepada mayit dalam acara selamatan orang meninggal adalah yang wajar.

Dapat diambil kesimpulan bahwa mayoritas ulama meliputi ulama mazhab Hanafi, sebagian ulama mazhab Maliki, ulama mazhab Syafi’i, ulama mazhab Hanbali dan Syekh Ibnu Taimiyyah membolehkan inti dari tradisi selamatan orang meninggal. Sedangkan sebagian ulama mazhab Maliki yang lain melarangnya dengan keyakinan pahalanya tidak akan sampai kepada mayit.

Demikian itulahh penjelasan tentang hukum selamatan orang meninggal menurut keempat mazhab dalam Islam. Dengan adanya ikhtilaf tersebut, tentu saja dikembalikan kepada setiap individu untuk mengikuti pendapat yang sesuai keyakinan. Akan tetapi tidak boleh saling menuduh sesat kepada saudara sesama Muslim, sebab setiap mazhab memiliki dasar hukum yang kuat.

Join Dream.co.id