Sekolah Tatap Muka, KPAI Minta Orangtua Siapkan Mental Anak

Ibu Dan Anak | Kamis, 10 Juni 2021 10:05

Reporter : Mutia Nugraheni

Persiapan harus dilakukan dengan matang.

Dream - Sederet persiapan dilakukan sekolah dan pemerintah untuk membuka sekolah pada tahun ajaran baru Juli 2021 mendatang. Terkait hal ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta para guru dan orangtuajadi contoh perubahan perilaku bagi anak apabila pembelajaran tatap muka secara terbatas dilaksanakan.

" Kami juga meminta agar orangtua disosialisasi juga. Bukan cuma warga sekolah walaupun yang utamanya warga sekolah," kata Komisioner KPAI Retno Listyarti beberapa hari lalu, dikutip dari Liputan6.com

Menurut Retno, orangtua juga harus dididik untuk mempersiapkan dan mengedukasi anak-anaknya apabila akan melaksanakan pembelajaran tatap muka secara terbatas.

" Jadi diajarkan kenapa mereka tidak boleh ini, tidak boleh itu, kenapa harus pakai masker," ujarnya.

Menurut Retno, melatih anak untuk tahan menggunakan masker bisa dilakukan secara bertahap. Selain itu, guru pun juga didorong untuk harus dilatih menjelaskan materi pelajaran tanpa membuka masker.

" Itu penting karena kalau gurunya buka di dagu, anaknya ikut di dagu. Itu terjadi di beberapa sekolah yang kami awasi," kata Retno.

 

 

Sekolah Tatap Muka, KPAI Minta Orangtua Siapkan Mental Anak
Ilustrasi
2 dari 6 halaman

Siapkan Guru Bimbingan dan Konseling

Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati dalam kesempatan yang sama juga mengatakan bahwa orangtua punya peran untuk mempersiapkan mental anak-anak apabila akan kembali belajar tatap muka. Anak harus mendapatkan penjelasan bahwa bertemu teman-temannya merupakan bentuk pemenuhan kebutuhan manusia untuk bersosialisasi.

" Ajak ngobrol anak bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan di rumah, misalnya pelajaran yang sering jadi momok, orangtua tidak bisa mengajarkan, maka itu penting diajarkan oleh guru secara langsung di sekolah," katanya.

" Jadi kesiapan mental anak-anak ini juga penting. Untuk bangun pagi lagi, ini menjadi bagian yang tetap kita ajak mengobrol dari sekarang," lanjutnya.

Dalam rekomendasinya terkait pembelajaran tatap muka, KPAI mendorong agar sekolah tatap muka mengedepankan pembahasan materi-materi yang sulit. Terutama yang mengutamakan praktik dan sulit dilakukan jika hanya lewat daring.

KPAI juga mendorong agar belajar tatap muka dapat digunakan untuk memberdayakan para guru bimbingan dan konseling, untuk melayani konseling pada anak yang mengalami tekanan psikologis selama pandemi COVID-19.

3 dari 6 halaman

Sekolah Tatap Muka Saat Pandemi, Ini Risiko yang Mungkin Muncul

Dream - Tahun ajaran baru 2021 Juli mendatang, pemerintah rencananya akan membuka sekolah. Sejumlah aturan dan protokol kesehatan mulai disiapkan sejak hari ini. Antara lain para murid akan masuk sekolah maksimal dua kali dalam satu minggu dan maksimal 2 jam.

Situasi pandemi memang belum sepenuhnya terkendali. Belum lagi adanya varian virus Covid-19 baru yang lebih agresif. Vaksin Covid-19 untuk anak-anak usia 17 tahun ke bawah juga belum tersedia.

Dokter Adam Prabata, dokter yang juga PhD Candidate Medical Science di Kobe University, lewat akun Instagram resminya memaparkan sejumlah risiko yang mungkin muncul jika sekolah dibuka saat pandemi belum terkendali. Hal yang pertama adalah perkiraan angka kematian anak.

" Perkiraan CFR (case fatalitiy rate) atau rasio anak yang meninggal akibat Covid-19 dibandingkan dengan total kasus Covid-19 pada anak di Indonesia 0,26%," tulis Adam.

