Remaja Bisa Jadi Pemberontak Jika Orangtua Terlalu Kaku

Parenting | Selasa, 9 Agustus 2022 18:48

Reporter : Mutia Nugraheni

Jangan pernah menganggap masa remaja yang dialami anak saat ini sama seperti ketika yang dialami orangtua dulu.

Dream - Masa remaja bukanlah hal mudah, momen di mana anak memasuki tahapan baru dalam hidupnya. Pemikirannya kian kompleks, mencari identitas, mendapat tekanan dari lingkungan serta perubahan hormon secara drastis.

Jangan pernah menganggap masa remaja yang dialami anak saat ini sama seperti ketika yang dialami orangtua dulu. Memang, banyak sekali pengaruh negatif yang bisa terjadi pada anak remaja, tetapi pastikan komunikasi tetap terjalin.

Hindari bersikap kaku dan menutup dialog. Remaja sudah memiliki argumen dan pemikiran sendiri, sikap yang kaku dan tak mau mendengarkan pendapatnya malah bisa menjauhkannya.

" Penelitian mengungkap bahwa orangtua yang memberi kesempatan anak untuk berdebat dan bernegosiasi, dibandingkan yang menuntut kepatuhan memiliki anak yang lebih sehat secara psikologis," kata Emily Edlynn, Ph.D., seorang psikolog klinis.

Remaja Bisa Jadi Pemberontak Jika Orangtua Terlalu Kaku
Remaja
2 dari 7 halaman

Aturan Ketat Seperti Bumerang

Aturan yang ketat dengan melarang anak melakukan hal tertentu kadang efeknya malah seperti bumerang. Ini terkait reaktansi psikologis di mana ketika seseorang disuruh untuk tidak melakukan sesuatu, akan meningkatkan keinginan mereka untuk melakukannya. Hal itu karena mereka merasa terancam kebebasannya.

 Sulitnya Negosiasi dengan Anak Remaja, Coba 3 Cara Ini© MEN

" Ketika orangtua mempertahankan aturan ketat tanpa mengakomodasi kebutuhan remaja yang aspek kemandirian mulai berkembang, bisa muncul isu kesehatan mental dan perilaku berisiko seperti penggunaan narkoba," kata Edlynn.

 

3 dari 7 halaman

Buka Negosiasi

Hal tersebut karena ketika seorang remaja merasa tidak bisa secara terbuka memperdebatkan aturan, mereka lantas mencari cara lain menegaskan kemandirian dan sikapnya dengan cara yang kurang sehat. Berusahalah untuk membuka diskusi dan melihat sudut pandang anak remaja.

" Untuk mendukung perkembangan psikologis yang sehat pada remaja sambil mempertahankan batasan yang sehat, ajukan pertanyaan terbuka. Ini untuk memahami perspektif mereka dan buatlah kesepakatan bersama. Proses ini mendorong pemikiran kritis dan menunjukkan bahwa orangtua juga menghargai pendapat mereka," pesan Edlynn.

4 dari 7 halaman

Sulitnya Negosiasi dengan Anak Remaja, Coba 3 Cara Ini

Dream - Menghadapi anak yang beranjak remaja dan sudah memasuki usia 16 tahun ke atas, memang butuh kesabaran ekstra. Mereka sudah bisa membuat keputusan sendiri, berpikir kritis dan menyampaikan argumentasinya.

Tak suka dilarang, dan kerap mendesak orangtua untuk memberi izin melakukan hal yang kadang membuat khawatir. Orangtua dalam kondisi ini tak bisa terlalu kaku atau pun terlalu longgar.

Bila terlalu melarang atau bersikap keras, anak akan semakin menjauh bahkan kabur. Sebaliknya, bila terlalu longgar anak bisa saja mengalami hal buruk. Lalu apa yang bisa dilakukan? Negosiasi.

Sulit memang melakukan negosiasi dengan anak remaja. Chris Voss, pakar negosiasi dari FBI membagikan tiga trik bernegosiasi dasar yang bisa dilakukan. Bisa diterapkan saat menghadapi anak, pasangan atau orang lain dalam kondisi negosiasi.

 

5 dari 7 halaman

1. Mirroring

Mirroring adalah tentang mengumpulkan informasi dengan mengulangi satu hingga tiga kata yang diucapkan anak dan melakukannya dalam bentuk pertanyaan. Ini terutama bekerja dengan baik dalam percakapan konfrontatif karena membuat anak-anak merasa nyaman dan membuat mereka merasa didengar.

Misalnya, anak bertanya, “ Bolehkah aku pergi nonton bioskop jam 7 malam bareng teman-teman?” lalu respons, " Nonton malam?" anak akan menjawab, " Ya, kita mau nonton bareng" . Respons lagi " bareng teman?" , mungkin anak akan menyebut nama-nama temannya.

Jadi ketika bernegosiasi dengan anak-anak, kita harus mencerminkan mereka karena mirroring mengharuskan anak-ana untuk mendengarkan alasan mereka sendiri. Harus menjelaskan apa yang mereka inginkan secara mendetail memungkinkan kita sebagai orangtua untuk memilih pertanyaan tindak lanjut yang tepat yang membuat mereka berpikir kritis tentang suatu keputusan. Cara ini membuat anak-anak berbicara jujur dan menganalisis dan akhirnya memikirkan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

 

6 dari 7 halaman

2. Pelabelan

Emosi selalu menjadi bagian dari negosiasi. Sangat penting agar anak-anak melabeli perasaan mereka sendiri. Saat emosi diberi label, itu memicu otak untuk meredakan emosi itu.

Saat memberi label emosi untuk mereka, bisa mengucapkan: " Sepertinya,terdengar seperti, terasa seperti ..." . Jika kita langsung mengatakan tidak, emosinya mengambil alih karena dia tidak merasa terkendali.

Bila menggunakan label emosi dan berkata, " Sepertinya kamu marah/ kesal dan kecewa" , bisa membantu meredakan reaksi emosional yang merugikan dan mengurangi penolakan terhadap saran yang diberikan. Kita mungkin memerlukan beberapa label untuk meredakan ketegangan sepenuhnya. Label emosional membangun hubungan dan meningkatkan pengaruh berbasis kepercayaan, yang kita inginkan sebagai orang tua.

 

7 dari 7 halaman

3. Mengganti "Mengapa" dengan "Bagaimana?" dan "Apa?"

Orang cenderung lebih suka dengan pertanyaan " apa" daripada pertanyaan " mengapa" . " Mengapa" memicu mekanisme pertahanan universal dan " apa" membuat orang lain merasa mereka memegang kendali, bahkan ketika mereka tidak memegang kendali.

Jika ayah/ bunda mencoba membuat anak membersihkan kamarnya, jangan katakan, “ Mengapa tidak membersihkan kamar?”. Sebaliknya, tanyakan, “ Apa yang dapat kamu lakukan untuk membersihkan kamar dalam 10 menit? Atau “ Bagaimana kalau ibu bantu untuk bersihkan kamar?”. Pertanyaan-pertanyaan ini pada akhirnya membantu membentuk pemikiran anak.

Sumber: AllProDad

Join Dream.co.id