Kajian Fiqih yang Paling Berhak Mengasuh Anak Perempuan Setelah Cerai

Ibu Dan Anak | Sabtu, 14 Agustus 2021 10:20

Reporter : Mutia Nugraheni

Hadhanah adalah mengasuh anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun perempuan, dan mengurus semua urusannya.

Dream - Perceraian memang merupakan hal yang tak disukai Allah SWT, tapi dalam beberapa kondisi keputusan tersebut terpaksa diambil. Dampak dari perceraian adalah soal pengasuhan anak.

Ada anggapan di masyarakat kalau yang paling berhak mengasuh anak laki-laki adalah ibunya, sementara untuk anak perempuan adalah ayahnya. Islam memiliki pandangan tersendiri terkait hal ini.

Dikutip dari BincangSyariah.com, dalam kitab-kitab fiqih, penjelasan mengenai hak asuh anak ini disebut dengan hadhanah. Menurut para ulama, hadhanah adalah mengasuh anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun perempuan, dan mengurus semua urusannya.

Sebagian besar ulama berpendapat, pihak paling berhak mengasuh anak kecil yang belum tamyiz, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan, adalah ibunya. Dalam Islam, tidak ada perbedaan mengenai hak asuh antara anak laki-laki dan perempuan, semuanya diserahkan kepada ibunya.

Oleh karena itu, jika antara suami dan istri sudah bercerai dan mereka memiliki anak perempuan yang masih kecil, maka si istri atau ibunya lebih berhak mengasuh anak perempuannya dibanding suami atau ayahnya. Sebagaimana keterangan Syekh Mushtafa al-Bugha dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syafi’i berikut:

 Syekh Mushtafa al-Bugha© Bincang Syariah

Artinya: Adapun ibu lebih berhak atas pengasuhan daripada ayah karena beberapa alasan berikut; Pertama, kasih sayangnya lebih luas serta kesabarannya lebih besar dalam menanggung beban pengurusan dan pendidikan. Kedua, ibu lebih lembut dalam mengasuh dan menjaga anak-anak, dan lebih mampu mencurahkan perasaan dan kasih sayang yang mereka butuhkan.

 

Kajian Fiqih yang Paling Berhak Mengasuh Anak Perempuan Setelah Cerai
Ilustrasi
2 dari 8 halaman

Ibu Lebih Berhak

Dalil yang dijadikan dasar bahwa ibu lebih berhak mengasuh anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, adalah hadis riwayat Imam Ahmad, dari Abdullah bin Amr, dia berkisah;

 HR Ahmad soal hak asuh anak© Bincang Syariah

Artinya: Ada seorang perempuan mendatangi Rasulullah SAW dan berkata; Wahai Rasulullah, anakku ini dulu tempat tidurnya adalah perutku, minumnya dari air susuku, sementara suamiku ingin mengambil (untuk mengasuhnya) dariku. Rasulullah SAW lalu berkata; Kamu lebih berhak (untuk mengasuhnya daripada suamimu) selama kamu belum menikah lagi.

3 dari 8 halaman

Teladani Cara Rasulullah Memotivasi Anak

Dream - Untuk melakukan atau menyelesaikan sesuatu, terkadang anak penuh keraguan atau tak bersemangat. Mereka butuh suntikan motivasi dan dukungan dari orang lain, terutama orangtua.

Penting bagi ayah dan bunda untuk selalu menanamkan motivasi agar anak-anak bisa menyelesaikan tanggung jawab atau melakukan sesuatu dengan baik. Rasulullah mencontohkan untuk memberi apresiasi melalui pujian. Bisa juga mengarahkan kepada hal-hal baik dengan kalimat positif penuh kelembutan.

