Wacana Sekolah Tatap Muka, Siapkan Psikologis Buah Hati

Ibu Dan Anak | Jumat, 26 Maret 2021 16:03
Wacana Sekolah Tatap Muka, Siapkan Psikologis Buah Hati

Reporter : Mutia Nugraheni

Sangat mungkin anak mengalami level kecemasan yang tinggi saat kembali sekolah tatap muka.

Dream - Sudah satu tahun anak-anak bersekolah di rumah karena pandemi Covid-19. Muncul wacana sekolah akan kembali dibuka pada Juli 2021 mendatang karena sudah ada vaksinasi untuk para guru.

Beberapa daerah sudah membuat simulasi kegiatan belajar mengajar saat pandemi. Hal yang tak kalah penting adalah menyiapkan psikologis anak saat kembali sekolah. Pstinya banyak perubahan yang terjadi dan anak harus melakukan adaptasi.

Aktivitas sekolah juga tak seperti sebelumnya. Anak-anak tak bisa bebas bermain, bertukar bekal, berdekatan dan wajib mengenakan masker demi mengurangi risiko tertular Covid-19. Sangat mungkin anak mengalami level kecemasan yang tinggi.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah berdiskusi dengan pihak sekolah hal-hal apa saja yang sudah disiapkan. Seperti fasilitas protokol kesehatan serta cara belajar selama pandemi. Komunikasi dengan pihak sekolah dan komite sangat penting.

" Saya pikir bagian dari apa yang perlu dilakukan orangtua adalah membantu anak-anak memahami bagaimana mereka akan memecahkan masalah tertentu yang tidak dapat mereka antisipasi sebelumnya," kata Ann Douglas, seorang pakar pengasuhan dan konselor keluarg, dikutip dari Toronto.com.

 

2 dari 3 halaman

Merasa Bingung

Pada anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar, biasanya merasa bingung dengan situasi sekolah yang jadi sangat jauh berbeda. Orangtua bisa memberikan gambaran lebih dulu kondisi sekolah dan melakukan simulasi di rumah.

Dengan begitu anak jadi lebih menyiapkan diri. Hal yang juga tak kalah penting adalah menyiapkan anak jika di sekolah ternyata ada yang positif Covid-19.

" Orangtua juga sebaiknya mendorong pemikiran yang fleksibel dan tenang pada anak-anak, untuk mempersiapkan mereka menghadapi saat-saat ketika rencana pasti akan berubah, seperti jika seorang siswa di kelas mereka ternyata positif Covid-19," ujar Douglas.

 

3 dari 3 halaman

Manajemen Ekspektasi

Manajemen ekspektasi juga harus kompak antara anak dan orangtua. Dalam kondisi sekarang pembelajaran jadi tidak optimal. Jauh dari kata ideal, jadi jangan menuntut anak mendapatkan prestasi akademik terbaik.

" Ketakutan anak akan tertinggal pelajaran, atau jadi anak yang kurang pintar menghantui orangtua. Cobalah turunkan ekspektasi, hal ini akan sangat berdampak pada kesehatan mental orangtua dan anak dan kemampuan menjalani aktivitas selama pandemi baik di rumah maupun di sekolah," kata Douglas.

Douglas percaya anak-anak harus merasa nyaman berkomunikasi dengan orang dewasa - baik itu orangtua atau guru. Saat ekspektasi terlalu tinggi komunikasi tak akan berjalan baik, anak malah bisa stres dan berdampak buruk pada psikologisnya.

Join Dream.co.id