Orangtua Tak Suka Matematika Ternyata Bisa 'Menularkan' ke Anak

Ibu Dan Anak | Sabtu, 24 Oktober 2020 10:18
Orangtua Tak Suka Matematika Ternyata Bisa 'Menularkan' ke Anak

Reporter : Mutia Nugraheni

engajarkan anak matematika merupakan tantangan tersendiri.

Dream - Anak belajar di rumah selama pandemi selama berbulan-bulan. Orangtua tentunya berperan besar dalam mendampingi anak belajar. Sayangnya, tak semua pelajaran anak bisa diajarkan oleh orangtua.

Salah satunya matematika yang tak semua orang bisa. Mengajarkan anak matematika merupakan tantangan tersendiri. Akan semakin sulit jika orangtua juga termasuk yang tak suka dengan pelajaran yang penuh perhitungan ini.

Sebuah penelitian di University of Chicago menemukan bahwa orangtua yang cemas tentang matematika menurunkan kecemasan itu kepada anak-anak mereka. Ini membuat secara tidak sengaja, anak juga cenderung buruk dalam pelajaran matematika.

 

2 dari 6 halaman

Cari Solusi

Studi yang dipublikasikan di Psychological Science, melibatkan 438 siswa kelas satu dan dua dari 29 sekolah negeri dan swasta di tiga negara bagian Midwestern. Mereka mengamati kecemasan matematika pada awal dan akhir tahun sekolah dan bahkan meminta orang tua mengisi kuesioner tentang seberapa sering mereka membantu anak-anak mereka dengan pekerjaan rumah.

Kesimpulannya, orangtua dengan kecemasan karena pelajaran matematika secara tidak sengaja membuat situasi menjadi lebih buruk bagi anak-anak mereka. Bila memang kesulitan mengajarkan anak-anak terkait matematika, bisa mencari solusi lain.

Misalnya, merekrut tutor khusus untuk anak, membicarakan dengan gurunya atau mungkin minta kerabat atau saudara dekat untuk mengajarkannya. Hal ini akan lebih bijak daripada malah 'menularkan' kecemasan yang bisa berdampak buruk pada anak.

Sumber: Today Parents

3 dari 6 halaman

Buah Hati Sangat Tak Fokus Belajar di Rumah? Ini Cara Membantunya

Dream - Anak tak fokus saat belajar di rumah jadi salah satu keluhan yang kerap dilontarkan orangtua selama pandemi. Materi pelajaran yang disampaikan melalui video maupuum Zoom dan Gmeet kerap tak diperhatikan anak dengan baik.

Ada juga anak yang mudah fokus, tapi ada juga yang sangat sulit. Orangtua memiliki peran penting dalam membantu anak dengan rentang perhatian yang pendek atau yang mengalami kesulitan fokus.

" Bagaimana kita merespons saat anak tak fokus,  menuntunnya mencari solusi, akan sangat membantunya," kata Ashley Abramson seorang pakar pengasuhan anak, dikutip dari Fatherly.

Jika tujuan kita adalah untuk mengembangkan rentang perhatian yang lebih lama pada anak, ingatlah bahwa fokus adalah sebuah keterampilan. Dengan sedikit bantuan strategis dan kesabaran, kita bisa melatih fokus anak jadi lebih baik.

Coba beberapa cara berikut

 

4 dari 6 halaman

1. Perhatikan kecenderungan anak

Selalu ada sesuatu yang memicu keharusan mengingatkan anak untuk kesekian kalinya fokus pada tugas, kelas dan hal lainnnya terkait akademik. Ingatlah bahwa karena fokus adalah keterampilan, anak-anak yang lebih kecil tidak selalu memiliki kekuatan otak untuk menyelesaikan suatu tugas.

Rebecca Bransetter, seorang psikolog anak, mengungkap bagian otak anak yang memiliki tugas untuk fokus belum berkembang sepenuhnya. Pada anak-anak yang lebih besar, situasi stres seperti pembelajaran jarak jauh dapat membuat fokus jadi lebih sulit.

" Orang tua terkadang langsung mempermalukan atau mengungkapkan kekecewaan, kemarahan, atau kekesalan tanpa memikirkan sudut pandang anak," kata Bransetter.

Bransetter menyarankan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa anak sebenarnya mampu untuk fokus tapi mereka sedang mengalami masa-masa sulit dan perlu dilatih berulang kali untuk menjaga fokusnya.

Ketika orangtua melihat anak tidak fokus, berhentilah untuk memarahi dan ingatkan diri bahwa kemungkinan ada keterampilan perkembangan yang tertinggal atau alasan situasional yang membuat anak kesulitan.

Coba teknik " perhatikan dan jelajahi" . Pertama, amati usaha anak, kedua ajukan pertanyaan.

Seperti, " Mama perhatikan kakak/adik mengalami kesulitan saat bikin tugas matematika. Kenapa? Apakah baik-baik saja? Mau dibantu?”. Pertanyaan detail penting diajukan untuk mencari tahu masalah anak. 

 

5 dari 6 halaman

2. Hindari langsung mencari solusi

Saat melihat anak-anak kita tidak fokus, naluri kita biasanya langsung ingin memberikan solusi dan memaksanya untuk fokus. Bransetter mengatakan melompat terlalu cepat untuk " memperbaiki" adalah mengabaikan kesempatan untuk mengajari anak-anak teknik pemecahan masalah.

Lebih baik mulailah dengan mengajukan pertanyaan. Seperti, " Ada ide biar kakak/adik lebih fokus saat belajar?" , " Lampunya kurang terang ya?" , " Apakah suara di luar mengganggu?" . Perlu diingat bahwa, pada anak-anak yang lebih besar, strategi terbaik untuk membuat mereka lebih fokus adalah dengan menggunakan caranya sendiri.

 

6 dari 6 halaman

3. Memaksa anak

Melihat anak-anak mereka beralih ke YouTube saat mereka seharusnya sedang mengerjakan tugas atau mendengarkan gurunya di Zoom selama pembelajaran jarak jauh, membuat orangtua frustrasi. Orangtua mungkin langsung memarahi anak, tetapi Bransetter mengatakan hal itu malah jadi bumerang dan anak malah kesal.

Lebih baik tarik napas panjang dan ajukan pertanyaan pada anak, kenapa ia malah membuka YouTube atau media sosial saat pelajaran. Pertanyaan akan membawa fokus kembali ke lobus frontal otak anak jadi lebih aktif.

" Di situlah pemikiran rasional dapat muncul.Anak-anak tidak bisa memecahkan masalah jika mereka merasa stres atau dihakimi," kata Bransetter.

Join Dream.co.id