Waspadai Kondisi Stres Pada Remaja, Kenali Gejalanya

Ibu Dan Anak | Selasa, 26 Desember 2017 08:34
Waspadai Kondisi Stres Pada Remaja, Kenali Gejalanya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Reporter : Mutia Nugraheni

Terkadang remaja yang mengalami keluhan fisik sebenarnya dalam kondisi psikologis yang tertekan.

Dream - Kecemasan dan stres sangat umum terjadi bukan hanya di kalangan orang dewasa, tetapi juga remaja. Berada di lingkungan yang tak mendukung, tekanan dari teman atau keluarga, tak ada teman bicara serta aktualisasi diri bisa jadi pemicunya.

Bagi remaja yang belum memiliki kemampuan menghadapi masalah serta kematangan psikologis yang mumpuni, kecemasan ini tak boleh dibiarkan. Efeknya bisa fatal dan mereka bisa terjerumus pada hal-hal negatif.

" Sebenarnya ada gejala-gejala tertentu yang bisa terlihat saat seorang anak remaja mengalami stres atau level kecemasan yang tinggi. Orangtua jika cukup dekat dan tahu kebiasaan mereka
pasti akan sangat tahu ketika ada perubahan sikapnya," ujar Amy Morrin, seorang psikolog anak.

Gejala kecemasan bisa terlihat berbeda untuk semua orang. Namun, tanda dan gejala umum yang harus diperhatikan pada anak remaja. Berikut tanda-tandanya:

- Ketakutan atau kekhawatiran yang ekstrem mengenai situasi tertentu, atau aktivitas sehari-hari
- Mereka mengatakan pikiran mereka seperti kusut dan tidak bisa berpikir jernih
- Ketidakmampuan berkonsentrasi atau memiliki ingatan buruk
- Menghindari situasi baru atau situasi sulit
- Menghindari situasi sosial dan cenderung ingin menyendiri
- Selalu gelisah atau gugup
- Selalu merasa kelelahan dan tidak bisa tidur.

Menurut Amy, kondisi stres dan cemas ini juga bisa berpengaruh pada kondisi fisik anak. Terkadang remaja yang mengalami keluhan fisik sebenarnya dalam kondisi psikologis yang tertekan.

Namun mereka tak bisa mengutarakannya, lalu yang muncul ada masalah kesehatan dan keluhan kesakitan fisik.

" Gejala fisik yang menyertai stres dan kecemasan yang dialami anak remaja antara lain muncul keluhan nyeri dada, detak jantung cepat dan berkeringat. Kadang napas terasa cepat dan
sesak, tangan gemetar, mual, diare dan tak bisa tidur," kata Morrin.

Ia pun menyarakan para orangtua untuk lebih peka dengan perubahan kebiasaan anak. Terutama jika mereka menarik diri. Mengajaknya berkonsultasi dengan psikolog bisa jadi solusi jika orangtua merasa sulit untuk menghadapinya.

Sumber: Verywell

Join Dream.co.id