Sikap Buah Hati yang Bisa Jadi Pertanda Stres

Ibu Dan Anak | Senin, 11 Oktober 2021 10:06

Reporter : Mutia Nugraheni

Waspada jika anak bersikap seperti ini.

Dream - Orangtua tentunya selalu menginginkan anak dalam kondisi bahagia dan sehat secara mental. Faktanya, anak juga kerap mengalami tekanan dan masalah yang mungkin bisa memicu stres pada dirinya.

Kehidupan seorang anak bisa sama stresnya dengan orang dewasa dan mereka tidak sepenuhnya siap untuk menangani stres ini secara sehat. Setiap anak bereaksi berbeda terhadap peristiwa yang membuat stres.

Bisa karena perceraian orangtua, kematian keluarga, kesulitan di sekolah atau pindah rumah. Anak membutuhkan bantuan dari orang dewasa atau orangtua untuk memproses stres ini," ungkap Amy Morin, seorang terapis keluarga.

Lalu apa tanda stres pada anak? Salah satu yang paling menonjol adalah perubahan sikap anak. Jika anak yang biasanya berperilaku baik tiba-tiba mulai marah atau mendapat masalah di sekolah, bisa menjadi tanda bahwa dia sedang stres.

" Tanda-tanda perilaku bahwa seorang anak sedang mengalami stres meliputi kemarahan, perilaku agresif, mantra menangis, dan pembangkangan. Ada sejumlah tanda non-perilaku juga. Seperti mengompol, keluhan sakit fisik seperti sakit perut atau sakit kepala, dan masalah akademik," ungkap Morin.

 

Sikap Buah Hati yang Bisa Jadi Pertanda Stres
Ilustrasi
2 dari 6 halaman

Perubahan Drastis

Dalam beberapa kasus, anak mungkin memilih untuk pergi atau menolak untuk terlibat pada aktivitas yang sebelumnya ia sukai. Dalam kondisi ini, orangtua memang harus lebih peka. Berusaha mencari tahu alasan anak mengalami perubahan sikap tanpa terlalu mendesaik.

" Terkadang, anak mungkin tidak ingin berbicara tetapi teruslah berusaha menunjukkan kasih sayang dan kepedulian. Menghabiskan waktu bersama sangat penting jika situasi stres terkait dengan perceraian atau kematian," kata Morin.

Perubahan drastis pada anak memang perlu dilihat lebih mendalam. Terutama jika anak menarik diri dan sulit berkomunikasi. Bila ini terjadi terus menerus, dan mengkhawatirkan kondisi anak, jangan segan untuk meminta bantuan profesial seperti psikolog anak.

Sumber: VeryWell

3 dari 6 halaman

Ayah Bunda, Asah Kecerdasan Emosi Anak Selama Pandemi

Dream - Mengasuh anak selama pandemi merupakan hal yang cukup berat bagi para orangtua. Kita harus menjaga kesehatan anak secara ekstra, tapi juga penting untuk memenuhi kebutuhannya emosinya.

Untuk perkembangan emosi, saat anak bermain, bertemu teman sebaya, berada di lingkungan baru, akan sangat melatihnya. Sementara saat pandemi, anak lebih banyak di rumah dan hanya bertemu dengan keluarga dekat saja.

Penting untuk tetap mengasah kecerdasan emosi anak meski di rumah. Lalu bagaimana caranya?

Biarkan anak memilih
Setiap anak memiliki pilihan. Jadi, berikan ia kepercayaan untuk memilih. Siapkan ia untuk menerima penolakan dan penerimaan hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya. Hal ini akan membantu anak untuk lebih berlapang dada.

Hindari membandingkannya
Setiap anak terlahir istimewa. Membandingkan anak secara fisik dan mental akan menyakiti hatinya dan membuatnya tidak percaya diri. Tentu, sebagai orangtua pun tak ingin dibandingkan bukan? Hal ini juga dialami anak-anak. Membandingkannya dengan anak lain akan berdampak buruk pada kecerdasan emosinya.

