Mental Anak dalam Kondisi Sehat, Ini Tandanya

Ibu Dan Anak | Kamis, 30 Juli 2020 08:06
Mental Anak dalam Kondisi Sehat, Ini Tandanya

Reporter : Mutia Nugraheni

Situasi tertentu atau mungkin hal yang dianggap kecil bagi orang dewasa, bisa saja menimbulkan trauma bagi anak.

Dream - Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Terutama pada anak-anak dalam situasi pandemi seperti sekarang. Tak bisa ke sekolah, bermain pun dibatasi, sementara mereka sangat membutuhkan sosialisasi untuk tumbuh kembangnya.

Situasi tertentu atau mungkin hal yang dianggap kecil bagi orang dewasa, bisa saja menimbulkan trauma bagi anak. Membekas pada ingatan dan membuat mentalnya bermasalah.

Psikolog anak Annelia Sari Sani mengatakan bahwa penting bagi orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan dan perilaku yang terkait dengan kesehatan mental anak serta memberikan penanganannya sejak dini.

" Ketika seorang individu ini mengalami masalah gangguan mental seringan apa pun pada masa kanak-kanak, ketika tidak diatasi, ia akan berlanjut, membesar, dan kemudian yang tadinya hanya area pembelajaran, dia bisa menyentuh area lain seperti emosi dan sosialisasi," kata Annelia, dikutip dari Liputan6.com.

 

2 dari 7 halaman

Kenali Ciri Anak yang Memiliki Mental Sehat

Ia juga menjelaskan ada beberapa ciri yang menunjukkan anak sehat secara mental. Apa saja?

" Anak itu kita katakan sehat secara mental bila dia punya kapasitas untuk memulai dan mempertahankan relasi pribadi yang menyenangkan. Jadi dia bisa menjalin hubungan baik dengan orang dewasa, teman-teman seusianya, dengan menyenangkan," katanya.

Ciri dari anak yang sehat secara mental lainnya adalah perkembangan psikomotoriknya sesuai tahapan usia, memiliki kemampuan untuk bermain dan belajar yang sesuai usia dan perkembangan kecerdasannya, serta memiliki pemahaman moral tentang benar-salah mau pun baik-buruk.

" Lalu anak yang sehat mental itu juga ciri-cirinya mampu menikmati dan memanfaatkan waktu luang. Dia tidak gampang bosan. Kalau bosan dia akan mencari cara mengatasi kebosanannya," kata psikolog yang juga tergabung dalam Ikatan Psikolog Klinis Indonesia ini menambahkan.

 

3 dari 7 halaman

Empati

Selain itu, anak yang sehat secara mental bisa dilihat dengan bagaimana ia mampu berempati dan mengenali emosi yang dirasakan orang lain. Perkembangan emosi, intelektual, dan spiritualnya juga selaras.

" Yang paling penting, anak yang sehat mental itu juga mampu belajar dari kegagalan. Jadi kalau dia mengalami kegagalan, mengalami hambatan, atau dia mengalami satu hal yang tidak menguntungkan atau tidak menyenangkan, itu dia bisa balik lagi, bisa bangkit kembali," ungkapnya.

Laporan Giovani Dio/ Sumber: Liputan6.com

4 dari 7 halaman

Masalah Mental Pada Anak Sulit Dideteksi, Orangtua Diminta Lebih Peka

Dream - Kondisi serba sulit seperti sekarang membuat anak-anak sangat rentan mengalami masalah mental. Terutama anak remaja, di mana perubahan hormon membuat pikirannya menjadi kian kompleks dan punya kecenderungan memberontak, hingga bunuh diri.

Untuk di Indonesia sendiri hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menemukan bahwa prevalensi gangguan mental emosional remaja usia di atas 15 tahun meningkat menjadi 9,8% dari yang sebelumnya 6% di tahun 2013.

Organisasi kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat 15% anak remaja di negara berkembang berpikiran untuk bunuh diri, di mana bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar ketiga di dunia bagi kelompok anak usia 15-19 tahun.

Psikolog Anak, Annelia Sari Sani, S.Psi, mengungkap menjaga kesehatan mental anak sangat penting. Hal ini demi menunjang kehidupan psikologis yang sehat saat anak beranjak dewasa.

“ Gangguan mental pada usia anak hingga remaja dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka termasuk menyebabkan masalah pada perilaku, gangguan emosional dan sosial, gangguan perkembangan dan belajar, gangguan perilaku makan dan kesehatan, hingga gangguan relasi dengan orang tua. Tidak seperti gangguan kesehatan lainnya," ungkap Annelia, dikutip dari rilis yang diterima Dream.co.id.

