Ucapan 'Tidak Apa-apa' Saat Si Kecil Jatuh Ternyata Kurang Tepat

Ibu Dan Anak | Sabtu, 5 Juni 2021 10:25

Reporter : Mutia Nugraheni

Mengabaikan rasa sakit anak dan langsung menenangkannya bukanlah hal tepat.

Dream - Anak sedang berlarian atau bermain sepeda kemudian terjatuh dan sedikit terluka. Sebagai orangtua kita pasti ingin langsung membantu menenangkannya dan berkata 'tidak apa-apa' atau 'jangan menangis, ini luka sedikit'.

Sementara wajah anak kesakitan sekaligus kebingungan. Orangtua memang tak suka melihat kesedihan dan kesakitan di wajah anak dan buru-buru ingin membuatnya nyaman. Ternyata mengabaikan rasa sakit anak dan langsung menenangkannya bukanlah hal tepat.

“ Pertama-tama, orang tua harus menyatakan yang jelas dengan membuat pernyataan seperti, 'bunda melihat kakak/adik jatuh dari sepeda ' atau 'ayah tahu kakak/adik takut ketika jatuh,'. Validasi apa yang dirasakan anak dengan mengatakannya, bukan mengesampingkannya,” kata Dr. Karol Darsa, psikolog yang memiliki spesialisasi pada trauma, dikutip dari PureWow.

Hal itu sangat penting karena anak baru saja mengalami cedera lutut. Mereka tak mungkin mengatakannya secara gamblang apa yang dirasakan dan ditakuti karena mungkin malu atau sakit. Meski demikian, kondisi anak perlu dipahami dan mereka butuh hal itu.

“ Kuncinya adalah menjaga suara tetap netral. Validasi perasaan dengan tenang tanpa menunjukkan kepanikan," ujar Dr. Karol.

 

Ucapan 'Tidak Apa-apa' Saat Si Kecil Jatuh Ternyata Kurang Tepat
Anak Menangis
2 dari 5 halaman

Validasi Perasaan Anak

Setelah menyatakan dengan jelas, beri tahu anak bahwa kita akan membantunya dan selalu di samping mereka. Cari tahu juga detail lukanya, apakah parah atai tidak, hindari menunjukkan kepanikan.

“ Anak-anak meniru apa yang mereka lihat. Jika mereka melihat orangtua dengan reaksi ketakutan maka mereka akan belajar bahwa 'jatuh' atau 'terluka' adalah hal yang menakutkan dan mereka akan mulai mengasosiasikan keduanya. Malah jadi histeris," kata Dr. Karol.

Ia menyarankan untuk tetap tenang dan mencari solusi. Tak masalah jika anak menangis kesakitan, cukup peluk dan beri ketenangan dan katakan lukanya akan diperiksa.
Penting untuk memvalidasi perasaan anak dan bukan mengabaikan atau merendahkannya dengan mengatakan 'ah gitu saja nangis'.

Hal tersebut malah akan menimbulkan 'luka' pada mentalnya. Justru kita harus mengajarkan dalam situasi tersebut tetap tenang, tidak panik dan berusaha mendengarkan dan mencari tahu apa yang anak rasakan.

3 dari 5 halaman

Anak Selalu Menangis Setelah Bangun Tidur? Cari Tahu Sebabnya

Dream - Tidur merupakan momen penting bagi tumbuh kembang anak, juga kesehatan fisik dan psikologisnya. Memiliki tidur yang berkualitas tentu akan berdampak positif bagi anak.

Sayangnya, tak semua anak bisa mendapatkan tidur yang berkualitas. Ada anak yang saat bangun tidur malah rewel, cemberut dan menangis atau mood swing. Sebagai orangtua, tentunya hal tersebut sangat membingungkan.

Jika terjadi sangat sering mungkin ada masalah psikologis atau fisik pada anak. Berikut beberapa penyebabnya:

Waktu tidur kurang
Kurang tidur dan merasa lelah mungkin bukan hal berat bagi orang dewasa. Sayangnya, anak kecil belum bisa memahami hal tersebut. Ketika merasa waktu tidurnya kurang dan badannya masih lelah, anak akan protes. Beberapa bentuk protes yang umum dijumpai yaitu wajah cemberut, tidak mau melakukan apa pun, dan senyum sebentar lalu menangis lagi.

 

4 dari 5 halaman

Obstructive Sleep Apnea (OSA)

" Mood swing pada anak bangun tidur harus dilihat kondisinya. Sebab, hal ini bisa juga mengarah kepada kondisi lain, misalnya obstructive sleep apnea," kata
dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, dikutip dari KlikDokter.com

OSA merupakan gangguan pernapasan yang terjadi saat si kecil terlelap. Gejalanya, anak beberapa kali mengalami henti napas dan bikin ia sering terbangun. Karena kondisi tersebut, waktu tidurnya kurang dan anak jadi rewel.

Waktu Tidur Terlalu Lama
Sama halnya dengan kurang tidur, reaksi negatif si kecil juga bisa muncul bila terlalu lama tidur. Seiring bertambahnya usia, waktu tidur anak memang akan berkurang. Apabila anak balita diberikan waktu tidur yang durasinya seperti batita, ia malah cenderung rewel ketika terbangun.

 

5 dari 5 halaman

Rasa Takut saat Terbangun

Anak-anak biasanya akan langsung cemas dan takut ketika terbangun sendirian di kamarnya. Saat anak bangun tidur, biasanya orangtua sudah melakukan berbagai aktivitas, misalnya membuat sarapan atau siap-siap bekerja.

Ketidakhadiran orang lain di kamarnya membuat si kecil merasa tidak aman dan akhirnya menangis. Anak balita memang belum terbiasa terbangun tanpa kehadiran orangtuanya. Namun, seiring bertambahnya usia, kondisi ini akan hilang dengan sendirinya.

Rasa Tidak Nyaman
Rewel saat anak bangun tidur bisa disebabkan juga oleh rasa tidak nyaman akibat lingkungan sekitarnya. Misalnya, ia menangis dan marah-marah sendiri karena kasur atau baju yang basah karena keringat. Selain itu, ruangan yang terlalu panas juga bisa membuat anak rewel.

Selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id