Psikolog Ungkap 'Over Parenting' Bagai Pisau Bermata Dua

Ibu Dan Anak | Rabu, 16 Juni 2021 14:10

Reporter : Mutia Nugraheni

Dampaknya ternyata jangka panjang.

Dream - Kehadiran orangtua memang sangat penting bagi anak, tapi pastikan lakukan secara proporsional atau secukupnya. Jangan sampai berlebihan atau over paranting yang justru malah bisa berdampak buruk bagi psikologis anak.

" Apa yang terjadi saat anak diasuh oleh orang tua yang selalu hadir mengatur setiap langkahnya? Dalam istilah pop psychology disebut sebagai " Helicopter Parents" . Terlalu melindungi anak sehingga anak tak memeroleh kesempatan untuk memiliki pengalaman dalam mengelola emosi negatif, seperti; marah, sedih, dan frustrasi termasuk dibatasi dalam berbagai kegiatan bermain dan melakukan eksplorasi," ungkap Roslina Verauli, seorang psikolog profesional dalam akun Instagram resminya.

Maksud hati orangtua mungkin ingin melindungi anak dari kegagalan, rasa kecewa dan kesedihan. Sayangnya, ketika dilakukan secara berlebihan, menurut Vera, malah membuat anak menjadi cemas dan mudah frustrasi.

" Anak tak terampil dalam membangun pertemanan saat di sekolah dasar, apalagi dalam menghadapi kegagalan. Anak tak merasa kompeten tentang dirinya dan selalu tergantung pada orangtua. Saat dewasa, anak bahkan tak mampu mengambil keputusan dan memecahkan masalah untuk dirinya sendiri," tulis Vera.

 

Psikolog Ungkap 'Over Parenting' Bagai Pisau Bermata Dua
Ilustrasi
2 dari 6 halaman

Berdampak Pada Pengelolaan Emosi

Ia juga memaparkan penelitian " Developmental Psychology" yang diterbitkan oleh American Psychological Association. Disebutkan anak yang tumbuh dalam pengasuhan orangtua yang berlebihan dalam mengarahkan dan membantu, justru berdampak negatif terhadap kemampuan anak dalam mengelola emosi dan perilaku.

Data lain dalam Journal of Child and Family Studies, 2013, menyebutkan bahwa anak yang sudah menunjukkan tingkat kecemasan yang tinggi di usia empat tahun ternyata diasuh oleh ibu yang cemas atau memiliki orangtua dengan pengasuhan ala " over-parenting."

" Hey, anak memang butuh kehadiran orang tua yang peka dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. Namun, anak juga butuh diberi ruang dan kesempatan untuk merasa gagal, tidak berhasil, mengelola emosi negatif saat merasa sedih atau kecewa. Agar kelak, anak merasa kompeten dan mandiri. Mampu mengelola dirinya sendiri," pesan Vera.

Sumber: Roslina Verauli

3 dari 6 halaman

4 Tanda Orangtua Sudah Ajarkan Kecerdasan Emosi Pada Anak

Dream - Kecerdasan emosi (atau dikenal sebagai emotional quotient/ EQ) adalah kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, dan mengelola emosi sendiri dengan cara yang positif. Hal ini berdampak pada pengelolaan stres yang baik, mampu berkomunikasi secara efektif, berempati dengan orang lain, serta bisa mengatasi tantangan dan meredakan konflik.

Kecerdasan emosi didapatkan bukan dalam waktu singkat. Perlu diajarkan, dicontohkan dan dilatih terus-menerus sejak dini. Sebagai orangtua, apakah ayah bunda sudah mengejarkan kecerdasan emosi pada buah hati?

Salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan untuk anak adalah membantu mereka mengelola emosinya. Berikut tanda jika orangtua sudah mengajarkan kecerdasan emosi pada anak.

Orangtua melatih anak untuk tak impulsif
“ Anak-anak pada dasarnya impulsif dan jika tidak dikendalikan mereka bisa menjadi orang dewasa yang impulsif,” kata Aleasa Word, pelatih kecerdasan emosional bersertifikat.

Impulsif merusak kecerdasan emosional, jadi ajari anak-anak untuk berhenti dan berpikir tentang apa yang mereka rasakan sebelum bertindak. Word menyarankan untuk menggunakan isyarat visual, seperti gelang khusus atau kata-kata pemicu untuk membantu anak-anak belajar cara berhenti. Jelaskan kepada anak-anak pentingnya meluangkan waktu lima detik untuk menanggapi apa pun, kecuali dalam keadaan darurat.

“ Anak-anak saya sendiri telah melihat ke atas, melihat ke bawah, melihat ke kiri, dan melihat ke kanan secara rutin sebelum merespons, demi memaksa mereka untuk berhenti sejenak,” kata Word, dikutip dari Readers Digest.

 

4 dari 6 halaman

Berdiskusi

Penting bagi orangtua untuk selalu meluangkan waktu berdiskusi dengan anak-anaknya. Hal yang dibahas bisa banyak hal, bukan hanya sekadar hal berat, tapi juga tema yang ringan. Kuncinya adalah saling mendengarkan.

“ Miliki waktu bicara untuk keluarga adalah wajib,” kata Tom Kersting, seorang psikoterapis.

Rata-rata orangtua menghabiskan tiga setengah menit per minggu untuk percakapan yang bermakna dengan anak-anak mereka. Ini sangat kurang, coba buat rutinitas seluruh keluarga untuk berbincang selama 15 menit per malam.

 

5 dari 6 halaman

Menerima emosi anak

Perasaan tidak ada yang benar atau salah, memang demikian adanya, dan setiap orang berhak atas perasaan mereka, termasuk anak saat mengalami perasaan tertentu. Selalu dorong anak untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui pertanyaan.

Misalnya, jika mereka terlihat sedih atau kesal dan tidak mau berbicara, orangtua dapat bertanya, 'Kakak/ adik terlihat murung diri hari ini, apakah sesuatu terjadi?. Jangan pernah menghakimi atau meragukan perasaan anak-anak. Cobalah berempati, bila tak punya kta positif yang ingin diucapkan lebih baik diam dan cukup beri pelukan hangat pada anak.

 

6 dari 6 halaman

Puji saat anak mampu mengendalikan emosi

Membesarkan anak yang memiliki kecerdasan emosi adalah proses yang lambat tapi sangat layak. Jadi, penting bagi orangtua untuk memberi pujian dan merayakannya saat anak mempu mengendalikan emosi.

Akui situasi di mana anak membiarkan emosinya kacau tetapi tetap terkendali. Pujilah dia karena itu. Katakan, 'Aku suka caramu mengontrol emosi saat adik terus mengganggu. Itu cara yang bagus untuk menghadapinya'.

Join Dream.co.id