Pengalaman Dokter Tangani Bocah yang Telan Cairan Pembersih

Ibu Dan Anak | Rabu, 24 November 2021 10:05

Reporter : Mutia Nugraheni

Pastikan menaruh cairan berbahaya di tempat yang sulit dijangkau anak.

Dream - Bagi Sahabat Dream yang masih memiliki anak usia di bawah lima tahun dan penuh rasa penasaran, pastikan menaruh cairan pembersih di tempat yang sulit dijangkau anak. Bisa ditaruh di rak tinggi atau lemari yang selalu terkunci rapat.

Jangan sampai mengalami kasus yang pernah ditangani dr. Ariani Dewi Widodo spesialis anak yang praktik di RSAB Harapan Kita. Lewat akun Instagramnya @dr.ariani, ia menceritakan pengalamannya saat menangani pasien anak yang menelan cairan pembersih.

" Betapa kalutnya orangtua saat si kecil tiba-tiba menjerit2 kesakitan karena menelan cairan pembersih lantai P*RSTEX. Ia segera dilarikan ke IGD dan dirawat di ICU dalam keadaan kritis, dan harus puasa selama berminggu-minggu karena saluran cernanya rusak parah. (Lebih gawatnya lagi ia harus dirawat di ICU ruang isolasi karena PCR covid-19 positif)," tulis dr. Ariani.

Dari hasil rontgen, cairan yang masuk ke lambung tidak mengalir ke usus 12 jari seperti seharusnya. Jaringan rusak hingga jalur keluar lambung tertutup.

 Rontgen© Instagram @dr.ariani

" Endoskopi dilakukan untuk melihat apakah masih ada sedikit sisa lubang yang bisa dilebarkan dengan balon. Ternyata benar2 buntu! Dr @kozzy.ba melakukan operasi untuk membuatkan saluran keluar baru dari lambung ke usus halus. Syukurlah semua berjalan lancar, and here we are, berjumpa kembali dalam keadaan sehat!," ungkap dr. Ariani.

Ia pun mengingatkan para orangtua untuk menaruh berbagai cairan berbahaya jauh dari jangkauan anak-anak. Hindari juga memindahkannya ke wadah lain yang mirip botol minum. Bila terminum akan sangat fatal akibatnya bagi kondisi organ dalam.

 

Pengalaman Dokter Tangani Bocah yang Telan Cairan Pembersih
Ilustrasi/ Foto: Shutterstock
2 dari 5 halaman

Dokter Ingatkan Tanda Disleksia Anak, Penting Diwaspadai Saat SFH

Dream - Kemampuan membaca merupakan hal yang sangat mendasar. Pada beberapa anak, ada yang sangat sulit untuk membaca. Kondisi tersebut bisa mengindikasikan disleksia yaitu gangguan di mana seseorang mengalami kesulitan membaca, menulis, dan mengeja.

Disleksia umumnya terjadi pada anak-anak, dan dapat terjadi pada mereka yang memiliki intelegensi lebih dari rata-rata. Dokter Citra Melinda, spesialis anak, lewat akun Instagram resminya @citra_amelinda mengungkap kalau disleksia umumnya terjadi di dua tahun pertama mulai sekolah saat anak baru bisa membaca.

" Anak-anak dengan disleksia memiliki kesulitan membaca dan mengeja kata-kata. Disleksia bukan merupakan masalah kecerdasan, anak disleksia pintar seperti anak lainnya namun terdapat kelainan dalam memproses bahasa," tulis dr. Citra.

 

 

3 dari 5 halaman

Perhatikan Tanda Berikut

Ia menjelaskan kalau memang agak sulit mendeteksi disleksia pada anak pra sekolah. Jika orangtua lebih peka, mungkin bisa melihat tanda-tanda berikut.

- salah mengucapkan banyak kata
- tidak bisa memainkan intonasi atau kesulitan mengicapkan kata yang huruf awalnya sama seperti " saya suka sekali"
- sangat kesultan mengulang kata dan kaliman panjang dibandingkan teman seusianya
- sulit menyambungkan huruf dan melafalkannya
- cenderung menebak dan menghafal kata dibandingkan membaca
- kesulitan mengeja dan membaca dibandingkan anak seusianya

" Walaupun begitu tingkat intelejensia anak dengan Disleksia sama dengan anak normal namun otak mereka memproses bahasa dengan cara yang berbeda," ungkap dr. Citra.

Untuk mengetahui kondisi anak secara detail jangan segan untuk berkonsultasi dengan dokter anak agar mendapat diagnosis dan penanganan dan terapi yang tepat.

4 dari 5 halaman

Anak Masih Sekolah Online, Pastikan Tidak Lakukan Ini

Dream - Hingga saat ini kasus Covid-19 di Indonesia masih sangat tinggi. Kebijakan PPKM kembali diperpanjang dan sekolah belum dibuka untuk tatap muka. Hal ini demi kesehatan dan keselamatan anak-anak.

Belajar secara online memang tidak mudah. Baik bagi anak-anak, orangtua yang mendampingi, serta guru di sekolah. Sebisa mungkin dengan keterbatasan yang ada, penting bagi orangtua untuk memaksimalkan belajar online.

Bagaimana caranya? Pastikan anak tidak melakukan hal berikut

Belajar di tempat tidur
Saat anak sedang tak bersemangat, mungkin ia akan membawa laptop atau tablet ke tempat tidur. Anak mendengarkan guru sambil berbaring. Hal ini bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Terutama dalam hal kesehatan otot dan tulangnya.

" Ketika duduk di tempat tidur membungkuk di atas layar komputer, seluruh tulang belakang melengkung ke depan dengan berat tubuh bagian atas dan kepala terus-menerus ditarik ke bawah," kata Kaliq Chang, M.D., spesialis manajemen nyeri di Atlantic Spine Center.

Hal ini menyebabkan tulang belakang duduk dalam posisi yang tidak wajar. Bisa menimbulkan rasa nyeri hingga sakit kepala. Dalam kondisi ini anak akan kehilangan konsentrasi.

 

5 dari 5 halaman

Hindari Juga Hal Ini

Mengenakan piyama dan tak mandi
Wajar jika belajar dari rumah aturan pakaian lebih " longgar" tapi jangan sampai anak sekolah masih dengan piyama tidurnya. Buat rutinitas, agar anak tahu batasannya.

" Menjaga rutinitas yang membuat batasan antara waktu sekolah dan waktu non-sekolah sangat penting," kata Rachel Busman, Psy.D., dari Child Mind Institute.

Bersiap-siap sebelum sekolah termasuk bangun pada waktu yang sama setiap pagi dan mengganti piyama, adalah sinyal ke otak dan tubuh bahwa sudah waktunya untuk bekerja.

Melewatkan jadwal makan
Setelah bangun dan bersiap, anak seringkali langsun online tanpa sarapan. Saat pembelajaran dimulai, mereka merasa pusing karena belum makan. Akhirnya makan terburu-buru di sela istirahat.

Kebiasaan ini sangat tidak baik. Jadi pastikan sebelum anak belajar, sarapan lebih dulu. Tetap buat jadwal makan yang teratur, karena jika asupan nutrisi terpenuhi konsentrasinya jadi lebih baik.

 

 

Join Dream.co.id