Pandangan Islam Mengggelar Ritual Adat Saat Hamil

Ibu Dan Anak | Selasa, 23 November 2021 12:06

Reporter : Mutia Nugraheni

Simak penjelasannya.

Dream - Menyambut hadirnya anak dalam keluarga bagi masyarakat Indonesia adalah sebuah momen yang sangat berharga. Bukan hanya melibatkan suami istri tapi juga keluarga besar.

Terutama bagi masyarakat Jawa yang kerap menggelar ritual empat bulanan (Ngupati/ Mapati) dan tujuh bulanan (Tingkeban). Para sesepuh dan kerabat diminta datang untuk ikut mendoakan dan makan bersama, serta terlibat dalam ritual khas.

Lalu bagaimana Islam memandang ritual tersebut? Dikutip dari NU Online, memang tidak ada dalil atau anjuran dalam Islam untuk melakukan ritual tersebut, tapi hal ini tak lantas membuatnya dilarang.

Saat janin berusia 4 bulan, ketika itulah malaikat mendatangi dan meniupkan ruh atas perintah Allah SWT. Ritual empat bulanan yang juga disertai doa bersama, tentunya berharap takdir dan harapan baik bagi janin dalam kandungan ibu.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim yang disebutkan bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallama bersabda:

 HR Muslim© NU Online


Artinya: “ Sesungguhnya setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari (berupa sperma), kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari pula, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari juga. Kemudian diutuslah seorang malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal; rejekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia menjadi orang yang celaka atau bahagia.” (Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2008, jil. VIII, juz 16, hal. 165).

Pada saat ditiupkan ruh, para ulama mengajari kita sebagai umatnya untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar janin yang ada di kandungan diberi ruh yang baik dan juga rupa tubuh yang sempurna tak kurang suatu apa pun.

 

Pandangan Islam Mengggelar Ritual Adat Saat Hamil
Upacara Tujuh Bulananadat Jawa/ Foto: Shutterstock
2 dari 5 halaman

Memohon Keselamatan dan Pertolongan Allah SWT

Memasuki usia kandungan 7 bulan, kehamilan semakin besar. Janin pun bertambah berat dan ibu juga bersiap untuk menjalani persalinan. Kehamilan tak selalu mudah, ada kalanya terasa berat terutama saat hamil besar.

Untuk itulah memanjatkan doa memohon pertolongan kepada Allah SWT penting dilakukan. Bukan hanya berdoa sendiri, tapi juga berdoa bersama keluarga dekat. Seperti firman Allah SWT dalam surah Al-A’raf ayat 189:

 Al Araf ayat 189© NU Online

Artinya: “ Dia lah dzat yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu dan darinya Dia ciptakan istrinya agar ia merasa senang kepadanya. Maka ketika ia telah mencampurinya, sang istri mengandung dengan kandungan yang ringan dan teruslah ia dengan kandungan ringan itu. Lalu ketika ia merasa berat kandungannya keduanya berdoa kepada Allah Tuhannya, “ Apabila Engkau beri kami anak yang saleh maka pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Ritual adat yang dilakukan ternyata tak lepas dari permohonan kepada Allah SWT agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Keluarga pun memohon keberkahan dengan berdoa bersama, serta mempererat silahturahim dengan kerabat yang datang dan turut mendoakan.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

3 dari 5 halaman

Akikah Anak Lelaki Dicicil, Bolehkah dalam Islam?

Dream - Penyelenggaraan akikah dengan memotong dua kambing saat lahir anak lelaki, dicontohkan oleh Rasulullah. Banyak sekali hikmah dari akikah. Antara lain merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT, menyiarkan nasab anak dan menyenangkan hati keluarga serta kerabat dengan membuat jamuan atau memberi hidangan kambing.

Untuk pelaksanaan akikah sendiri, jika yang lahir adalah anak perempuan, disunahkan untuk memotong satu kambing. Sementara jika yang lahir anak lelaki maka memotong dua kambing.

Lalu bagaimana jika uang yang ada hanya cukup untuk satu kambing sementara yang lahir adalah anak lelaki? Bolehkah dicicil, menyembelih satu kambing dulu, baru kemudian setelah uang terkumpul menyembelih satu lagi?

Dikutip dari BincangSyariah, menurut para ulama, hukum mencicil akikah untuk anak itu tidak boleh. Ini karena mencicil akikah itu sama dengan mengulang akikah itu sendiri. Sementara mengulang akikah yang sudah dinilai sah secara syariat hukumnya tidak boleh.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawa berikut;

 Penjelasan Imam Al-Suyuthi© Bincang Syariah

Artinya: Dan akikah tidak boleh diulang sampai dua kali.

Oleh karena itu, jika seseorang telah melakukan akikah untuk anak laki-lakinya dengan seekor kambing, maka hal itu sudah dinilai cukup dan sah. Ia tidak perlu mengulang akikah lagi untuk mencicil dan melengkapi kekurangan kambing akikah sebelumnya. Mengulang akikah dapat merusak akikah sebelumnya yang sudah dinilai cukup dan sah secara syariat.

4 dari 5 halaman

Satu Kambing Dibolehkan

Di antara dalil yang dijadikan dasar oleh para ulama bahwa melakukan akikah untuk anak laki-laki dengan seekor kambing boleh dan sah adalah hadis riwayat Imam Abu Daud dari Ibnu Abbas, dia berkata;

  Riwayat Imam Abu Daud© Bincang Syariah

Artinya: Sesungguhnya Nabi Saw pernah melakukan akikah untuk Hasan dan Husain, masing-masing satu ekor gibas (domba).

Dalam hadis ini disebutkan bahwa Rasulullah mengakikahi Hasan dan Husain masing-masing dengan satu kambing. Ini menunjukkan bahwa mengakikahi anak laki-laki dengan seekor kambing adalah boleh dan sah secara syariat.

 

5 dari 5 halaman

Penjelasannya

Dalam kitab Al-Muhadzdzab, Imam Abu Ishaq Al-Syairazi menegaskan kebolehan akikah dengan satu ekor kambing ini untuk anak laki-laki. Beliau berkata sebagai berikut;

 Penjelasan Imam Abu Ishaq Al-Syairazi© Bincang Syariah

Artinya: Jika masing-masing anak baik laki-laki maupun perempuan diakikahi dengan satu ekor kambing, maka itu boleh karena ada riwayat dari Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Nabi Saw mengakikahi Hasan dan Husain masing-masing satu kambing gibas (domba).

Sumber: BincangSyariah

Join Dream.co.id