 

4 dari 6 halaman

Cakupan Vaksinasi Guru Masih Rendah

Risiko kematian tinggi bila anak mengalami Covid-19 berat dan memiliki komorbid. Pasalnya, menurut data sebanyak 40% anak yang didiagnosis Covid-19 di RSCM (mayoritas kondisi berat atau kritis) meninggal dunia. Adam memperingatkan perlu hati-hati pada anak dengan komorbid karena lebih berisiko mengalami sakit berat jika terkena Covid-19. Hal lain yang harus diwaspadai adalah Long Covid-19.

" Data dari Thomson,2021 sebanyak 12,9-14,5 % anak usia 2-16 tahun masih bergejala hingga 5 minggu setelah terkena Covid-19. Lebih dari 1200 anak yang terdata di Inggris dengan long covid-19 jumlahnya terus meningkat," ungkap dr. Adam.

Cakupan vaksinasi guru juga belum 100 persen. Menurut data, secara nasional vaksinasi Covid-19 guru baru sekitar 28% per 31 Mei.

" Pelaksanaan kembali sekolah tatap muka berpotensi memunculkan risiko penularan Covid-19 pada anak. Persiapan dan pelaksanaan protokol kesehatan yang sebaik-baiknya perlu dilakukan oleh sekolah dan negara untuk meminimalisir risiko terebut," tulis Adam.

Sumber: dr. Adam Prabata 

5 dari 6 halaman

Peringatan Penting Ketua IDAI Jika Anak Kembali Masuk Sekolah

Dream - Rencana sekolah kembali dibuka pada tahun ajaran baru mendatang kini tengah disiapkan. Beberapa sekolah untuk mulai melakukan simulasi dengan menerapkan protokol kesehatan.

Anak-anak datang ke sekolah dan yang masuk ke kelas hanya setengah dari jumlah total siswa. Syarat penting sekolah dibuka adalah guru dan tim di sekolah harus sudah divaksinasi Covid-19.

Terkait hal ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah memberikan rekomendasi untuk menunda pembukaan sekolah. Alasan utamanya adalah ditemukannya new variant of coronavirus sejak Maret 2021, cakupan imunisasi Covid-19 di Indonesia yang belum mencapai target.

Profesor Aman Pulungan, Ketua IDAI, menegaskan jika memang sekolah tatap muka dilakukan, maka ada sejumlah syarat ketat yang harus dipenuhi. Keamanan dan kesehatan anak-anak adalah yang utama.

" IDAI bersedia mengajarkan sekolahnya bagaimana harusnya. Misalnya kalau ada sekolah dalam ruangan di pake HEPA filter, tadi ada orang dari salah satu persatuan orangtua murid tanya sama saya, ternyata sekolahnya luas halamannya, nah buka saja di luar sekolahnya. Ada syarat lain lagi, gurunya semua harus divaksin," ungkap Prof Aman, dalam Live Instagram beberapa waktu lalu bersama dr. Tiwi.

 

6 dari 6 halaman

Pesan Penting Bagi Orangtua

Profesor Aman juga mengungkap kondisi sekolah di Australia dan Singapura yang mulai dibuka saat pandemi. Setelah dibuka, sekolah di Australia muncul 18 kasus positif Covid-19 pada murid dan 9 guru.

" Mereka sekolahnya pakai CCTV. Terpantau tertular dari mana. Sekolah di Indonesia bisa gak? Singapura juga seperti itu, awal sekolah sampai keluar pakai CCTV," ungkap Prof Aman.

Ia juga mensyaratkan jika ada satu kasus positif di sekolah setelah dibuka maka harus dilakukan PCR pada semua yang kontak pada hari itu. Ada langkah prosedur yang harus disiapkan jika terjadi penularan di sekolah. Ada lagi satu pesan yang diingatkan Profesor Aman pada orangtua yang mengirimkan anaknya ke sekolah saat pandemi.

" Bukan hanya cuci tangan, pakai masker. Satu lagi saya titip anak yang mau sekolah, orangtua harus tahu dr, dokter anak yangg harus dihubungi kalau ada apa-apa. UKS (Unit Kesehatan Sekolah) juga harus dibuka, harus lengkap," pesan Prof Aman.

Join Dream.co.id