Nyamuk DBD Aktif Saat Jam Main Anak, Lakukan Pencegahan

Parenting | Jumat, 5 Agustus 2022 13:12

Reporter : Mutia Nugraheni

Hal tersebut menurutnya harus jadi perhatian orangtua. Terutama ketika anak sedang bermain baik di rumah, playground maupun sekolah.

Dream - Demam berdarah dengue (DBD) termasuk penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan sering menyerang anak-anak. Data Kementerian Kesehatan mengungkap, tren kasus DBD pada anak mengalami kenaikan dari 2018 hingga 2022.

Dokter Frieda Handayani, Sp.A(K), lewat akun Instagramnya @frieda.handayani, mengungkap kasus DBD pada anak saat ini cukup tinggi. Ia kembali mengingatkan para orangtua untuk lebih waspada. Nyamuk ‘aedes aegypti' yang menularkan penyakit ini menurutnya memang sangat aktif di jam main anak.

" Nyamuk ‘aedes aegypti’ yang menjadi penyebab DBD aktif pada siang hari, dengan puncaknya di jam 08.00-13.00 dan jam 15.00-17.00. Di mana pada jam-jam tersebut juga merupakan saatnya anak-anak banyak aktif berkegiatan dan bermain," tulis dr. Frieda dalam akun Instagramnya.

Hal tersebut menurutnya harus jadi perhatian orangtua. Terutama ketika anak sedang bermain baik di rumah, playground maupun sekolah. Untuk mencegah si kecil digigit nyamuk, bisa memberikan lotion anti-nyamuk.

Nyamuk DBD Aktif Saat Jam Main Anak, Lakukan Pencegahan
Anak Bermain
2 dari 7 halaman

Jangan Menumpuk Pakaian Kotor

Untuk di rumah, dr. Frieda kembali mengingatkan agar tidak menumpuk pakaian kotor. Segera cuci pakaian, karena tumpukan tersebut jadi sarang nyamuk.

 Nyamuk demam berdarah© Shutterstock

" Nyamuk demam berdarah istirahat pada pakaian-pakaian yang digantung/ tumpuk, karena mereka senang dengan bau keringat manusia, nyamuk juga senang sekali pada handuk basah (bekas dipakai setelah mandi) yang digantung di kamar," ungkapnya.

Pastikan juga jangan biarkan ada genangan air di rumah. Genangan tersebut bisa jadi nyamuk aedes aegypti berkembang biak. Penting juga melakukan fogging secara rutin di sekitar rumah.

3 dari 7 halaman

3 Hal yang Tak Boleh Dilakukan Saat Anak Demam

Dream - Munculnya demam merupakan tanda imunitas tubuh sedang bekerja keras melawan virus dan bakteri. Saat demam memang membuat tubuh sangat tidak nyaman.

Disertai rasa panas di mata, kulit, hingga nyeri dan sakit kepala. Bila hal ini terjadi pada anak tentunya orangtua sangat khawatir dan ingin demam segara hilang. Berbagai cara pun dilakukan agar demam bisa lekas turun.

Sayangnya, cara-cara yang dilakukan oleh orangtua justru sering kali salah dan justru bisa membuat demam pada anak makin parah. Dikutip dari KlikDokter.com, ada tiga hal yang tak boleh dilakukan pada anak demam. Penting untuk diingat oleh para ayah bunda.

 3 Hal yang Tak Boleh Dilakukan Saat Anak Demam© Dream

Membalur tubuh dengan alkohol
Mitos lama yang berkembang di masyarakat adalah membalur tubuh dengan alkohol dianggap dapat menurunkan demam. Padahal, hal ini sama sekali tidak bermanfaat untuk menurunkan demam dan malah bisa meningkatkan risiko intoksikasi alkohol pada anak.

Mandi atau mengompres tubuh dengan air dingin
Kompres dengan air dingin atau mandi air dingin bukannya menurunkan demam malah bisa membuat anak menggigil dan membuat suhu tubuh jauh lebih meningkat dari sebelumnya.

