Penasaran Ingin Buka Ponsel Anak Remaja? Ini Saran Psikolog

Ibu Dan Anak | Senin, 17 Januari 2022 10:05

Reporter : Mutia Nugraheni

Tak boleh memaksa dan harus hargai privasi anak.

Dream - Anak-anak yang mulai memasuki usia remaja kerap menarik diri. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan cenderung malas berkomunikasi terbuka dengan orangtua. Perlukah orangtua sampai mengecek apalagi memaksa anak untuk membuka isi ponselnya?

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., seorang psikolog profesional, mengecek ponsel remaja sebenarnya boleh-boleh saja, asalkan ada persetujuan dari sang anak.

“ Jika anak menolak untuk memberikan ponselnya, maka tanyakan alasannya. Jangan memaksa karena ini bisa membuat perdebatan antara orangtua dan anak. Anda juga harus menghargai privasi anak jika mereka menolak untuk memberikan ponselnya,” ujar Ikhsan, dikutip dari KlikDokter.com.

Ia menganjurkan, bila orangtua ingin tahu masalah atau kondisi anak, maka bangunlah komunikasi yang baik. Komunikasi memegang peranan yang sangat penting.

“ Yang terpenting adalah membuat anak nyaman ketika berkomunikasi dengan kita. Sehingga tanpa kita cari tahu apa yang ada di handphone-nya itu, anak sudah bisa menceritakan kepada orangtua. Ini karena rasa percaya antara anak dengan orangtuanya sudah terjalin," kata Ikhsan.

 

Penasaran Ingin Buka Ponsel Anak Remaja? Ini Saran Psikolog
Remaja Menggunakan Ponsel/ Foto: Shutterstock
2 dari 6 halaman

Komunikasi

Bila orangtua tetap memaksa melihat isi ponsel anak, bukan tidak mungkin akan terjadi perang dingin antara orangtua dan anak. Tak heran juga bila anak menjadi malas terbuka apalagi bercerita tentang masalah yang sedang mereka hadapi.

Menurut Ikhsan, tidak ada cara khusus untuk memantau ponsel anak tanpa risiko berdebat. Ia menganjurkan orangtua untuk menanyakan langsung kepada anak mengenai hal-hal yang terjadi dengan dirinya belakangan ini. Cara ini tergolong lebih efektif ketimbang mengecek ponsel mereka diam-diam.

“ Jika memang tujuannya ingin tahu lokasi mereka demi keamanan anak, maka bisa diskusi dan buat kesepakatan bahwa orangtua akan memantau si anak. Jika anak bersedia, maka silakan saja. Apabila anak tidak keberatan untuk memberikan ponselnya untuk dicek, maka silakan lakukan,” kata Ikhsan.

Selengkapnya baca di sini.

3 dari 6 halaman

Cara Jitu Biar Ayah Tak Kesulitan Komunikasi dengan Putri Remajanya

Dream - Masa remaja bisa menjadi masa yang sulit bagi ayah dan anak perempuan. Ketika gadis kecil tumbuh menjadi wanita muda, mungkin sulit bagi ayah untuk mencari tahu bagaimana cara 'masuk' ke dunia mereka.

Dalam momen ini, seringkali ayah jadi sosok yang galak, kaku dan tak mau berkompromi. Alasannya, tentu saja untuk melindungi putri kesayangan mereka. Sayangnya hal ini justru membuat hubungan keduanya malah merenggang.

“ Sebagai orang tua, peran kita berubah dari waktu ke waktu. Ketika anak perempuan masih balita, tugas kita adalah melindungi mereka secara fisik dan emosional, tetapi seiring bertambahnya usia kita harus mengambil lebih banyak peran sebagai 'konsultan'," kata Jerry Bubrick, PhD, psikolog klinis di Child Mind Institute, dikutip dari Child Mind.

Konsisten menjaga komunikasi tetap baik di momen transisi anak perempuan ke usia remaja memang sangat menantang dan menguras emosi bagi para ayah. Untuk tetap berjalan dengan baik, coba lakukan beberapa hal berikut, yang sangat direkomendasikan para psikolog anak.

 

4 dari 6 halaman

1. Jadilah pendengar yang baik

Ketika anak-anak masih kecil, penting untuk menjadi selalu memberi tahu, seperti " Jangan lari!" , " Jangan sentuh air panas" , " Tak boleh bicara dengan orang asing" .

Saat anak perempuan mulai remaja, hal itu tak bisa diterapkan. Pemikirannya mulai kritis, mereka punya argumentasi sendiri dan mulai mencari lebih banyak kebebasan.

“ Daripada membuat keputusan untuk mereka, coba untuk membimbingnya untuk membuat keputusan yang cerdas bagi diri mereka sendiri," kata Bubrick.

Membicarakan masalah bersama, alih-alih hanya memberikan solusi. Buka diskusi, ini akan membantu putri kesayangan merasa lebih nyaman datang kepada ayahnya saat ia ada masalah. Hal ini juga akan membantu anak keterampilan berpikir kritis yang sangat penting dan bakal dia gunakan sepanjang hidupnya.

 

5 dari 6 halaman

2. Diskusikan, jangan hanya mendikte

Mengambil komunikasi yang tidak terlalu otoriter tidak berarti melepaskan semua aturan. Selalu sediakan ruang untuk diskusi dan negosiasi. Ini memberi anak-anak kesempatan untuk mengatakan apa yang paling penting bagi mereka, sehingga mereka memiliki dukungan.

“ Ketika diskusi dibuka berarti kita berusaha memahami anak, begitu pun anak akan menyiapkan argumentasinya. Dari sini kita bisa berbagi pengalaman dan memberi bimbingan, bukan perintah yang kaku," ujar Bubrick.

 

6 dari 6 halaman

3. Jangan pelit pujian

Ketika anak perempuan sedang dalam masa remaja, masalah yang kerap dihadapinya adalah masalah kepercayaan diri. Terutama dalam hal penampilan. Saat anak perempuan tumbuh dewasa, ibu cenderung memimpin dalam percakapan pribadi dan menawarkan dukungan dan dorongan, dan ayah cenderung jadi penonton.

Sebaiknya, ayah lebih proaktif, terutama dalam melontarkan pujian. Misalnya saat anak berpakaian dengan warna cerah, saat hasil ulangannya bagus, atau ketika ia membuat masakan, lontarkan pujian. Ini akan sangat berdampak pada rasa percaya dirinya.

4. Biarkan anak yang memimpin

Obrolan singkat dalam perjalanan ke atau dari sekolah memang menyenangkan, tetapi untuk benar-benar menjalin hubungan, ayah juga perlu terlibat dengan hal-hal yang dia minati.

Menunjukkan minat pada hal-hal yang remaja putri sukai tidak harus rumit. Sesederhana mendengarkan musik favoritnya bersama, menonton pertunjukan bersamanya, atau pergi bersepeda bersama.

" Hal terpenting adalah dengan membiarkan dia memimpin, komunikasikan bahwa ayah menghargai minatnya. Hal ini akan membuat remaja perempuan anak merasa sangat dimengerti dan dihargai. Pada akhirnya, komunikasi pun jadi lebih baik dan lancar," ungkap Burbick.

 

Join Dream.co.id