Rutinitas yang Bikin Ikatan Orangtua Anak Makin Kuat

Ibu Dan Anak | Rabu, 27 Januari 2021 14:01
Rutinitas yang Bikin Ikatan Orangtua Anak Makin Kuat

Reporter : Mutia Nugraheni

Penting untuk memastikan bahwa kita menghabiskan waktu lima kali lebih banyak untuk hubungan yang positif dengan anak.

Dream - Semua orangtua mendambakan memiliki hubungan yang dekat dengan anak-anaknya. Hubungan yang memiliki ikatan dan kedekatan tak lantas muncul secara otomatis dan harus diusahakan, termasuk antara orangtua dan anak.

Saat hubungan kita dengan anak-anak kuat, kita akan menerima sebanyak yang kita berikan. Itulah yang membuat pengasuhan layak untuk semua pengorbanan.

" Hubungan dekat juga satu-satunya alasan mengapa anak-anak mau mengikuti aturan kita. Anak-anak yang merasa sangat terhubung dengan orangtuanya ingin bekerja sama, jika bisa. Saat anak mempercayai kita untuk memahami dan berada di pihak mereka, mereka termotivasi untuk mengikuti jejak kita," ujar Laura Markham, psikolog yang juga pendiri AhaParenting.

Ia mengingatkan kita bahwa kita membutuhkan lima interaksi positif untuk setiap interaksi negatif untuk menjaga hubungan tetap sehat. Orangtua cenderung menghabiskan begitu banyak waktu untuk membimbing - alias mengoreksi, mengingatkan, memarahi, mengkritik, mengomel, dan berteriak.

Penting untuk memastikan bahwa kita menghabiskan waktu lima kali lebih banyak untuk hubungan yang positif dengan anak. Berikut caranya.

 

2 dari 6 halaman

Pelukan dan Bermain

1. Berikan 12 pelukan setiap hari
Virginia Satir, seorang terapis keluarga mengungkap, " Kita membutuhkan 4 pelukan sehari untuk bertahan hidup. Lalu membutuhkan 8 pelukan sehari untuk pemeliharaan dan 12 pelukan sehari untuk pertumbuhan" .

Rangkul anak di pagi hari selama beberapa menit, dan terakhir di malam hari. Peluklah sebanyak mungkin kapan pun bisa dilakukan. Untuk anak yang lebih besar memang mereka sering menghindar, tapi kontak fisik yang menandakan kehangatan orangtua tetap sangat dibutuhkan anak-anak berapapun usianya.

2. Bermain
Tertawa dan permainan fisik membuat orangtua tetap terhubung dengan anak. Yaitu dengan menstimulasi endorfin dan oksitosin. Menjadikan tertawa sebagai kebiasaan sehari-hari juga memberi anak kesempatan untuk menertawakan kecemasan dan kekesalan yang dihadapinya.

 

3 dari 6 halaman

Membangun Koneksi

3. Terus membangun koneksi
Anak-anak mengalami kesulitan untuk beralih dari satu hal ke hal lain. Jika orangtua menatap mata anak, menyebut namanya dengan fokus dan selalu 'mengabsen' anak akan tersebut merasa memiliki koneksi.

Saat jauh, anak akan merindukan masa-masa ini. Terutama pada mereka yang harus tinggal jauh dari orangtua. Tak ada yang mampu menandingi kehangat keluarga.

4. Luangkan waktu untuk interaksi secara fokus
Jadwalkan waktu 15 menit dengan setiap anak, secara terpisah, setiap hari. Lakukan secara bergantian, tanya apa yang diinginkan anak dan lakukan apa yang ingin dilakukan bersama.

" Tuangkan saja cinta Anda pada anak dan biarkan dia mengarahkan. Cobalah aktivitas fisik atau permainan yang membuatnya tertawa. Anak butuh perhatian orangtuanya secara penuh," kata Makham.

4 dari 6 halaman

Kebiasaan Anak Ini Jadi Tanda Kecerdasan Emosi yang Baik

Dream - Aspek kematangan dan kecerdasan emosi pada anak merupakan hal yang tak boleh dianggap sepele. Kecerdasan emosi akan membuat anak tahan banting, tak mudah menyerah dan bisa mengatasi emosinya dengan baik.

Kecerdasan secara akademik memang penting, tapi tanpa kecerdasan emosi yang baik anak bisa jadi bermasalah dengan dirinya sendiri dan orang lain di kemudian hari, terutama ketika beranjak dewasa.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang cerdas secara emosional memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain dan mendapatkan nilai yang lebih baik.
Kecerdasan emosional berarti hubungan yang lebih berkualitas dan kesehatan mental yang lebih baik, dan perasaan yang lebih positif tentang apa yang sedang dikerjakan.

Lalu apa tandanya seorang anak memiliki kecerdasan emosi yang baik?

 

5 dari 6 halaman

Menggunakan kosakata untuk mengidentifikasikan emosi

Anak dengan kecerdasan emosional akan mahir dalam mengenali emosi mereka sendiri. Ia akan secara verbal mengungkapkannya secara detail. Merasa sedih karena sepatunya rusak dan tak bisa diperbaiki. Merasa senang karena mendapat hadiah dari gurunya dan perasaan lainnya, termasuk saat takut, panik dan lelah.

Mengenali emosi yang dimiliki orang lain

Kecerdasan emosional pada anak dapat membuat mereka merasakan bagaimana perasaan orang lain. Anak seringkali dapat menangkap isyarat nonverbal. Saat anak sudah bisa menangkap emosi orang lain berarti ia melakukan analisis. Hal ini menandakan emosinya sudah berkembang sangat pesat.

 

 

6 dari 6 halaman

Melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain

Anak juga dapat melihat dunia dari sudut pandang orang lain jika mereka memiliki kecerdasan emosional. Ketika anak dapat memahami perspektif orang lain, mereka cenderung akan bersikap empati, menangani konflik secara damai, tidak terlalu menghakimi, dan menghargai perbedaan.

Sigap dalam membantu orang lain

Anak dengan kecerdasan emosional lebih cenderung memperhatikan orang lain dan mencari cara untuk membantu. Mereka akan lebih fokus pada 'kita' dan lingkungannya daripada memikirkan dirinya sendiri

Berusaha mengelola emosi

Anak dengan kecerdasan emosional lebih mampu mengatur perasaan mereka agar tidak lepas kendali. Mereka tidak reaktif dan impulsif, dapat berhenti sebelum bertindak berdasarkan emosi mereka.

Laporan Annissa Wulan/ Sumber: Fimela.com

Join Dream.co.id