 

4 dari 7 halaman

Meningkatkan dosis obat penurun panas

Memberikan terlalu banyak obat penurun panas kepada anak, atau mengombinasikan beberapa jenis obat dalam satu waktu sebaiknya jangan Anda lakukan. Bukannya menurunkan demam, cara seperti ini malah bisa membahayakan anak.

Sebab, konsumsi obat dengan dosis yang berlebih bisa membuat kerusakan organ, bahkan bisa menyebabkan kematian. Jadi, hindari sembarang memberikan obat pada anak tanpa terlebih dahulu memeriksakannya ke dokter.

Bila memang demam tak kunjung turun atau suhunya terus meningkat dan keadaan semakin parah, lebih baik segera periksakan ke dokter. Penjelasan selengkapnya baca di sini.

5 dari 7 halaman

Demam Berdarah Pada Anak Bisa Berujung Bahaya, Ketahui Fase Kritisnya

Dream - Penyakit demam berdarah saat ini sedang banyak terjadi, terutama di musim pancaroba. Nyamuk jadi penular utama penyakit ini dan bisa menyerang orang dewasa serta anak-anak.

Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan virus dengue yang ‘dibawa’ oleh nyamuk Aedes Aegepti. Gejala khasnya adalah demam tinggi tanpa disertai gejala lainnya, misalnya tanpa disertai batuk, pilek, atau pun sesak napas.

Beberapa penderita mengeluhkan gejala nyeri di belakang mata, sakit kepala, nyeri sendi, hingga munculnya bercak merah pada kulit atau perdarahan. Meski
demikian, biasanya bercak merah pada kulit belum terlihat pada hari-hari awal.

Penyakit ini, menurut dr. Debbie Latupeirissa, Sp.A (K) dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, termasuk self-limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Sayangnya, dalam beberapa situasi penyakit DBD juga bisa menimbulkan korban jiwa jika tidak cepat ditangani.

" Terlebih lagi jika pasien DBD telah memasuki fase berbahaya, dan terjadi pada anak-anak berusia lebih kecil yang belum dapat mengutarakan kondisi mereka. Karenanya, banyak penderita DBD yang kemudian dirawat di rumah sakit untuk dipantau lebih ketat kondisinya," ujar dr. Debbie, dikutip dari rilis yang diterima Dream.co.id

 

 

6 dari 7 halaman

Fase Kritis

Dalam situasi pandemi seperti sekarang, sebagai orangtua kita mungkin bingung saat anak demam tinggi. Menebak-nebak antara tertular Covid-19 atau penyakit lain. Bila anak mengalami demam tinggi, terus pantau suhunya menggunakan termometer dan catat.

Bila terjadi lebih dari 3 hari, segera periksakan ke dokter. Ada tiga fase DBD yang penting diketahui, yakni hari 1-3 disebut fase febrile tanpa perdarahan. Dalam fase ini biasanya terjadi gejala awal seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri sendi, dan nyeri belakang bola mata. Fase kedua, yaitu fase kritis.

" Setelah memasuki hari 4-5, demam cenderung turun. Penderita mulai memasuki fase kritis. Kebanyakan orang tua tidak mewaspadai fase ini ketika demam turun. Banyak yang mengira si kecil justru sudah mulai sembuh. Padahal, pada fase ini risiko terjadinya syok jauh lebih besar," kata dr. Debbie.

 

7 dari 7 halaman

Pendarahan

Dalam fase ini dapat terjadi pula penurunan trombosit lebih jauh yang ditandai dengan perdarahan. Seperti mimisan, gusi berdarah atau timbul bintik-bintik merah pada kulit yang spontan.

Memasuki fase ketiga adalah fase pemulihan atau penyembuhan, yang biasanya terjadi pada hari ke 6-7. Pada fase ini demam sudah mulai turun, kondisi tubuh pun perlahan membaik. Untuk mempercepat pemulihan si kecil, pilih asupan nutrisi yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh, termasuk kadar trombosit.

" Jangan tunggu terlalu lama apabila si kecil demam tinggi, ya. Segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk memastikan diagnosisnya," pesan dr. Debbie.

Join Dream.co.id