Tak Perlu Khawatir Saat Balita Suka Berbicara Sendiri

Ibu Dan Anak | Selasa, 11 Mei 2021 16:02
Tak Perlu Khawatir Saat Balita Suka Berbicara Sendiri

Reporter : Mutia Nugraheni

Psikolog memberikan penjelasan.

Dream - Imajinasi anak begitu tinggi. Terutama di usia bawah lima tahun (balita). Saat bermain sendiri, kerap kali mereka membuat percakapan sendiri, bahkan menyebut ada teman lain atau teman khayalan.

Orangtua mungkin merasa bingung atau panik saat melihat anak suka berbicara sendiri. Menurut psikolog Gracia Ivonika, M.Psi., orangtua tidak perlu khawatir saat melihat anak mereka berbicara sendiri atau dengan mainannya.

“ Pada usia dini sampai awal usia sekolah, anak biasanya memang terlihat suka bicara sendiri misalnya saat bermain. Ini adalah hal yang wajar dalam tahapan perkembangan anak. Kalau secara teori disebutnya self talk atau private speech,” ujarnya, seperti dikutip dari KlikDokter.

Pada usia tertentu, anak-anak sedang mengembangkan imajinasinya. Alhasil, mereka akan membentuk teman khayalan sebagai wujud dari pemikirannya mengenai relasi dengan orang di sekitarnya.

Karakter yang mereka ajak bicara mungkin sama dengan di kehidupan nyata. Akan tetapi, balita yang sedang self talk menganggap ia memainkan peran yang berbeda dari dirinya sendiri.

 

2 dari 5 halaman

Meniru Apa yang Dilihatnya

Dalam memainkan peran, anak mungkin meniru apa yang ia lihat atau dilakukan oleh orang lain. Tak hanya itu, mainan si kecil juga dapat menjadi karakter yang penting. Itu sebabnya balita sering ditemukan sedang berbicara dengan mainan mereka sendiri.

" Kondisi anak yang berbicara sendiri ini sama hal dengan orang dewasa. Bedanya, orang dewasa sudah dapat menyembunyikan hal itu agar orang di sekitarnya tidak merasa curiga atau khawatir. Pada orang dewasa, mereka dapat berbicara sendiri dalam hati. Namun untuk anak-anak, mereka belum paham dan belum bisa melakukannya," ungkapnya.

Seiring bertambahnya usia, anak akan belajar sambil berlatih untuk membedakan kapan dan di mana mereka bisa berbicara sendiri atau berbicara dalam hati.

“ Saat anak memasuki usia sekolah awal, perilaku berbicara sendiri akan semakin berkurang. Anak akan mulai bertransisi menuju inner speech atau berbicara kepada diri sendiri dalam hati atau internal dialogue,” kata Gracia.

Selengkapnya baca di sini.

3 dari 5 halaman

Dapati Si Balita Masturbasi, Orangtua Perlu Lakukan Ini

Dream - Kebanyakan dari orangtua merasa tidak nyaman saat membicarakan seks kepada anak-anaknya. Bisa karena alasan agama, budaya, atau generasi. Padahal anak-anak sangat membutuhkan informasi soal seks dari orang yang dipercaya, yaitu orangtua.

Misalnya, ketika beberapa orangtua melihat anaknya menyentuh alat kelaminnya, merasa takut. Orangtua khawatir apa yang harus dilakukan dan merasa ada yang salah dengan buah hatinya.

Orangtua pun cenderung diam daripada mencari nasihat karena takut. Beberapa ada yang berteriak atau menghukum anak, berharap itu akan menghentikan balita mengulangi perilaku tersebut. Ternyata masturbasi pada balita merupakan hal normal.

" Masturbasi adalah istilah ilmiah untuk stimulasi diri. Pada balita, itu buka aktivitas seksual," ujar dr. Sylvia Estrada, seorang ahli endokrin pediatrik, dikutip dari SmartParenting.

 

4 dari 5 halaman

Anak Penuh Rasa Ingin Tahu

Sering kali, masturbasi tersebut adalah perilaku yang secara tidak sengaja 'ditemukan' oleh anak saat dia mempelajari tubuhnya. Sementara di masa remaja, masturbasi adalah tindakan yang dikaitkan dengan fantasi atau kesenangan seksual.

" Anak-anak pada dasarnya ingin tahu, dan sesuatu yang mereka sukai untuk dipelajari adalah tubuh mereka. Adalah umum bagi anak usia 2 hingga 6 tahun untuk melakukan melihat dan menyentuh alat kelaminnya, menunjukkan pada temannya atau mencoba melihat orang dewasa tak mengenakan busana," ujar dr. Sylvia.

Menurut dr. Sylvia, literatur menyebutkan bahwa masturbasi terjadi pada sekitar 50% anak-anak di bawah usia 13 tahun dan lebih sering dilaporkan sebagai bagian dari perilaku seksual normal di antara anak-anak berusia 2-6 tahun. Biasanya itu adalah bagian dari keingintahuan anak terhadap tubuhnya sendiri.

Perlu diingat, ini adalah 'perilaku sementara di antara kelompok usia 2-6 tahun'. Mungkin butuh waktu lebih lama untuk berkembang, bergantung pada lingkungan keluarga, seperti 'paparan ketelanjangan' atau perilaku seksual orang dewasa (TV, majalah), pemicu stres, atau tidak adanya pengawasan orang dewasa.

 

5 dari 5 halaman

Apa yang harus orangtua lakukan?

" Pertama, jangan mempermalukan anak. Lalu, amati durasi aktivitas. Ketika masturbasi berlangsung lama atau berulang, alihkan perhatiannya pada ktivitas lain," kata dr. Sylvia.

Orangtua juga dapat menyelidiki dengan mengajukan pertanyaan lembut seperti, 'Apakah vagina atau penis kamu gatal?" atau, " Apakah celana dalam terlalu ketat?" . Hal ini akan membuat anak menjelaskan apa yang dirasakannya.

Orangtua bisa khawatir jika anak menstimulasi dirinya dengan perilaku agresif atau tampak meniru tindakan seksual orang dewasa. Perlu juga diperhatikan jika anak melakukannya sangat sering dan teratur. Konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog untuk mengatasinya.

Join Dream.co.id