Suami Istri Putuskan Tak Mau Punya Anak, Bagaimana Pandangan Islam?

Ibu Dan Anak | Sabtu, 21 Agustus 2021 10:26

Reporter : Mutia Nugraheni

Ada perbedaan pendapat ulama.

Dream - Setiap pasangan memiliki cara yang berbeda dalam membina rumah tangga, termasuk soal hadirnya anak dalam keluarga. Ada suami istri yang ingin memiliki banyak anak, dua anak, hanya satu anak, dan ada juga yang tak mamu memiliki anak.

Beberapa figur publik dan artis secara terang-terangan mengungkap kalau mereka tak ingin memiliki anak. Hal ini kerap disebut childfree. Keputusan tersebut memicu polemik dan kritikan. Pasalnya bagi mayoritas masyarakat, salah satu fungsi penting pernikahan adalah meneruskan keturunan.

Lalu bagaimana hukumnya dalam Islam jika pasangan suami istri memutuskan tak mau memiliki anak? Dikutip dari BincangSyariah.com, Syekh Syauqi Ibrahim Alam dari Dar Ifta Mesir, pernah mengeluarkan fatwa nomor 4713, 5 Februari 2019 terkait hadirnya keturunan dalam keluaran.

Pertama, dalam Islam tidak ada keterangan Al-Qur’an atau Hadis yang mewajibkan pasangan suami istri untuk punya anak. Berikut kutipan teksnya;

 Fatwa Syekh Syauqi Ibrahim Alam© Bincang Syariah

Artinya; Syariat tidak mewajibkan setiap orang yang menikah untuk memiliki anak, tetapi kebanyakan kaum muslimin pada umumnya untuk menikah dan memperbanyak anak. Dan keputusan itu tercukupi dengan dorongan untuk melakukannya dengan penjelasan sebagai tanggung jawab orang tua (suami-istri).

 

Suami Istri Putuskan Tak Mau Punya Anak, Bagaimana Pandangan Islam?
Ilustrasi
2 dari 6 halaman

Dibolehkan

Kedua, adanya kesepakatan suami dan istri tidak memiliki anak. Pasalnya, menjadi orang tua bukanlah hal yang sepele. Terdapat tanggung jawab besar. Orangtua bertugas menyayangi anak, membesarkan, memberikan perhatian, dan mendidik anak.

Kesepakatan suami istri tidak mempunyai anak merupakan hal yang dibolehkan dalam agama. Terlebih bila ada alasan jelas semisal adanya penyakit, khawatir tidak dapat menjaga, menyayangi dan mendidik anak dengan baik.

 Fatwa Syekh Syauqi Ibrahim Alam© Bincang Syariah

Artinya: Jika pasangan berpikir kemungkinan besar mereka tidak mampu untuk tanggung jawab ini, atau mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak untuk kepentingan tertentu, seperti jika melahirkan anak berbahaya bagi kesehatan istri, atau mereka takut kehancuran zaman—perubahan iklim sebab angka kelahiran, dan keduanya setuju untuk tidak memiliki anak, maka tidak ada yang salah/dosa dengan itu bagi mereka itu, Pasalnya tidak ada nash dalam Al-Qur’an yang melarang mencegah atau mengurangi kelahiran anak.

 

3 dari 6 halaman

Kesepakatan

Ketiga, ketidakinginan punya anak ini, menurut Syekh Ibrahim Alam, dianalogikan dengan kasus azal atau pemutusan sanggama sebelum mencapai orgasme sehingga sperma suami keluar diluar lubang vagina istri. Azal ini terjadi di era Nabi Muhammad dan para sahabat;

 Fatwa Syekh Syauqi Ibrahim Alam© Bincang Syariah


Artinya; Dan sepakat suami dan istri untuk mencegah kelahiran (chidfree) pada keadan ini diqiyaskan pada azal, dan terkait azal, para ulama sepakat bahwa sesungguhnya hukumnya adalah boleh,apabila ada kesepakatan suami dan istri.

Lebih lanjut, Mufti Mesir ini juga mengatakan childfree merupakan hak suami dan istri. Mereka boleh memutuskan untuk punya anak atau bukan. Hal itu adalah urusan individual.

 

4 dari 6 halaman

Imam Ghazali Menganggap Terlarang

Ada juga yang menjelaskan bahwa hukum childfree dalam Islam adalah haram. Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin terkait pentingnya anak. Hal ini juga yang menjadi hujjah sebagian ulama yang menyatakan childfree dalam Islam merupakan sesuatu yang terlarang. Imam Ghazali berkata:

 Imam Ghazali© Bincang Syariah


Artinya; pada usaha untuk memiliki keturunan merupakan ibadah dalam empat sisi. Yang menjadi alasan dasar dianjurkannya menikah ketika seseorang aman dari gangguan syahwat/hawa nafsu sehingga tidak ada seseorang yang senang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak menikah.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

5 dari 6 halaman

8 Hal yang Pengaruhi Akhlak Anak Menurut Islam

Dream - Akhlak merupakan dasar penting bagi kehidupan seorang muslim dan muslimah. Dikutip dari alirsyad.com, Akhlak menurut Imam Ghazali, adalah sesuatu yang mengakar kuat dalam jiwa seseorang dan mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan tanpa harus dipikir terlebih dahulu.

Jika perbuatan yang dilakukan baik maka disebut akhlak mulia (akhlak mahmudah). Tetapi, jika perbuatan yang dilakukan jelek maka disebut akhlak tercela (akhlak madzmumah).

Akhlak seorang anak sangat ditentukan dari lingkungan kehidupannya sehari-hari. Dasar utamanya adalah pendidikan dari orangtua. Tak hanya itu, ada juga faktor lain yang juga sangat mempengaruhi pembentukan akhlak anak.

Dikutip dari BincangSyariah.com, Syeikh Musthafa al-Adawy dalam kitab Fiqh Tarbiyat al-Abna mengatakan bahwa terdapat 8 hal yang dapat mempengaruhi perkembangan akhlak seorang anak. Ayah dan bunda penting untuk selalu mengingatkan dan membimbing anak agar memiliki akhlak yang baik sesuai tuntunan Islam.

 

6 dari 6 halaman

Apa saja delapan hal yang berpengaruh besar pada akhlak anak?

Pertama, saudara-saudara kandung dan kerabat- kerabatnya di rumah. Kedua, teman-teman di lingkungan sosial tempatnya tinggal. Seperti di sekolah, perpustakaan dan tempat belajar ngaji.

Ketiga, para pengajar, guru, pendidik, penjaga, pelatih yang mengajari anak-anak. Keempat, segala hal yang dia lihat, dengar dan baca yang berada di lingkungan tempat tinggalnya.

Kelima, keadaan negara di mana sang anak tinggal. Seperti akhlak, kebiasaan, sopan-santun, pemandangan dan situasi masyarakatnya. Keenam, tempat-tempat yang sering dikunjungi anak-anak untuk menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti masjid, mal, atau tempat lain.

Ketujuh, para tamu dan pengunjung yang datang ke rumah. Kedelapan, perjalanan, kunjungan dan tamasya yang anak-anak pernah lakukan.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id