Kehadiran Tante Berdampak Besar Pada Mental Buah Hati

Ibu Dan Anak | Kamis, 11 November 2021 10:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Terkadang anak bisa lebih terbuka dengan tantenya.

Dream - Bukan hanya orangtua yang dibutuhkan anak dalam tumbuh kembangkan. Dibutuhkan 'satu desa' untuk membesarkan seorang anak, mungkin Sahabat Dream pernah mendengar ungkapan tersebut.

Hal ini memang ada benarnya, karena anak membutuhkan sosok lain selain orangtua sebagai contoh, teladan hingga bertukar pikiran. Salah satunya adalah tante. Bisa adik dari ayah maupun ibu.

Akan sangat baik jika buah hati sering menghabiskan waktu dan cukup dekat dengan tante-tantenya. Mengapa? Menurut seorang pakar anak, kehadiran tante dalam masa tumbuh kembang anak sangat penting karena memiliki peran lain yang kadang orangtua tak bisa lakukan.

Seperti, tante bisa turun tangan ketika hubungan anak-anak dan orang sedang kurang baik. Bukan hal yang tidak mungkin jika suatu saat nanti anak-anak akan mengalami perbedaan pendapat dengan orangtua.

Ketika hal itu terjadi, tante memiliki posisi penting yang bisa masuk ke dalam permasalahan untuk membantu meluruskan masalah. Tante yang cukup dekat dengan keponakannya akan tahu bagaimana memancingnya berbicara.

Melanie Notkin, seorang penulis SAVVY AUNTIE, berbicara tentang bagaimana tante memiliki peran penting dan kemampuan yang luar biasa untuk mendengarkan anak-anak kita tanpa menghakimi mereka.

Tante bisa menjadi pendengar yang baik tanpa langsung memberi penghakiman. Ketika anak-anak tidak bisa bercerita kepada orangtua, tante bisa menjadi sosok yang dipercaya. Selengkapnya baca di Diadona.id.

Kehadiran Tante Berdampak Besar Pada Mental Buah Hati
Tante Dan Keponakan/ Foto: Shutterstock
2 dari 6 halaman

Ledakan Emosi Pada Anak 7-9 Tahun, Ternyata Ini Sebabnya

Dream – Saat kita melihat buah hati berusia tujuh atau delapan tahun tiba-tiba mulai bersikap mudah marah dan menangis, tentunya kita akan merasa cemas. Mungkin bingung mngapa seorang gadis kecil yang ceria lalu jadi pemarah walaupun hanya karena hal sepele.

Rupanya anak usia 7-8 tahun mengalami fase di manamenjadi begitu mudah kesal dan marah. Fase ini merupakan tahapan perkembangan yang dikenal dengan sebutan Adrenarche. Para ilmuwan telah mengamati tahapan ini dan percaya bahwa anak-anak usia enam hingga delapan tahun mulai mengalami lonjakan hormon yang dapat menyebabkan peningkatan emosi.

Penelitian yang dilakukan di Australia untuk Childhood to Adolescence Transition Study menemukan bahwa, anak-anak kelas dua dan tiga atau berusia 7 hingga 9 tahun cenderung mengalami peningkatan androgen adrenal, merupakan hormon yang berperan besar dalam masa pubertas beberapa tahun kemudian.

Peningkatan alami pada androgen adrenal ini bisa terjadi pada semua anak, meskipun tidak semuanya ditunjukkan melalui perubahan suasana hati atau perilaku. Adrenarche merupakan tahap perkembangan terpisah yang biasanya terjadi setidaknya dua tahun sebelum masa pubertas.

" Adrenarche sebagai fase perkembangan yang penting di mana anak-anak menempatkan beberapa dasar emosional dan metabolisme untuk masa remaja. Inilah momen seorang anak benar-benar mulai mengembangkan konsep dirinya yang mereka bawa ke masa remaja dan dewasa," kata George Patton, profesor psikiater anak dan remaja dan kepala penelitian kesehatan remaja di Murdoch Children's Research Institute.

 

3 dari 6 halaman

Ciri Saat Anak Berada di Fase Adranarche

Adranarche dapat dilihat dari perubahan psikologis dan emosional. Hormon yang mengalir pada tubuh anak-anak, mungkin berdampak signifikan pada perasaan mereka, tetapi cenderung tidak menyebabkan gejala fisik seperti pertumbuhan rambut kemaluan, rambut ketiak atau adanya jerawat.

" Androgen adrenal adalah neurosteroid yang tampaknya berpengaruh pada beberapa jalur yang terlibat dalam pemrosesan emosi," ungkap Patton.

