Tak Ada Printer, Orangtua Murid Gambar Tugas Pakai Tangan

Ibu Dan Anak | Kamis, 13 Agustus 2020 16:04
Tak Ada Printer, Orangtua Murid Gambar Tugas Pakai Tangan

Reporter : Mutia Nugraheni

Sang guru sangat salut dengan semangat orangtua agar anaknya tetap bisa belajar.

Dream - Banyak jalan menuju Roma, hal itu tampaknya jadi prinsip banyak orangtua saat ini yang mendampingi anak-anaknya belajar. Sekolah dari rumah memang membutuhkan usaha besar agar proses belajar mengajar jadi optimal.

Laptop, internet, kertas, printer dan segala macam perlengkapan tak selalu bisa tersedia di rumah. Seperti pengalaman yang dituliskan seorang guru bernama Adly Razali asal Malaysia.

Adly merupakan guru kelas 1 Sekolah Dasar. Ia mengirimkan soal kepada para orangtua murid untuk dicetak dengan printer agar bisa dikerjakan anaknya di rumah. Tak semua murid memiliki printer.

Rupanya hal itu tak menyurutkan semangat salah satu orangtua murid agar anaknya tetap belajar. Dengan kreativitas dan kemampuan menggambar, soal yang dikirimkan lalu digambarkannya dalam kertas buku tulis biasa.

 

2 dari 6 halaman

Ditulis dan digambar Pakai Tangan

Sang anak lalu mengerjakan soal tersebut. Adly sangat salut dengan semangat orangtua tersebut agar anaknya tetap bisa belajar. Cerita ini dibagikan Adly di akun Facebooknya yang kemudian viral yang juga menularkan semangat ke banyak orang.

Salut!

3 dari 6 halaman

Model Sekolah Hybrid Bakal Jadi Rujukan Setelah Pandemi, Apa Itu?

Dream - Sebagian besar sekolah di berbagai negara di dunia terpaksa melakukan pembelajaran jarak jauh karena pandemi COvid-19. Kondisi ini belum diktahui kapan bakal berakhir.

Untuk di Indonesia sendiri, sekolah di zona merah Covid masih berlangsung dari rumah hingga Desember 2020 mendatang. Muncul pertanyaan apakah sekolah bakal kembali normal seperti sebelum pandemi?

Sebuah model sekolah yang baru sedang jadi perbincangan yaitu sekolah hybrid. Dikutip dari VeryWell, model sekolah ini adalah dengan pengaturan di mana siswa menghadiri sekolah beberapa hari setiap pekan dan melakukan pembelajaran jarak jauh di hari-hari lainnya.

 

4 dari 6 halaman

Mengkombinasikan Sekolah di Rumah

Skenario sekolah hybrid menurut Aki Murata, penulis buku Reopening Better Schools: Unexpected Ways COVID-19 Can Improve Education adalah siswa akan menghadiri kelas secara langsung dua hari setiap minggu dan terlibat dalam pembelajaran jarak jauh pada tiga hari lainnya.

" Hal ini memungkinkan sekolah mengikuti pedoman physical distancing dengan membagi jadwal masuk siswa, anak tetap menghadiri sekolah secara langsung di hari-hari tertentu," ungkapnya.

Jadwal lain yang mungkin pada model sekolah hybrid adalah hanya boleh ada setengah siswa yang hadir di sekolah di pagi hari. Setelah itu sekolah dibersihkan dan disinfektan untuk kemudian ada kelas lagi di siang hari.

Sampai saat ini konsep tersebut sedang dikembangkan. Terutama di negara-negara yang kasus Covid-19 sudah menurun drastis.

5 dari 6 halaman

Ternyata Sekolah Pindah ke Halaman Saat Pandemi TBC 1907

Dream - Anak-anak berhak mendapat pendidikan dalam kondisi apapun, bahkan di situasi perang sampai pandemi seperti sekarang. Untuk itu semua pihak bekerja sama, agar anak tetap bisa belajar meskipun tak bisa ke sekolah.

Sistem yang selama ini berjalan adalah belajar jarak jauh. Ada yang melakukannya secara online, melalui email, video dan masih banyak lagi. Kondisi pandemi karena penyakit bukan hanya terjadi saat ini.

Sebelumnya pada 1907 terjadi pandemi TBC (tuberkulosis). Sebuah artikel baru-baru ini dari New York Times menyoroti bagaimana, pada 1907, dua dokter Rhode Island, Ellen Stone dan Mary Packard, mengimplementasikan sebuah rencana yang memperbolehkan anak-anak pergi ke sekolah selama wabah tuberkulosis.

 

6 dari 6 halaman

Belajar Jadi Lebih Seru

Hal ini dilakukan dengan membuat kelas di luar ruangan ruangan. Saat belajar dilakukan dalam kelas, pintu dan jendela pun harus dibuka setiap saat. Tak lama, 65 sekolah lainnya lalu melakukan hal serupa dan mengadakan kelas di luar selama dua tahun.

Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa anak mungkin lebih cenderung memperhatikan apa yang mereka pelajari jika berada di luar. Terutama untuk kelas sains dan olahraga.

Hal ini sangat masuk akal, karena siapa yang tidak suka belajar tentang fotosintesis di luar kelas, melihat bunga dan pohon dengan matahari bersinar, dibandingkan dengan hanya mempelajari papan tulis atau buku teks dan terkurung di dalam?

Apapun bentuknya, anak tetap harus mendapat pendidikan. Untuk saat ini memang paling aman belajar di rumah, jika pandemi berakhir, belajar di luar ruangan mungkin bisa jadi dilakukan.

Sumber: Fatherly

Join Dream.co.id