Mau Tahu Cara Orangtua Jepang Disiplinkan Buah Hatinya?

Ibu Dan Anak | Senin, 22 Februari 2021 14:03
Mau Tahu Cara Orangtua Jepang Disiplinkan Buah Hatinya?

Reporter : Mutia Nugraheni

Keluarga jadi dasar utama membentuk kedisiplinan anak-anak di Jepang.

Dream - Jepang dikenal dengan masyarakatnya yang memiliki kedisiplinan tinggi. Hal ini bahkan mereka bawa ketika tinggal di negara lain dan jadi sebuah citra yang sangat baik.

Kedisiplinan memang jadi hal yang tak bisa dipisahkan dari warga Jepang, sejak mereka kecil. Penerapan disiplin bukan dimulai di area publik atau penuh dengan paksaan atau karena hukuman, tapi memang sudah jadi gaya hidup.

Keluarga jadi dasar utama membentuk kedisiplinan anak-anak di Jepang. Kate Lewis, seorang ibu asal Amerika Serikat yang tinggal di Jepang, sangat terkesima dengan displinnya anak-anak di Jepang. Ia menuliskan pengalamannya saat membesarkan buah hatinya dan berusaha mengadaptasi nilai kedisiplinan pada orangtua di sana.

" Saya bukan satu-satunya ibu Amerika yang menanyakan pertanyaan ini kepada diri saya sendiri. Menemukan balita Jepang yang berperilaku buruk menjadi semacam permainan dengan teman ibu internasional lainnya setiap kali kami membawa anak-anak kami ke taman dan museum. Jika kami melihat balita Jepang sedang mengamuk di depan umum, kami akan menghela napas lega. Bukan hanya anak-anak kami. Itu milik semua orang. Namun orang tua Jepang sepertinya tidak ikut campur sama sekali. Anak itu akan duduk di tanah, menangis dan berteriak di taman bermain atau taman, dan orangtua tampaknya relatif tidak peduli," tulis Lewis, dikutip dari Savvytokyo.com.

 

2 dari 6 halaman

Tak Permalukan Anak

Anak dibiarkan dulu tenang, dan orangtua tak berusaha keras untuk ikut campur. Hal lain yang selalu diterapkan adalah seni Shitsuke (disiplin). Orangtua tetap mendisiplinkan anak, menegur tapi mencari ruang privat dan bukan di depan publik karena anak akan malu.

" Di lain hari, kereta yang sibuk, dan kali ini ada anak lain yang mengamuk untuk pulang. Sang ayah dengan cepat menarik seluruh keluarganya dari gerbong kereta dan ketika pintu ditutup dan kereta melaju pergi, saya melihatnya berjongkok di peron. Orangtua jongkok sampai mensejajarkan tinggi dengan anak dan menunggu anaknya tenang untuk berbicara, sambil menemani dan memastikan anak aman," ungkap Lewis.

Tak semua orangtua bisa dan terbiasa melakukan ini karena memang dibutuhkan pengelolaan emosi dari orangtua dulu untuk menghadapi anak yang juga sedang emosi. Lewis pun bertanya pada temannya yang orang Jepang bagaimana mereka menegur anak-anaknya saat berulah.

" Saya bertanya 'bagaimana cara membentaknya?'. Dia mendemonstrasikan, menyebut nama anaknya dengan cepat dan penuh dengan peringatan. 'Ini bekerja dengan sempurna' katanya padaku," ungkap Lewis.

3 dari 6 halaman

Konsep Pengasuhan ala Orangtua Belanda Bisa Jadi Inspirasi

Dream - Mengasuh anak merupakan tugas panjang yang tidak ada habisnya. Sebagai orangtua kita harus selalu belajar hal baru. Termasuk selalu melakukan penyesuaian demi menuntun anak agar menjadi pribadi yang baik.

Tiap orangtua memang memiliki gaya yang berbeda dalam mengurus anak. Sebuah buku yang berjudul “ The Happiest Kids in the World"  ditulis oleh dua ibu asal Amerika dan Inggris.

Mereka tinggal di Belanda dan mengisahkan pola asuh khas negara kincir angin ini yang layak ditiru. Bukan hanya membuat membuat anak bahagia, tapi juga menjadi modal penting masa depannya kelak.

Penasaran apa saja kebiasaan pola asuh di Belanda yang bikin anak bahagia?

 

4 dari 6 halaman

1. Biarkan anak-anak bersepeda menembus hujan

Ya, Belanda membiarkan anak-anak mereka " secara harfiah" bersepeda di tengah hujan (dengan perlengkapan yang tepat) untuk menumbuhkan kemandirian, ketahanan, dan ketabahan.

Kita hidup selalu dalam perlindungan. Bersepeda di tengah hujan adalah pelajaran sederhana namun kuat tentang bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kesulitan, terus menghadapi segala rintangan, dan menemukan keajaiban di alam. Terutama jika mereka melihat pelangi setelah hujan.

 

5 dari 6 halaman

2. Merawat diri sendiri

Sebagian besar warga Belanda tidak mengukur nilai yang dimiliki dengan kepemilikan materi. Termasuk apa yang dicapai di tempat kerja. Justru di sini menerapkan konsep bekerja lebih sedikit untuk meluangkan waktu bagi diri sendiri dan membangun komunitas yang kuat.

Hal ini membuat waktu untuk keluarga lebih banyak. Keluarga adalah yang utama dan membuat anak-anak bahagia.

3. Buat aturan, dengan melibatkan anak

Tiap rumah memang harus memiliki peraturan, tapi biasanya hanya orangtua yang membuat. Sementara di Belanda, anak dilibatkan dalam membuat aturan di rumah. Bentuknya seperti kesepakatan yang jika terjadi pelanggaran di dalamnya maka akan ada konsekuensi.

Hal ini membuat anak belajar bertanggung jawab, berdiskusi dan menjaga komitmen yang telah disepakati bersama. Menarik, bukan?

 

 

6 dari 6 halaman

4. Fokus pada kesederhanaan

Ada beberapa contoh bagaimana Belanda membawa kesederhanaan dalam kehidupan mereka. Pertama, berkemah dan di luar ruangan adalah bagian penting dari aktivitas keluarga rata-rata. Biasanya di akhir pekan, keluarga akan berkemah selam tiga hari.

Pesta ulang tahun juga dilakukan sederhana. Bukan pada hadiah, tapi lebih banyak pada menyediakan fasilitas bagi anak-anak untuk bermain bersama.

Sumber: Mother.ly

Join Dream.co.id