Tanda Kebiasaan Bohong Anak Bisa Jadi Gangguan Psikis

Ibu Dan Anak | Kamis, 17 Juni 2021 10:08

Reporter : Mutia Nugraheni

Penderita juga bisa berada dalam situasi percaya akan kebohongannya sendiri.

Dream - Anak-anak kerap melakukan kebohongan kecil dan mungkin kita maklumi. Hal tersebut kerap dianggap wajar, tapi ternyata dalam beberapa kondisi kebohongan pada anak bisa jadi gangguan psikis.

Kebiasaan berbohong bisa berujung pada penyakit yang disebut mythomania. Dikutip dari The Prism UK, mythomania merupakan penyakit psikologis di mana penderita suka berbohong demi mendapat pujian.

Penderita juga bisa berada dalam situasi percaya akan kebohongannya sendiri. Sehingga ia kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang berbohong. Pada anak-anak, perilaku berbohong dimulai saat usia remaja.

Kehidupan sosial yang semakin luas membuat seorang anak bisa memiliki kebiasaan berbohong agar bisa diterima dengan baik oleh lingkungan sosialnya. Melihat kondisi ini, orangtua perlu waspada dan cermat akan potensi mythomania yang bisa terjadi pada anak.

Tanda Kebiasaan Bohong Anak Bisa Jadi Gangguan Psikis
Ilustrasi
2 dari 5 halaman

Gejala yang Muncul

Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa gejala dari sindrom mythomania pada anak.

1. Membesarkan masalah
Salah satu ciri anak yang mengalami mythomania adalah membesar-besarkan masalah. Hal sepele yang bisa diselesaikan dengan cepat malah jadi perkara besar. Penting bagi orangtua untuk mengenal karakter anak dengan seksama. Sehingga orangtua bisa mendeteksi hal-hal yang mengganjal pada anak

2. Cerita yang berubah-ubah
Kerap kali anak bercerita tentang hal-hal yang terjadi di sekolah atau lingkungan sekitarnya. Jika alur cerita yang disampaikan nampak berubah-ubah, orangtua harus mewaspadai gejala mythomania pada anak.

3. Lebih menutup diri
Seorang anak bisa saja memiliki pribadi yang tertutup. Namun jika ia sudah menutup diri, orangtua perlu curiga. Bahkan beberapa anak tidak memperkenankan orangtuanya mengenal teman-teman sepermainannya.

Sumber: Fimela.com

3 dari 5 halaman

Buah Hati Bisa Alami Masalah Emosi Saat Terlalu Banyak Stimulasi

Dream - Membuat anak-anak tetap sibuk selama pandemi jadi salah satu cara agar mereka mendapat aktivitas yang memadai meski hanya di rumah saja. Pada anak balita mungkin memberikan banyak mainan, ada juga yang didaftarkan sekolah online, hal ini memang baik, tapi pastikan tidak berlebihan.

Stimulasi yang terus-menerus bisa membuat anak kewalahan dan kelelahan. Bukan hanya secara fisik tapi juga emosi. Pada gilirannya hal ini akan membuatnya mengalami masalah perilaku.

" Setiap orang menanggapi informasi sensorik yang berbeda dengan cara yang berbeda. Beberapa anak (dan bahkan orang dewasa) memiliki ambang batas yang rendah dengan stimulasi dan informasi tertentu, jadi mereka menanggapinya secara negatif jauh lebih cepat daripada anak-anak pada umumnya," kata Amy Baez, seorang terapis okupasi pediatrik, dikutip dari Fatherly.

Ambang batas stimulasi berlebih dapat bervariasi karena sejumlah faktor. Faktor kepribadian, psikologis dan lingkungan. Ada anak-anak dengan ambang stimulasi tinggi dapat distimulasi dalam jangka waktu yang lama. Setiap orangtua penting untuk melihat anak yang bahagia tiba-tiba berubah menjadi rewel dan terus menangis.

 

4 dari 5 halaman

Gejala Tiap Anak Berbeda

Gejalanya mungkin berbeda-beda, tetapi tangisan yang disebutkan di atas, bersamaan dengan rasa rewel, tantrum, atau perasaan lelah, biasa terjadi pada anak-anak neurotipikal. Mereka mungkin menunjukkan agresi, hiperaktif, atau kegembiraan berlebihan.

" Anak juga bisa sebaliknya, keluar dari zona, menarik diri, atau menunjukkan gejala khas kantuk seperti menggosok mata atau wajah mereka. Anak-anak yang terlalu terstimulasi tidak tahu bagaimana menghadapi apa yang mereka rasakan, atau mengartikulasikan kesusahan mereka, sehingga mereka bertindak dengan penuh emosi," ujar Baez.

Stimulasi ini bisa berupa aktivitas seperti bermain, bertemu banyak orang, kegiatan bersama teman seharian, suara, situasi asing dan masih banyak lagi. Lalu bagaimana mengetahu anak terlalu banyak mendapat stimulasi sehingga ia menjadi kewalahan?

 

5 dari 5 halaman

Perhatikan Perubahan Sikap

" Perilaku di luar karakter adalah sebuah pertanda. Stimulasi berlebihan bisa terlihat seperti amukan dan kesal, agresi atau antusiasme, atau bahkan kantuk. Jika seorang anak terlihat aneh, ada sesuatu yang terjadi," pesan Baez.

Hari-hari yang panjang dapat mendorong bahkan anak-anak yang sensitif melewati titik puncak mereka - itulah sebabnya perjalanan taman hiburan sering kali berakhir dengan buruk.

“ Memahami bagaimana anak menanggapi berbagai jenis rangsangan sensorik akan membantu orangtua membuat rencana agar aktivitas anak tidak berlebihan," ungkap Baez.

Join Dream.co.id