Mengazani Telinga Bayi Ketika Baru Lahir, Mengikuti Kebiasaan Rasulullah

Ibu Dan Anak | Rabu, 11 November 2020 10:04
Mengazani Telinga Bayi Ketika Baru Lahir, Mengikuti Kebiasaan Rasulullah

Reporter : Mutia Nugraheni

Biasanya, para ayah yang mendapat 'tugas' mengharukan ini.

Dream - Lahirnya keturunan yang dinanti selama berbulan-bulan bahkan hingga hitungan tahun pastinya disambut dengan kebahagiaan dan rasa syukur. Allah SWT memberi keberkahan pada tiap anak-anak yang lahir.

Saat anak itu lahir, salah satu hal yang disunnahkan dalam Islam adalah mengazani dan membacakan iqamah di telinganya. Biasanya, para ayah yang mendapat 'tugas' mengharukan ini.

Mengapa hal ini dilakukan? Dikutip dari BincangMuslimah, dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafii karya Dr. Mustafa Al-Khan, Mustafa Al-Bagha, dan Ali Asy-Syarbaji dijelaskan sebagaimana berikut.

 sunah mengazani telinga bayi
© Bincang Muslimah


Dari Ubaidullah bin Abi Rafi’ dari ayahnya, ia berkata, “ Aku melihat Rasulullah SAW mengadzani di telinga Al-Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya dengan adzan shalat.” (H.R. At-Tirmidzi).

 

2 dari 5 halaman

Mengenalkan Keesaan Allah SWT

Mengumandangkan azan dan iqamah dengan lembut, dilakukan Rasulullah pada cucu kesayangannya. Para ulama berpendapat kebiasaan ini bertujuan agar hal pertama yang didengar oleh bayi adalah kalimat Tauhid, keagungan Allah SWT. Selain itu agar bayi terhindar dari berbagai pengaruh dan godaan setan.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

3 dari 5 halaman

Islam Gambarkan Buah Hati Merupakan Perhiasan Orangtua, Simak Penjelasannya

Dream - Nilai-nilai Islam harus senantiasa jadi panduan dan pedoman dalam tiap aspek kehidupan. Termasuk dalam berkeluarga dan mengasuh putra putri tercinta. Hadirnya buah hati dalam sebuah keluarga, merupakan amanah.

Tak hanya itu, anak juga bisa jadi penenang dan penyejuk hati serta perhiasan orangtuanya. Dalam al-Quran Allah menjelaskannya dalam QS. al-Kahfi[18] ayat 46:

 Alkahfi
© Bincang Muslimah

Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. ( QS. al-Kahfi[18] ayat 46)

Dikutip dari Bincang Muslimah, menurut al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi harta merupakan sebuah perhiasan meskipun tidak mempunyai anak, dan bukan sebaliknya. Beliau menjelaskan orang yang mempunyai anak sedang ia tidak mempunyai harta maka orang itu berada dalam kesengsaraan dan kemelaratan.

 

4 dari 5 halaman

Anak dan Perhiasan Memiliki Persamaan

Maka, di antara keduanya haruslah seimbang agar jauh dari kemelaratan. Pendapat al-Maraghi ini menunjukkan bahwasanya orangtua dilarang menelantarkan anak dan wajib memenuhi kebutuhan anak.

Sementara menurut Hamka dalam Tafsir al-Azhar ini merupakan ayat rayuan yang sangat indah. Allah SWT memberi peringatan bahwa harta dan anak itu memanglah perhiasan yang sangat indah. Namun sayang, perhiasan indah itu hanyalah bersifat sementara karena memiliki batasan waktunya.

Dalam tafsir Kemenag (Dapartemen Agama RI, al-Quran dan Tafsirnya: 2006), ayat ini mengabarkan kepada kita semua bahwasanya anak merupakan perhiasan yang harus dijadikan jalan bagi orangtua untuk melakukan amal saleh yang akan mengantarkan kepada ridho Allah SWT.

 

5 dari 5 halaman

Bisa Jadi Cobaan

Jika orangtua memperlakukan anak dengan cara yang tidak baik dan tidak mengundang pahala serta ridho Allah SWT maka kehadiran anak akan berubah menjadi sebuah cobaan.

Allah telah menjelaskan yang menjadi kebanggaan manusia di dunia ini ialah harta benda dan anak-anak, karena manusia sangat memperhatikan keduanya. Banyak harta dan anak dapat memberikan kehidupan dan martabat yang terhormat kepada orang yang memilikinya. Sebaliknya, juga dapat menjadikan seseorang takabur dan merendahkan orang lain.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id