Penyebab Masalah Perilaku Anak yang Sering Tak Disadari Orangtua

Ibu Dan Anak | Senin, 9 November 2020 12:04

Reporter : Mutia Nugraheni

Penelitian ini mengamati 10.000 anak dan sikap orangtua.

Dream - Anak-anak yang kerap tantrum, sulit tidur, selalu berpandangan negatif, sangat pemilih dalam hal makanan, pastinya butuh kesabaran ekstra untuk menghadapinya. Orangtua mungkin kerap dibuat kewalahan saat menghadapi sikap anak.

Rupanya hal ini juga terkait dengan pandangan orangtua tentang kehidupan. Ini adalah teori yang mendasari sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Journal Frontiers in Psychology.

Penelitian ini mengamati 10.000 anak dan sikap orangtua. Kecenderungan orangtua dianalisis mulai dari kehamilan hingga saat anak-anak berusia 57 bulan (hampir 5 tahun).

Menariknya, para peneliti menemukan bahwa ketika orangtua percaya apa yang terjadi pada mereka di luar kendali mereka, anak-anaknya cenderung menderita masalah perilaku. Sementara, saat ayah dan ibu percaya bahwa mereka memiliki kendali atas hidup mereka, anak-anak mengalami lebih sedikit masalah dengan makan, tidur, dan perilaku.

" Kami menemukan bahwa semakin besar derajat eksternalitas (keyakinan bahwa ada sedikit atau tidak ada hubungan antara apa yang kita lakukan dan apa yang terjadi pada kita) daripada internalitas (keyakinan bahwa apa yang terjadi pada kita terkait dengan apa yang kita lakukan) dari orangtua sebelum anak-anak lahir, semakin besar kemungkinan anak-anak akan mengalami kesulitan yang lebih besar dalam berperilaku, tidur, dan makan selama lima tahun pertama kehidupan mereka," ujar Stephen Nowicki, profesor psikologi di Emory University di Atlanta, dikutip dari Parents.

 

Penyebab Masalah Perilaku Anak yang Sering Tak Disadari Orangtua
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 7 halaman

Seimbang

Faktanya, ibu dengan apa yang disebut ciri eksternal ini cenderung tidak mengikuti kelas parenting, menyusui, dan mengimunisasi anak-anak mereka sepenuhnya. Tetapi tampaknya tidak masalah orangtua memiliki sudut pandang eksternal atau internal.

Pasalnya ketika salah satu orangtua berada di dalam (yaitu percaya bahwa mereka memiliki kendali lebih besar atas takdir mereka, atau mungkin merasa kurang berdaya tentang kehidupan), tampaknya tetap berdampak positif pada anak.

" Memang sulit untuk mengubah perspektif tentang kehidupan. Tetapi sejauh kita sebagai orangtua dapat menemukan cara untuk melihat segala sesuatu secara lebih positif, dan merasa dapat mengendalikan sebanyak mungkin aspek kehidupan kita, jelas ada manfaat yang sangat besar bagi seluruh keluarga," ungkap Nowicki.

 

3 dari 7 halaman

4 Tanda Ayah Bunda Termasuk Orangtua 'Helikopter'

Dream - Sudah sewajaranya jika orangtua ingin selalu melindungi dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak mau anaknya sedih, gagal, memiliki nilai buruk dan kecewa.

Sayangnya, banyak orangtua yang tak menyadari kalau anak perlu belajar dari pengalamannnya sendiri. Kegagalan, kesalahan, kecewa, juga merupakan proses belajar yang sangat penting bagi anak sebagai 'modal' kehidupan.

Ada istilah untuk para orangtua yang terlalu melindungi, menjaga dan mengontrol anak-anaknya. Mereka kerap kali disebut orangtua helikopter. Julukan ini sering diberikan kepada orangtua yang 'melayang' seperti helikopter di dekat anak-anaknya.

Perlindungan yang berlebih bahkan hingga anak-anak tak pernah belajar dari kesalahan dan kegagalan. Sikap orangtua ini juga dapat menghambat eksplorasinya. Tak ada yang melarang orangtua terlibat dalam kehidupan anak, tapi ada perbedaan besar antara membimbing dan terlibat dengan berlebihan, bukan?

Seringkali sikap 'helikopter' ini tak disadari para orangtua. Kenali tanda-tandanya.

 

4 dari 7 halaman

Selalu menyelesaikan masalah anak

Buah hati datang dengan berlinang air mata karena bertengkar dengan temannya. Ayah atau bunda langsung menghubungi orangtua teman si anak. Seluruh masalah yang dihadapi anak segera ingin diatasi dan anak tak dibiarkan memecahkan masalahnya sendiri.

Menghadapi situasi ini memang butuh sikap bijak. Saat anak bertengkar atau memiliki masalah dengan temannya, sebaiknya jangan ikut campur. Tawarkan solusi tapi biarkan anak yang memutuskan sendiri apa yang ingin dilakukannya.

 

5 dari 7 halaman

Tak mau anak gagal sekali pun

Jatuh dari sepeda, nilainya di sekolah menurun atau jelek, gagal ikut seleksi atau hal buruk lainnya memang terdengar sangat mengecewakan. Anak mungkin akan sedih tapi justru ia akan belajar banyak dari kegagalannya.

Jika orangtua selalu mencari cara agar anak berhasil, mental anak tidak akan terbentuk dengan baik. Tak terbiasa menghadapi stres dan kegagalan, anak cenderung mudah menyerah di kemudian hari.

 

6 dari 7 halaman

Mengerjakan PR Anak

Pernah melakukannya atau malah sering? Tugas dan PR anak dari sekolah mungkin sulit dan cukup banyak, tapi jangan sampai orangtua yang mengerjakannya. Cukup mendampingi dan memberi bantuan seperlunya.

Tingkat stres anak yang muncul dari tugas sekolah sebenarnya cukup sehat. Dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalahnya. Biarkan anak-anak menyelesaikan sendiri. Puji usaha buah hati saat mereka menghadapi situasi sulit

 

7 dari 7 halaman

Membuat jadwal anak secara ketat

Tak mau anak membuang waktu dan mengalami kegagalan, jadwal hariannya dibuat oleh orangtua. Hal ini memang membuat anak lebih disiplin, tapi akan jauh lebih bijak jika pendapat dan kebutuhan anak juga diakomodir.

Ada kalanya anak kelelahan, jenuh, sakit dan tak bisa mengikuti jadwal. Anak juga butuh waktu bermain dan bersosialisasi. Libatkanlah anak dalam membuat jadwal hariannya.

Sumber: WebMD

Join Dream.co.id