Dikutip dari BincangMuslimah.com, ada hal yang biasanya dipelajari saat Rasulullah memuji Ibnu Mas’ud dengan mengatakan bahwa ia adalah anak yang cerdas. Peristiwa ini terjadi saat Ibnu Mas’ud menjadi penjaga ternak. Begini hadisnya:

 HR Ahmad© Bincang Muslimah

4 dari 8 halaman

Bisa Jadi Doa di Masa Depan

Artinya: dari Ibnu Mas’ud berkata, “ Dulu ketika aku berumur menjelang akil baligh aku menggembalakan kambing milik Uqbah bin Abu Mu’aith, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta Abu Bakar datang yang ketika itu sedang dalam pelarian dari orang-orang musyrik. Mereka berdua lalu berkata: “ Wahai bocah, apakah kamu mempunyai susu untuk kami minum?” Aku menjawab, “ Sesungguhnya aku adalah orang yang dapat dipercaya dan aku bukan orang yang memberi minuman kepada kalian berdua.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi: “ Apakah kamu mempunyai anak hewan yang belum pernah dikawini oleh pejantan?” Aku menjawab, “ Ya, aku punya.” Lantas aku pun memberikan kambing tersebut kepada mereka berdua. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengikat anak hewan tersebut lalu mengusap-usap susunya dan berdo’a, tiba-tiba susunya menjadi banyak. Kemudian Abu Bakar membawanya ke sebuah batu besar dan memerahnya di sana. Rasulullah, Abu Bakar dan aku lalu meminum susu kambing itu, setelah itu beliau berkata kepada susu hewan itu: ‘Menyusutlah! ‘ Maka susu hewan itupun menyusut. Setelah itu aku mendatangi beliau dan berkata, ‘Ajarkanlah aku tentang ini.’ Lalu beliau berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya kamu adalah anak yang cerdas.’ Ibnu Mas’ud berkata, “ Akupun mendengar tujuh puluh surat dari mulut beliau dan tidak ada seorangpun yang menyelisihinya.” (HR. Ahmad)

Pujian Rasulullah kepada Ibnu Mas’ud sekaligus menjadi doa untuknya. Pujian Rasul diberikan kepada Ibnu Mas’ud adalah karena ia menjadi penjaga ternak yang amanah dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dengan bertanya kepada Rasulullah.

Begitu juga dengan kita saat menjadi orang tua. Kata-kata yang baik dan pujian adalah pendorong bagi diri anak sekaligus menjadi doa baginya di masa depan. Selengkapnya baca di sini.

5 dari 8 halaman

Rasulullah Contohkan Cara Paling Tepat untuk Nasihati Anak

Dream - Adab dan akhlak merupakan dasar penting yang harus diajarkan orangtua pada anak-anaknya. Seperti kita tahu, anak tak luput dari kesalahan dan belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk secara patut.

Untuk itu orangtua harus senantiasa mengingatkan dengan nasihat. Dalam menyampaikan teguran atau nasihat, Nabi Muhammad SAW, memberi contoh yang sangat baik yaitu dengan menghormati dan menyayangi anak.

Diriwayatkan dari Ummi Khalid binti Khalid bin Sa’id, ia berkata, “ Aku mendatangi Rasulullah SAW yang bersama ayahku. Aku mengenakan baju berwarna kuning. Rasulullah SAW bersabda, ‘Sanah, sanah.’ (bahasa Habsyi, artinya hasanah: bagus). Lalu aku beringsut ke depan, bermain-main dengan kancing Rasulullah SAW, dan ayahku mencegahku. Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Biarkanlah ia.’” (HR. Bukhari)

Dari hadis di atas dapat disimpulkan betapa bijaksana dan tawadhu’ sikap Rasulullah. Beliau tidak marah apalagi membentak Ummi Khalid yang tengah bermain-main dengan kancing beliau.