Ini menandakan bahwa anak berusia tujuh atau delapan tahun, akan tampak marah atau menangis tanpa alasan saat mereka sedang berjuang untuk memproses emosi mereka. Dan pada saat itu terjadi, mungkin mereka akan ada pada fase berselisih dengan sekelompok teman, bahkan perubahan perilaku mereka yang akan berubah dari karakter biasanya. Untungnya, ada cara bagi orang tua untuk membantu mengelola perubahan anak-anak mereka.

 

4 dari 6 halaman

Bagaimana Cara Menyikapinya?

Tahap Adrenarche dapat membingungkan orangtua karena mereka biasanya berharap anak bersikap seperti 'biasanya'. Menurut Liat Hughes Joshi seorang pakar pengasuhan dan penulis buku " 5-Minute Parenting Fixes"  mengungkap kalau komunikasi adalah kuncinya.

" Bicaralah dengan anak tentang bagaimana perasaannya saat dalam kondisi yang tenang," saran Joshi.

Pastikan untuk berdiskusi pada anak untuk menghasilkan strategi yang dapat membantu mereka. Salah satu caranya adalah dengan mendorong mereka untuk menarik napas dalam-dalam saat merasa kesal. Dia juga memperingatkan agar tidak membiarkan anak untuk berperilaku buruk hanya karena hormon.

" Periksa pemicu lain dalam kehidupan anak yang dapat menyebabkan perubahan perilaku mereka daripada menghubungkan semuanya dengan hormon, bisa juga karena ada penyebab lain," kata Joshi.

Laporan Yuni Puspita Dewi/ Sumber: Parents

5 dari 6 halaman

Bantu Anak Mengelola Emosi dengan Baik, Bagaimana Caranya?

Dream - Bagi siapa pun, berapa pun usianya, mengelola emosi dan perilaku selalu jadi tantangan dan bukan hal mudah. Tuntutan sehari-hari, tekanan dan stres dapat memunculkan emosi negatif. Hal itu bisa menyebabkan cara berpikir, bertindak, dan dampak yang buruk.

Emosi dan suasana hati kita bisa menjadi faktor penentu yang sangat kuat dalam bertindak. Saat emosi dalam kondisi positif, bisa membantu kita berpikir kreatif, lateral, dan terbuka terhadap ide-ide baru.

Membantu anak untuk mengelola emosi dapat membantu mereka menjadi tangguh, merespons secara efektif dalam situasi stres, menangani kritik dari orang lain, beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan atau keadaan dan sejumlah hal lainnya.

Lalu bagaimana caranya membantu anak untuk mengelola emosinya?

Mengadopsi 'teknik reaktif'
Emosi yang kuat memiliki kemampuan untuk mempersempit pemikiran kita dan bisa sangat membatasi persepsi kita tentang situasi. Ketika anak-anak marah, takut atau frustrasi, atau kesal mereka tidak selalu berpikir jernih dan kemudian menyesali bagaimana mereka menanggapi suatu situasi.

" Kapan pun memungkinkan, ajari anak untuk meluangkan waktu di antara peristiwa yang membuat stres sebelum merespons. Selama 'waktu istirahat' ini berbicara tentang apa yang menyebabkan peristiwa tersebut, bagaimana perasaan mereka, apa hasil yang diinginkan, hal-hal yang dapat dilakukan secara berbeda dan langkah-langkah positif yang harus diambil untuk mencapai hasil yang diinginkan," ujar Jacqui Preugschat, seorang pakar pengasuhan dikutip dari KidSpot.

 

6 dari 6 halaman

Fokus pada hal positif

Bicara kepada anak dan bahas peristiwa positif yang terjadi dalam hidup mereka atau berbicara tentang orang, tempat, dan peristiwa yang menarik. Hal ini dapat memberikan efek positif pada sikap anak dan cara pandang mereka terhadap kehidupan.

" Pada gilirannya akan memiliki 'efek domino' pada lingkaran pertemanan anak dan menciptakan kebiasaan berfokus pada rasa syukur dan gambaran yang lebih besar dalam hidup mereka daripada pandangan sempit yang berfokus pada diri sendiri," ujar Preugschat.

Bantu mereka belajar dari kesalahan

Setiap orang membuat kesalahan dan apa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita tentang kesalahan dapat berdampak besar pada cara mereka memandang kesuksesan dan kegagalan sebagai orang dewasa. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang, tidak lebih, tidak kurang.

" Kesalahan tidak boleh dipandang baik atau buruk atau terhubung dengan harga diri seseorang. Kesalahan juga harus dibicarakan dengan sudut pandang yang positif karena ini juga akan membantu memperluas wawasan ke dalam pembelajaran," pesan Preugschat.

 

Join Dream.co.id