Psikiater Ingatkan Orangtua Soal Otak Remaja

Ibu Dan Anak | Selasa, 17 Mei 2022 14:12

Reporter : Mutia Nugraheni

Hindari memberikan tuntutan kalau anak sudah mengerti tugas dan tanggung jawabnya.

Dream - Banyak orangtua yang beranggapan kalau anak-anak yang sudah menginjak usia remaja yaitu 17 hingga 19 tahun mulai berpikir kritis. Bisa membuat keputusan besar untuk dirinya sendiri dan melakukan pertimbangan yang rumit.

Faktanya ternyata tak demikian. Di sekolah mungkin anak merupakan sosok yang pintar secara akademis, tapi secara pemikiran dan psikologis mereka masih dalam tahap perkembangan. Menurut dr. Zulvia Oktanida Syarif, SpKJ dalam akun Instagramnya @dr.vivisyarif, otak remaja masih belum sempurna.

" Otak remaja itu masih dalam proses perkembangan, proses developmental stage. Kita harus berhenti berpikiran bahwa remaja itu adalah orang dewasa dalam versi mini, no. Mereka adalah anak-anak yang masih dalam fase transisi menuju fase dewasa," kata dr. Vivi.

 

Psikiater Ingatkan Orangtua Soal Otak Remaja
Remaja Dan Orangtua
2 dari 5 halaman

Perkembangan Otaknya Masih Belum Sempurna

Menurutnya, otak remaja masih mengalami perkembangan khususnya di prefrontal cortex, area yang paling akhir berkembang. Ini adalah area otak yang bertanggung jawab untuk pembuatan keputusan, penilaian dan perencanaan.

" Jadi pada remaja mereka sedang belajar melakukan abstract thinking, proses berpikir abstrak, jadi parents jangan berharap anak remaja sudah tahu mereka akan melakukan apa dalam sekian tahun ke depan, belum tentu. Mereka lagi belajar abstract thinking kayak orang dewasa," ujar dr. Vivi.

Ia juga menjelaskan di usia tersebut, anak masih berproses dalam menjalani tanggung jawab, melakukan pertimbangan secara moral suatu perilaku atau tindakan. Seringkali remaja melakukan hal impulsif dan hal itu karena kemampuannya itu menilai belum matang dan butuh pendampingan terus menerus dari orangtua.

" Jadi parents kita harus berhenti menuntut mereka sudah bisa melakukan abstract thinking, punya reasoning, jangan menuntut mereka harus bisa karena pada dasarnya memang belum bisa," pesan dr. Vivi.

Sumber: dr. Vivi Syarif

3 dari 5 halaman

4 Momen Paling Stres Saat Hadapi Anak Remaja

Dream - Seiiring bertambahnya usia anak, pola asuh orangtua akan berbeda. Tetnunya kita tak bisa bersikap seperti ketika anak balita, saat mereka sudah memasuki usia sekolah dasar.

Begitu pun ketika anak beranjak remaja, sikap dan pemikirannya akan jauh berbeda. Seringkali orangtua lupa hal tersebut dan tak menyesuaikan diri dengan perubahan anak.

Sebuah penelitian terhadap 1.000 orangtua dari remaja mengungkap, sebanyak 75% orangtua berpendapat bahwa usia 13-19 adalah tahun-tahun paling menantang dalam membesarkan anak-anak, dengan satu dari tiga (32%) mengakui bahwa mereka “ tidak siap" .

Ternyata mengasuh remaja tidak semudah yang dipikirkan orangtua. Ada momen yang paling menguras emosi dan dianggap memicu stres tinggi pada orangtua. Apa saja?

1. Menghadapi Perubahan Suasana Hati Remaja
Perubahan suasana hati atau mood anak remaja adalah hal yang paling menantang. Remaja bisa diam saja, menarik diri, selalu membantah dari yang awalnya bersikap baik namun moodnya berubah drastis. Hal ini jadi kondisi yang sering terjadi.

Kabar baiknya adalah seiring bertambahnya usia remaja, penelitian menunjukkan bahwa mereka mendapatkan kemampuan yang lebih baik untuk mengendalikan emosi. Konflik dengan orangtua mereda dan mereka umumnya belajar cara yang lebih adaptif untuk menghadapi suasana hati mereka.

4 dari 5 halaman

2. Membantu Remaja Membuat Pilihan Hidup yang Penting

Membantu anak remaja mereka membuat pilihan hidup yang penting membuat mereka stres. Apa yang membuat masalah ini semakin menantang adalah bahwa selama masa remaja, anak-anak harus membuat keputusan yang tak terhitung banyaknya tentang sekolah, teman-teman mereka, dan masa depannya.

Faktanya di usia remaja, bagian otak yang mengontrol pengambilan keputusan tidak sepenuhnya berkembang sampai awal masa dewasa. Dengan demikian, otak remaja yang sedang berkembang menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar untuk membuat keputusan yang buruk dan kurang mampu mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan mereka.

 

5 dari 5 halaman

3. Membiarkan Remaja Membuat Kesalahan

Menahan komentar, mencegah hal buruk, dan membiarkan anak remaja mereka melakukan kesalahan sendiri juga sangat memicu stres orangtua. Para ahli setuju itu adalah bagian penting dari perkembangan remaja. Membiarkan anak-anak belajar dari kesalahan mereka membantu membangun ketahanan dan sangat penting bagi perkembangan kemampuannya menangani masalah.

4. Perubahan Hormon
Adanya perubahan hormon merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan seksual remaja. Lonjakan hormon menguasai tubuh mereka dan memengaruhi segalanya mulai dari emosi dan suasana hati hingga perasaan seksual dan perilakunya. Beberapa orang tua mengakui bahwa ketika anak mereka memasuki masa remaja, rasanya seperti mengasuh anak yang sama sekali berbeda.

Dalam situasi ini penting untuk memperhatikan asupan gizinya setiap hari. Beri makanan kaya protein sehat dan pastikan anak memiliki aktivitas fisik yang baik. Sangat dianjurkan mereka memiliki jadwal olahraga rutin, seperti futsal, basker, ikut dance class dan semacamnya. Hal ini sangat membantu membuat mood remaja jadi lebih baik.

Sumber: RaisingTeenToday

Join Dream.co.id