Segera Lakukan Hal Ini Saat Anak Alami Kekerasan dari Pengasuh

Ibu Dan Anak | Rabu, 23 Juni 2021 14:08

Reporter : Mutia Nugraheni

Coba berusaha tenang dan pastikan anak sudah dalam kondisi yang aman.

Dream - Beredar video di media sosial anak perempuan dari Nindy Ayunda mendapat perlakuan kasar dari babysitter atau pengasuhnya. Nindy mengetahuinya dari rekaman kamera CCTV yang dipasang di kamar sang anak dan beberapa sudut rumah.

Hal itu tentu saja membuat Nindy geram dan berencana untuk melaporkan pengasuh anaknya itu ke pihak kepolisian. Pengalaman Nindy ini tentunya jadi pelajar berharga bagi banyak orangtua.

Terutama jika ayah dan ibu bekerja di luar rumah dan mempercayakan anak-anaknya pada pengasuh. Kita berharap yang mengasuh anak adalah pekerja yang baik dan bisa dipercaya tapi tak ada salahnya untuk melakukan pencegahan dan pengawasan seperti yang dilakukan Nindy.

Ia memasang CCTV di area rumah tempat favorit anak-anaknya bermain. Dari CCTV orangtua bisa memantau langsung yang terjadi di rumah melalui ponsel mereka. Jika terjadi kekerasan atau hal lain bisa langsung diketahui dan terekam.

Lalu bagaimana jika diketahui anak mengalami kekerasan dari pengasuhnya?

Pada anak yang masih belum bisa bicara atau dibawah satu tahun, dikutip dari MayoClinic, segeralah lakukan pemeriksaan fisik. Bawa anak ke dokter dan ceritakan situasinya.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik atau mungkin laboratorium dan tes lainnya untuk mengetahui kondisi anak. Hal ini sangat penting untuk megetahui sejauh apa kekerasan terjadi dan bisa jadi bukti untuk pelaporan ke pihak berwajib.

Pada anak yang sudah besar di atas 5 tahun, hal yang paling dikhawatirkan adalah kondisi psikologisnya dan trauma. Pemeriksaan fisik juga penting dilakukan tapi harus hati-hati dan sebaiknya di bawah pendampingan psikolog.

 

Segera Lakukan Hal Ini Saat Anak Alami Kekerasan dari Pengasuh
Nindy Ayunda
2 dari 5 halaman

Libatkan Bantuan Profesional

Orangtua penting untuk tidak panik dan berusaha mendampingi anak. Bila anak masih sulit diajak bicara, terus berikan pelukan hangat dan mintalah bantuan profesional seperti psikolog.

Untuk anak yang sudah bisa menggambarkan kondisi yang dialaminya, dengarkan mereka dengan baik. Validasi emosinya baik itu takut, marah, kecewa. Tetap tenang saat meyakinkan anak bahwa tidak apa-apa untuk membicarakan pengalaman itu, bahkan jika seseorang telah mengancamnya untuk tetap diam.

Fokus pada mendengarkan, bukan menyelidiki. Jangan mengajukan pertanyaan yang mengarah pada kondisi tertentu. Biarkan anak menjelaskan apa yang terjadi dan serahkan pertanyaan rinci kepada profesional. Biarkan anak tahu bahwa orangtuanya selalu dan akan mendengarkannya kapan saja.

3 dari 5 halaman

Orangtua Stres, Anak Kerap Jadi Korban Kekerasan di Rumah Saat Pandemi

Dream - Rutinitas berubah drastis selama pandemi Covid-19. Anak-anak harus bersekolah dari rumah, ayah pun harus ekstra bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Bagaimana dengan ibu? Tugasnya juga bertambah berkali-kali lipat. Mengurus rumah tangga, mendampingi anak belajar, termasuk juga kewajiban ekonomi bagi ibu bekerja. Hal ini membuat level stres orangtua, terutama ibu meningkat berkali-kali lipat.

Sebuah insiden memilukan baru saja terjadi di Lebak, Jawa Barat. Seorang ibu menganiaya anaknya yang berusia 8 tahun hingga tewas. Alasannya karena sang anak susah mengerti saat belajar di rumah.

Tentunya hal ini membuat miris banyak orang. Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi, menjelaskan, kekerasan anak merupakan satu bentuk perilaku yang dengan sengaja menyakiti secara fisik dan atau psikis seorang anak. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk merusak, melukai, dan merugikan anak.

" Dalam masa pandemi virus corona, tingkat kekerasan pada anak memang bisa meningkat. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Tapi, faktor utama yang mungkin memicu tindakan ini adalah kondisi ekonomi," kata Ikhsan.

“ Ketika orang tua stres karena kondisi keuangan yang semakin menipis, mereka jadi melampiaskan rasa marah dan kecewa pada anak,” sambungnya.

 

4 dari 5 halaman

Perubahan Drastis

Tidak hanya itu, Ikhsan juga menegaskan bahwa perubahan rutinitas dan ekonomi yang terjadi selama pandemi turut berperan dalam tingginya kasus kekerasan anak yang terjadi beberapa waktu belakangan.

“ Ekonomi, intensitas bertemu, pola interaksi, semuanya berubah. Ada orang tua yang melampiaskan stres karena kondisi ini. Dia berhenti kerja atau uang sehari-harinya terbatas, akhirnya meletakkan kekesalan ke anaknya,” tutur Ikhsan.

" Anak adalah sosok inferior, sedangkan orang tua adalah sosok superior yang merasa punya kuasa lebih atas apa yang terjadi dalam keluarga. Inilah yang menyebabkan anak jadi sasaran empuk bagi orang tua ketika mereka sedang marah, stres, atau kecewa,” lanjutnya.

 

5 dari 5 halaman

Belajar Mengontrol Diri

Menahan emosi memang bukan hal yang mudah, terutama jika stres dan cemas sudah menguasai diri. Meski demikian, sebagai orangtua yang seharusnya mengayomi anak, mengendalikan emosi merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan.

“ Sebagai orangtua, penting bagi Anda untuk memahami kapasitas masing-masing anak. Jika merasa emosi atau sedang tidak stabil, ada baiknya menarik diri dari orang sekitar untuk menenangkan diri. Sehingga, tidak melakukan tindak kekerasan pada anak,” jelas Ikhsan.

Selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id