Kerja dari Rumah, Terapkan Pola Asuh Ini untuk Anak Usia Dini

Ibu Dan Anak | Selasa, 3 Agustus 2021 16:05

Reporter : Mutia Nugraheni

“Orang tua perlu memperkenalkan anak tentang rutinitas sebagaimana sekolah".

Dream - Bekerja dari rumah bagi orangtua sambil mengasuh dan mendampingi anak-anak belajar memang bukan hal mudah. Terutama jika tak ada pengasuh anak/ baby sitter yang fokus membantu mengurus si kecil.

Kondisi pandemi seperti sekarang memang jauh dari ideal bagi anak-anak dan orangtua. Untuk anak usia dini yang berusia di bawah lima tahun, mereka butuh aktivitas fisik untuk perkembangan motorik dan sensorinya. Termasuk meminta perhatian terus-menerus, sementara orangtua bekerja.

Untuk menghadapi situasi ini, Sheira Shafira, salah satu pendidik dari PAUD Rumah Main Cikal memberikan tips. Menurutnya, hal yang pertama bisa dilakukan adala membuat kesepakatan bersama.

“ Orang tua perlu memperkenalkan anak tentang rutinitas sebagaimana sekolah. Salah satu caranya adalah misalnya membuat kesepakatan bersama antara guru dan murid, anak dan orangtua," ujar Tante Sheira, sapaan akrabnya dalam rilis yang diterima Dream.

 

Kerja dari Rumah, Terapkan Pola Asuh Ini untuk Anak Usia Dini
Ibu Bekerja Di Rumah
2 dari 6 halaman

Kesepakatan Bersama

Ia menambahkan bahwa kesepakatan bersama merupakan cara menumbuhkan pengertian pada anak akan rutinitas yang dihadapinya di rumah saat orangtua sedang bekerja.

“ Kesepakatan bersama artinya dilakukan antara dua pihak, baik orangtua dengan anak, dan dapat dilakukan untuk menumbuhkan pengertian pada anak mengenai siapa yang akan memenuhi kebutuhan atau bermain anak selama orang tua bekerja, misalnya nenek atau pengasuh,” ujar Sheira.

Pengertian dan kesepakatan ini menurut Sheira sangat penting karena bisa jadi cara efektif membangun komunikasi dan pemahaman atas kondisi di rumah. Termasuk meregulasi emosi anak dengan cara menampilkan visualisasi gambar yang memperhatikan kondisi fase tumbuh kembang anak.

 

3 dari 6 halaman

Pola komunikasi efektif

Selain kesepakatan bersama, Sheira menambahkan bahwa membangun pola komunikasi yang efektif dengan anak dan pasangan adalah kunci lain dari pola pengasuhan saat bekerja dari rumah. Ini dapat mendorong anak belajar menyerap informasi dan memahami perasaan anak.

“ Hal lain yang juga paling penting adalah komunikasi, baik komunikasi orang tua dengan anak, atau dengan pasangan. Melalui komunikasi yang baik pada anak, anak pun dapat menyerap informasi lebih baik. Selain itu, mengingat bahwa sebagai individu, ada juga keinginan memiliki waktu refreshing atau me time, komunikasikan itu dengan pasangan. Inilah titik awal pengasuhan pola asuh yang menyenangkan.” jelasnya.

Membangun pola komunikasi efektif dengan anak dan pasangan pun dilakukan untuk menghindari konflik yang disebabkan oleh komunikasi yang tidak berjalan baik.

“ Pembagian peran dalam komunikasi parenting orangtua di rumah itu penting sekali, artinya tidak membebankan satu pasangan, ayah saja atau ibu saja. Apabila orang tua tertekan, dan stres berarti ada pembagian peran atau komunikasi yang tidak berjalan. Fokusnya tetap seperti ini kalau orang tua bahagia, anak pun juga bahagia selama di rumah," ungkap Sheira.

Sebagai sekolah yang dikhususkan bagi anak usia dini, PAUD Rumah Main Cikal selalu berupaya menerapkan tahapan komunikasi yang baik dengan orang tua murid, dan memahami dengan baik proses adaptasi anak dengan media daring selama proses belajar dari rumah.

