Tiga Trik Lakukan Negosiasi Efektif dengan Buah Hati

Ibu Dan Anak | Jumat, 12 Juni 2020 08:02
Tiga Trik Lakukan Negosiasi Efektif dengan Buah Hati

Reporter : Mutia Nugraheni

Dibutuhkan kemampuan dan latihan untuk bernegsosiasi dengan anak.

Dream - " Bunda, aku boleh main kan?" , " Harus makan sekarang?" , " Kenapa PR-nya banyak, aku capek, harus dikerjain semua?" . Pertanyaan berulang penuh rengekan, kerap keluar dari mulut anak.

Bukan hanya anak balita, tapi juga anak remaja yang sudah sangat pintar beragurmentasi. Jika dihitung, dalam sehari orangtua bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bernegosiasi dengan anak.

Dalam sekejap mata, kondisi yang awalnya tenang dan terkendali bisa membangkitkan emosi. Orangtua membentak dan anak menangis, emosi mendominasi. Dibutuhkan kemampuan dan latihan untuk bernegsosiasi dengan anak.

Bukan soal kalah menang, tapi mencari jalan keluar yang baik bagi semua pihak. Bagaimana caranya? Coba lakukan tiga trik ini.

 

2 dari 4 halaman

1. Prioritas

Pikirkan apa yang lebih dan kurang penting saat ini, dan putuskan prioritas. Misalnya saat anak menumpahkan makanan ke lantai, apakah ingin segera lantai bersih atau mengajarkan tanggung jawab pada anak?

Coba pertimbangkan solusi untuk anak yang bisa dilakukannya. Menawarkan daftar tugas untuk dipilih memberi peluang lebih besar untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima, dan mengajarkan anak soal konsekuensi.

 

3 dari 4 halaman

2. Pertanyaan sebelum pertanyaan

Ajukan pertanyaan sebelum membuat pernyataan. Tidak peduli seberapa baik kita memahami anak-anak, mereka dapat mengejutkan kita dengan motivasi di balik permintaannya.

Misalnya si kecil mengeluh dengan carseat di mobil, yang ternyata tidak nyaman dan ada yang membuatnya gatal. Sementara kita kukuh memintanya untuk duduk karena alasan keamanan. Jadi, ajukan dulu pertanyaan mengapa anak mengeluh atau merengek, setelah itu ambil keputusan yang membuat nyaman dan aman semua orang.

 

4 dari 4 halaman

3. Berikan penjelasan detail

Anak membutuhkan banyak penjelasan sebab dan akibat. Mereka belum tahu secara detail apa yang dilakukannya bisa menyebabkan banyak hal. Untuk itu dibutuhkan ekstra kesabaran untuk menjelaskannya secara detail.

Pahami rasa penasaran dan tidak tahu anak. Mereka akan terbiasa mendengarkan penjelasan mengapa kita melarang atau menunda hal yang diinginkannya. Hal ini juga membantu anak memahami kondisi dan menganalisis situasi.

Sumber: WorkingMother

Join Dream.co.id