 

5 dari 7 halaman

Konsultasi

Ia juga menekankan tanda-tanda gangguan kesehatan mental, terlebih pada anak, cenderung sulit untuk dilihat. Sehingga, penting bagi orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.

" Hal ini demi memberikan penanganan sejak dini, guna meminimalisasi risiko jangka panjang saat anak tumbuh dewasa," pesannya.

Jangan takut atau ragu untuk membawa anak berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater jika memang muncul randa stres atau depresi. Dengan berkonsultasi, kita akan mencari akar masalah dan bersama-sama mencari solusi.

“ Saat kami berinteraksi dengan anak muda yang mengalami gangguan mental, stigma yang paling sering ditemui adalah rasa malu dan bingung. Mereka malu mengakui bahwa memiliki gejala-gejala gangguan mental. Saya percaya bahwa dengan membuka komunikasi dua arah secara lebih intensif dengan orang tua, maka penanganan gangguan kesehatan mental dapat dilakukan sejak dini, terlebih dengan kehadiran teknologi telemedicine seperti Halodoc yang mempermudah akses dan bantuan dari tenaga kesehatan profesional," kata Annelia.

Bisa juga mengajak anak konsul secara online. Penyedia layanan kesehatan berbasis digital, Halodoc, baru saja menggandeng 200 psikolog klinis yang tergabung dalam jaringan keanggotaan Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) untuk memberikan layanan konsultasi secara daring melalui platform telemedicine. Langkah ini mungkin bisa dicoba. 

6 dari 7 halaman

Anak Remaja Menjauh dari Orangtua, Tak Perlu Panik

Dream - Orangtua cenderung ingin selalu terlibat dalam kehidupan anak. Sejak anak bayi hingga balita semua hal diurus dari yang kecil hingga besar. Orangtua kerap lupa kalau anak juga pribadi yang tumbuh dan membutuhkan privasi.

Jangan kaget saat anak beranjak dewasa, ia mulai menjauh, sulit dipahami, suka adu argumen dan makin tertutup. Remaja juga lebih suka di dalam kamar dan menghabiskan waktu dengan teman-temannya.

Menurut psikolog Roslina Verauli, remaja sebenarnya sedang butuh waktu untuk membangun identitasnya sendiri. Hal ini serupa dengan orangtua atau kakek neneknya yang butuh waktu untuk diri sendiri. Apalagi emosi remaja yang belum stabil.

" Bagi remaja, situasi-situasi yang mereka alami sehari-hari bisa membuat emosinya kembali tidak stabil. Terlebih lagi kalau lagi marah menjadi lebih marah atau kalau lagi sedih, malah menjadi lebih sedih," ujar Vera, dalam sesi webinar Peran Penting Pendidik Sebaya, dikutip dari Liputan6.com.

 

7 dari 7 halaman

Masa Transisi yang Kompleks

Remaja juga terkait dengan masa-masa pubertas yang sedang dialami. Mereka mengalami transisi yang kompleks, bukan anak-anak lagi. Berpikiran dewasa juga belum.

" Misalnya, mereka mungkin punya masalah, lagi berantem dengan teman atau putus dengan pacarnya. Bisa juga mereka merasa gagal secara akademis. Ini kan sesuatu yang remaja itu butuh melakukan refleksi diri. Kita bisa lihat dari sisi perubahan terkait fisik perubahan, cara berpikir juga berubah," lanjut Vera.

Vera menambahkan, yang dibutuhkan oleh remaja, terutama di usia 12 - 13 tahun, yakni kasih sayang. Kasih sayang bahwa mereka diterima dicintai tanpa syarat.

" Kalau di dunia psikologi maksudnya ada seseorang yang bersedia mendengarkan curhatan dari remaja. Ini karena mereka hanya butuh seseorang yang seolah-olah mengerti dan mau dengerin sungguh-sungguh," tambahnya.

Remaja juga butuh empati dan simpati. Simpati dan empati untuk menolong permasalahan, termasuk kesedihan yang dialami.

" Di rumah, misalnya, kalau si remaja cerita tentang apa yang dialami tapi enggak didengerin gitu kan sedih. Jadi, kita butuh orang yang menyayangi," pesan Vera,

Laporan Fitri Haryanti/ Sumber: Liputan6.com

Join Dream.co.id