Tahapan yang Harus Dilalui Anak untuk Memotivasi Diri Sendiri

Ibu Dan Anak | Selasa, 23 Februari 2021 10:06
Tahapan yang Harus Dilalui Anak untuk Memotivasi Diri Sendiri

Reporter : Mutia Nugraheni

Membantu anak untuk mengembangkan motivasi diri itu penting tetapi bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Dream - Keinginan kuat untuk melakukan atau menyelesaikan sesuatu tak bisa datang dari orang lain, harus dari diri sendiri. Memotivasi diri sendiri dalam banyak hal merupakan modal penting bagi anak-anak dan remaja.

Terutama ketika mereka mulai memiliki target tertentu yang ingin dicapai. Sebagai orangtua, tentu kita kerap mengingatkan dan menyuruh anak untuk terus mengejar apa yang diinginkan dan untuk masa depannya.

Setiap anak tentunya mempunyai motivasi diri yang berbeda-beda satu sama lain Shimi Kang, MD, psikiater anak dan orang dewasa, mengungkapkan dalam buku The Self-Motivated Kid; How to Raise Happy, Healthy Children Who Know What They Want and Go After it (Without Being Told), tentang motivasi diri pada anak-anak.

" Membantu anak untuk mengembangkan motivasi diri itu penting tetapi bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Motivasi diri ini pun sifatnya dinamis dan bisa bergantung pada berbagai faktor. Beberapa orang biasanya akan melewati beberapa tahap sebelum perilakunya berubah," ujar Kang.

 

2 dari 5 halaman

Tahapan Penting

Anak akan melewati beberapa tahapan ketika dia memotivasi dirinya sendiri. Pertama disebut dengan prakontemplasi. Tahap yang pertama ini yaitu ketika anak merasa bahwa tak ada yang perlu berubah dalam dirinya. Ia tak punya niatan untuk mengubah perilakunya.

Tahap yang selanjutnya yaitu kontemplasi. Anak mulai mempertimbangkan jika perilaku mereka berubah mungkin akan mendatangkan manfaat. Namun, buah hati mungkin masih berpikir apakah dia harus berubah atau tidak. Orangtua bisa membantu anak dengan menjelaskan keuntungan dan kerugian yang akan dia dapatkan dari mengubah perilakunya atau tidak.

Berikutnya yaitu tahap penentuan atau persiapan. Anak sudah mengetahui bahwa dia akan mendapatkan lebih banyak manfaat bila mengubah perilakunya tetapi sayangnya belum ada tindakan nyata yang dilakukan anak untuk berubah.

" Bila anak memang mengalami masalah ini coba bantu anak dengan membuka diskusi, apa yang harus pertama dilakukan, bisa jadi anak bingung sehingga dia pun bisa bertindak secara nyata," ungkap Kang.

Kemudian, memasuki tahapan yang lain yaitu tindakan. Di sinilah anak sudah percaya betul harus mengubah perilakunya dan mulai aktif melakukannya. Penjelasan selengkapnya baca di Diadona.id.

3 dari 5 halaman

Hindari Sikap yang Bikin Anak Tak Beranjak Dewasa

Dream - Sikap orangtua tentunya ingin selalu melindungi anak-anaknya. Tak mau melihat mereka sedih, apalagi sampai mengalami kesulitan. Segala cara akhirnya dilakukan untuk memberi kemudahan pada anak.

Nah, pada masanya, sikap ini harus dikesampingkan demi membuat anak bisa belajar dari pengalaman dan beranjak dewasa. Jangan sampai ketika anak sudah memasuki usia di mana ia harus mandiri, tapi justru orangtua yang tak mau 'melepaskannya'.

" Terkadang orangtua tanpa menyadari mengalami ketakutan ketika anak sudah dewasa. Merasa tak lagi dibutuhkan dan tak siap untuk dikesampingkan. Sikapnya jadi ingin menjaga kedekatan tapi malah mengambil langkah yang kurang tepat dan menghambat perkembangan mentalnya," kata Dr. Lara Friedrich, seorang psikolog keluarga, seperti dikutip dari PureWow.

Alih-alih, membuat anak siap menjadi pribadi yang dewasa, justru sebaliknya. Anak jadi tak berkembang dan menjadi dewasa. Untuk itu penting bagi orangtua untuk menghindari beberapa sikap berikut.

4 dari 5 halaman

Membuat keputusan apa pun untuk anak

Dalam hal membuat keputusan, terutama yang akan berdampak besar dibutuhkan pertimbangan yang mata. Menilai risiko, baik dan buruk. Kemampuan ini sangat dibutuhkan sebagai orang dewasa.

Jika orangtua selalu membuat keputusan untuk anak, mulai dari hal kecil hingga besar, kemampuan menimbang, analisis risiko serta menerima konsekuensi tak akan didapatkan anak.

" Hindari selalu membuat keputusan untuk anak, jangan anggap mereka hanya anak yang tak mengerti apa pun. Justru kita harus bisa melatihnya mengambil keputusan sendiri," ungkap Friedrich.

5 dari 5 halaman

Tak mau mendengar pendapat anak

Sikap ini cenderung sangat dominan pada orangtua. Merasa lebih tua, berpengalaman dan tahu lebih banyak sehingga tak mau mendengarkan pendapat anak. Padahal sejak kecil, anak sangat ingin mengemukakan pendapat.

Beranjak dewasa, ia ingin melakukan sesuatu yang diinginkannya. Pastinya, ingin didengar sudut pandangnya. Cobalah lebih terbuka dan membuat diskusi. Jangan langsung menghakimi.

 

Join Dream.co.id