 

4 dari 6 halaman

Lakukan Juga Hal Ini

Jangan Selalu menyalahkan
Anak yang sering disalahkan akan tumbuh menjadi orang yang penakut dan tidak percaya diri. Melakukan kesalahan adalah hal yang wajar, namun bukan berarti selalu menyalahkan anak. Berikan anak keleluasan dalam membuat keputusan dan pilihan.

Kurangi Mendiktenya
Pandemi adalah masa-masa sulit bagi setiap orang. Tak terkecuali bagi anak-anak. Anak perlu belajar untuk memikirkan jalan hidupnya, seperti yang kita pahami bersama pandemi banyak mengubah cara pandang dan rencana hidup. Jadi, penting bagi anak untuk memahami tujuan hidupnya.

Selengkapnya baca di Fimela.

5 dari 6 halaman

Psikiater Anak: Jangan Jadikan Buah Hati 'Tong Sampah' Emosi

Dream - Belum ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 bakal berakhir. Prioritas saat ini adalah mampu bertahan hidup, menjaga kesehatan fisik maupun mental seluruh keluarga termasuk anak-anak.

Untuk menjaga kesehatan fisiknya, ayah bunda pasti sudah tahu hal-hal yang harus disiapkan dan dilakukan. Mulai dari menyiapkan makanan sehat, vitamin, masker hingga face shield.

Lalu bagaimana dengan kesehatan mental anak selama pandemi? Hal tersebut kerap kali luput dari perhatian.

Menurut dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K), spesialis kedokteran jiwa konsultan psikiatri anak dan remaja RS Pondok Indah Bintaro Jaya dalam webinar yang digelar RS Pondok Indah Group pada 29 Juni 2021, anak-anak jadi pihak yang paling terdampak karena pandemi dalam hal kesehatan mental.

" Anak tidak mengeluh ketika punya perasaan lonely/ kesepian, mereka tak bisa mengatakannya. Lebih banyak mengatakan bosan. Mereka harus kompromi dengan perubahan, gak bisa exercise, kalau pun bisa terbatas, belum lagi terjadi perubahan pola asuh selama pandemi. Misalnya terjadi permasalah ekonomi, masalah rumah tangga," kata dr. Anggia.

 

6 dari 6 halaman

Peka Terhadap Perubahan Anak

Penting bagi orangtua untuk memperhatikan perubahan sikap dan perilaku anak sehari-hari. Jika ada perubahan seperti menarik diri, lebih suka sendiri, sering mengeluhkan nyeri tanpa sebab, tak termotivasi, bisa jadi anak sedang mengalami stres.

Tanpa disadari, seringkali sikap orangtua saat di rumah dan kondisi pandemi membuat anak mengalami stres tinggi. Salah satunya karena orangtua meluapkan emosi negatif pada anak karena hal lain.

" Kita harus membantu diri kita dulu sebagai orangtua, perbaiki emosi kita dulu baru membantu emosi anak-anak agar bisa bertahan saat pandemi, dan sehat jiwa tentunya. Prinsipnya menjaga susasa hati mood orangtua. Jangan jadikan anak-anak tong sampah orang dewasa. Kalau di ruang praktik banyak yang cerita mereka dicurhati orangtuanya, anak-anak juga punya perasaan lho," ujar dr. Anggia.

Dokter Anggia mengingatkan para orangtua untuk menggunakan tiap kesempatan membangun kelekatan dengan anak. Eksplor hal lain di luar jam sekolah misalnya. Buat aktivitas menyenangkan bersama anak yang melibatkannya.

Kuncinya adalah benar-benar hadir untuk anak secara fisik dan pikiran. Jangan sampai saat bersama anak, otak dan pikiran malah tertuju pada gadget atau pekerjaan dan mengeluhkan banyak hal pada anak. Pasalnya, banyak orangtua saat sedang stres dan emosinya tak stabil malah melampiaskannya pada anak. Ini sangat berbahaya.

Join Dream.co.id