Jangan Terlalu Sering Beri Perintah, Bisa Latih Kemandirian Anak

Parenting | Sabtu, 1 Oktober 2022 12:19

Reporter : Mutia Nugraheni

Ada banyak cara untuk membuat anak mandiri, mulailah dengan langkah berikut ini.

Dream - Setiap orangtua tentunya ingin memiliki anak mandiri, yang bisa mengatasi masalah dan membuat keputusan besar sendiri. Kepribadian dan sikap mandiri tentu tak muncul begitu saja.

Untuk mengasahnya, dibutuhkan orangtua yang berbesar hati dan sabar untuk membimbing. Pasalnya, saat melatih kemandirian anak orangtua seringkali tak tega.

Sahabat Dream mengalaminya? Ada banyak cara untuk membuat anak mandiri, mulailah dengan langkah berikut ini.

Biarkan Anak Menunjukkan Jalan
Sesekali, saat naik mobil atau motor, biarkan anak yang menunjukkan jalur atau jalan yang harus dilalui. Hal ini akan membantu anak mengembangkan ingatan dan keterampilan navigasi mereka. Kebiasaan ini juga akan membantu anak membangkitkan kepercayaan dirinya dan lebih mandiri

Tata Rumah Sesuai dengan Keperluan Anak
Jika menginginkan anak melakukan tugas dengan mandiri, maka simpan barang di tempat yang mudah diakses olehnya. Hal ini akan mempengaruhi kemandirian anak. Misalnya menempatkan rak pakaian lebih rendah sehingga mempermudah anak dalam mengambil baju.

 

Jangan Terlalu Sering Beri Perintah, Bisa Latih Kemandirian Anak
Anak Mandiri
2 dari 6 halaman

Jangan Terlalu Sering Mengingatkan

Semakin sering diingatkan, maka anak semakin bergantung pada orangtua. Hindari mengingatkan dan mengomelinya terlalu sering sehingga anak dapat terbiasa mengingat aturan dan hal yang harus dilakukannya. Arahkan sang anak dan beri kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bisa melakukannya sendiri.

 Anak© Shutterstock

Berikan Pilihan
Saat memberi makan anak, berikan mereka pilihan. Misalnya, menu yang ingin mereka santap ikan atau ayam. Tanyakan juga porsi yang ingin disantapnya, dengan begitu anak terbiasa membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Mulai dari hal yang kecil akan membuatnya jadi lebih terlatih.

 

 

3 dari 6 halaman

Biarkan Main Sendiri

 Anak main sendiri© Shutterstock

Orangtua dapat mendorong anak untuk bermain secara mandiri sejak usia 1 tahun. Mulai dengan membiarkan anak bermain sendiri di kamar mereka selama beberapa menit, seiring waktu tingkatkan waktunya. Ketika anak berusia 3-4 tahun, ajari mereka bermain sendiri di pagi hari tanpa harus membangunkan orangtua. Lama-lama, mereka mungkin akan menikmati aktivitas tersebut dan terus melakukannya.


Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita/ Sumber: BrightSide

4 dari 6 halaman

4 Cara Latih Anak Lelaki Mengontrol Emosi

Dream - Mengalami rasa sedih, marah, kecewa, bahagia adalah hal wajar dan dirasakan semua orang baik anak lelaki maupun anak perempuan. Mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan sangat penting untuk dilakukan demi kesehatan mental.

Sayangnya pada anak lelaki, mereka seringkali dianggap sosok yang harus selalu kuat dan dominan. Padahal ada kalanya mereka butuh menangis dan bersikap manis saat sedang bahagia.

Sementara saat marah atau kecewa, malah dianggap wajar anak lelaki mengeluarkan emosi negatifnya. Seperti memukul, menendang, melempar dan sebagainya. Tentunya hal ini merupakan kesalahan besar.

 4 Cara Latih Anak Lelaki Mengontrol Emosinya© MEN

" Anak laki-laki perlu mengingat satu hal yang paling penting dalam hal perasaan mereka (terutama kemarahan), yaitu mereka selalu punya pilihan bagaimana meresponsnya," kata Meg Meeker, seorang dokter anak.

Ia menjelaskan, ketika anak lelaki masih usia dini, perkembangan emosinya belum sempurna. Tugas orangtua adalah mencontohkan dan membimbingnya untuk bisa mengontrol dan merespons emosi yang muncul dengan baik dan tidak merugikan dirinya maupun orang lain.

Bagaimana caranya? Empat cara ini penting untuk dilakukan sejak dini.

Kenali Emosi
Sebelum si anak lelaki dapat mengatasi emosinya, ia perlu mengidentifikasinya. Contohnya, mungkin dia marah pada ayahnya karena tak jadi jemput di sekolah, padahal perasaan sebenarnya di balik permukaan adalah kesedihan. Ajari anak untuk melihat lebih dalam emosi yang dialami dan apa yang muncul di permukaan. Dengan begitu anak bisa mengungkapkannya dengan baik.

 

5 dari 6 halaman

Jangan Membuatnya Bersalah karena Emosi yang Dialami

Cobalah untuk tidak membuat anak merasa bersalah atas emosinya. Seperti yang dikatakan Dr. Meeker, “ …mereka dapat merasakan sesuatu dengan kuat, tetapi kemudian harus memilih bagaimana—dan bagaimana tidak—untuk menanggapi perasaan itu" . Jadi, jangan ajari putra ayah dan bunda untuk menekan amarah, cemburu, atau emosi kuat lainnya. Semua itu adalah bagian dari fitrah manusia.

 ibu anak© Shutterstock

Bertindak
Setelah perasaan itu diidentifikasi dan diakui, anak laki-laki harus memutuskan apa yang harus dilakukan dengan perasaan itu. Pertama, dorong anakuntuk berbicara tentang apa yang dia rasakan. Dia tidak perlu menganalisisnya secara berlebihan, tetapi jika dapat mengungkapkannya kepada ibu atau ayah, itu luar biasa.

 

6 dari 6 halaman

Latih anak bertanggung jawab

Anak laki-laki perlu tahu bahwa, pada akhirnya, dialah yang bertanggung jawab atas bagaimana dia bereaksi terhadap perasaannya. Ajari dia bahwa kekuatan fisik tidak dapat diterima dan bahwa dia tidak boleh menggunakan kekuatan semacam itu dengan orang lain.

Jika dia perlu mengeluarkan agresi, dia dapat menemukan pelepasan fisik melalui olahraga, meninju bantal, atau bahkan berteriak ke bantal. Kita perlu mengajari anak-anak kita bahwa mereka adalah bos dari perasaan mereka.

Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita/ Sumber: Imom

Join Dream.co.id