Rasulullah SAW telah memerintahkan kita sebagai umat muslim untuk selalu bersikap lemah lembut, bahkan jika seseorang melakukan kesalahan. Sebagaimana hadis riwayat dari Aisyah:

“ Sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Lembut dan mencintai kelemahlembutan. Allah SWT memberikan kepada orang yang penuh kelembutan sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang kejam.” (HR. Muslim)

 

6 dari 8 halaman

Nasihati di Waktu Ini

Dikutip dari DalamIslam.com, ada waktu yang tepat untuk menasihati anak. Dalam buku Cara Nabi Mendidik Anak oleh Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, disebutkan bahwa ada tiga waktu yang tepat untuk menasihati anak, yakni:

Saat berjalan-jalan
Rasulullah SAW disebutkan pernah mengajak anak kecil ke sebuah tempat rahasia secara sembunyi-sembunyi untuk memberikan nasihat. Salah satu yang mengalami hal ini adalah Abdullah bin Ja’far, dan tertuang dalam hadis:

“ Pada suatu hari Rasulullah SAW pernah memboncengku. Beliau mengatakan sesuatu kepadaku dengan berbisik. Perkataan beliau itu tidak pernah kuceritakan kepada siapapun" . (HR. Muslim)

Contoh lain ketika Nabi Muhammad SAW tengah menaiki seekor baghal dengan Ibnu Abbas. Baghal itu sendiri dihadiahkan oleh Kisra. Ibnu Abbas duduk membonceng di belakang. Beberapa saat dalam perjalanan, Nabi Muhammad menoleh ke belakang, ke arah Ibnu Abbas. Beliau pun bersabda:

“ Wahai anak muda!”
“ Saya ya, Rasulullah,” jawab Ibnu Abbas.
“ Jagalah Allah, kamu pasti akan dijagaNya!” (HR. Tirmidzi)

 

7 dari 8 halaman

Saat Makan

Saat makan adalah saat yang tepat bagi orangtua untuk memberi nasihat kepada anak. Itulah mengapa saat anak makan, orangtua sebaiknya mendampingi anak. Hal yang sama juga dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau selalu ada saat anak makan. Mendampingi anak sekaligus memperhatikan segala tindakan mereka. Apabila anak melakukan kesalahan, Nabi Muhammad SAW langsung meluruskan dengan kalimat lemah lembut. Hal ini juga dikatakan oleh Umar bin Salamah ra dalam hadis, yakni:

“ Ketika masih anak-anak, aku pernah dipangku Rasulullah SAW. Tanganku melayang ke arah sebuah nampan berisi makanan. Rasulullah SAW berkata padaku, “ Nak, bacalah Basmalah, lalu makanlah dengan tangan kanan, dan ambillah makanan yang terdekat denganmu!” Maka seperti itulah cara makanku seterusnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Itu artinya, Nabi Muhammad SAW selalu mengajak anak-anak untuk makan dekat dengan beliau dengan ajakan yang lemah lembut. Setelah itu, barulah beliau membimbing mereka tentang cara makan yang baik.

 

8 dari 8 halaman

Saat Anak Sakit

Saat anak sakit adalah salah satu waktu yang tepat untuk memberi nasihat kepada anak, sebab pada kondisi itu biasanya hati anak akan menjadi lebih lembut, sehingga ia mau mendengar nasihat dari orangtua dan mulai menyadari kesalahannya.

Suatu waktu Nabi Muhammad SAW menjenguk seorang anak Yahudi yang tegah sakit. Biasanya, anak itu selalu melayani Nabi. Saat Nabi Muhammad SAW datang ke rumah anak tersebut dan duduk di samping kepalanya, Nabi pun bersabda,

“ Islamlah!”
Anak itu memandang ke arah ayahnya yang saat itu juga dekat dengannya.
“ Ikutilah Abul Qasim (Nabi Muhammad SAW),” ujar ayahnya.
Anak itu pun akhirnya menyatakan keislamannya. Maka Nabi Muhammad SAW ke luar sambil bersabda, “ Alhamdulillah. Allah telah menyelamatkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari dari Anas)

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id