4 dari 6 halaman

Sering Tak Disadari, Pola Asuh Orangtua yang Bikin Anak Rentan Depresi

Dream - Ayah dan ibu memiliki gaya pengasuhan yang cenderung berbeda. Penting bagi orangtua untuk menyamakan visi dalam menerapkan pola asuh di rumah agar kompak dan membentuk karakter anak dengan baik.

Banyak orangtua yang beranggapan kalau apa yang dilakukannya dalam mengasuh adalah demi kebaikan anak. Seringkali, cara yang dilakukan justru sebaliknya malah membuat anak stres bahkan depresi.

Rupanya ada pola asuh yang cenderung bisa menyebabkan depresi pada anak. Menurut tinjauan studi terbaru oleh Population Mental Health Group di Melbourne School of Population and Global Health yang meneliti 181 studi, pola asuh yang salah terbukti dapat menjadi penyebab depresi pada anak.

Berikut ini beberapa tipe pola asuh anak yang dapat menyebabkan depresi, dikutip dari KlikDokter.

1. Pola Asuh Otoriter
Psikoloh Gracia Ivonika, mengatakan bahwa pola asuh otoriter atau authoritarian parenting style berhubungan erat dengan peningkatan risiko depresi pada anak. Kata otoriter merujuk pada gambaran pola asuh yang berfokus pada pemaksaan.

Anak harus menuruti apa yang orangtua katakan tanpa membantah. Dalam pola asuh ini, orangtua juga tidak mengizinkan anak terlibat dalam pemecahan masalah.

“ Pola asuh otoriter biasanya tidak ada kehangatan, karena orangtua terlalu protektif dan mengatur, tapi tidak diimbangi dengan kedekatan emosional maupun kehangatan dalam pengasuhan sehingga dapat memicu depresi pada anak,” ujar Gracia.

Anak yang besar dengan pola asuh otoriter juga mungkin memiliki pandangan yang buruk terhadap orangtuanya. Hal ini dapat meningkatkan risiko masalah pada harga diri anak, karena pendapatnya yang selalu tidak dihargai.

 

5 dari 6 halaman

2. Pola Asuh Tanpa Terlibat

Menurut Gracia, pola asuh yang tidak melibatkan orangtua secara langsung dapat pula menyebabkan depresi pada anak. Semua urusan anak diserahkan pada pengasuh dan orangtua tak mengetahui kondisi anak sebenarnya.

“ Orangtua terlalu cuek, sehingga anak tidak merasakan adanya keterikatan emosional. Padahal, orangtua seharusnya memberikan rasa aman, nyaman dan kehangatan, tapi hal itu tidak didapatkan oleh anak,” kata Gracia.

Tidak dipungkiri, dukungan dan kedekatan keluarga bisa menjadi pondasi anak ketika mereka berada di luar rumah. Contohnya, ketika anak merasa tidak aman di lingkungan sekolah, paling tidak ia memiliki orangtua untuk berlindung dari kondisi tersebut.

Di sisi lain, orangtua yang tidak terlibat dalam pola asuh berharap bahwa anak dapat membesarkan diri mereka sendiri. Orangtua dengan pola asuh tersebut juga menuntut anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Keadaan tersebut dapat membuat anak memiliki masalah dengan harga dirinya. Mereka pun cenderung memiliki prestasi yang buruk di sekolah, sering terlibat perilaku bermasalah dan peringkat kebahagiaannya rendah.

 

6 dari 6 halaman

3. Tiger Parenting

Tiger parenting menuntut anak untuk selalu unggul dalam hal akademis. Tipe pola asuh ini juga cenderung bersifat keras, menuntut, dan tidak mendukung anak secara emosional.

Souzan Swift, PsyD, seorang psikolog mengatakan bahwa sukses adalah tujuan utama dari tiger parenting. Anak-anak pun sering menuruti apa pun permintaan orangtua. Mereka cenderung takut terhadap hukuman dan tidak diterima keluarga. Ini dapat berimbas pada stres dan depresi pada anak.


Selenglapnya bacadepresi" target=" _blank" > di sini

Join Dream.co.id