Jangan Tunda Beri Tugas Rumah Tangga, Berdampak Dahsyat Bagi Mental Anak

Ibu Dan Anak | Rabu, 18 Agustus 2021 08:06

Reporter : Mutia Nugraheni

Berikan tugas yang sesuai dengan umur dan kemampuannya.

Dream - Merapikan tempat tidur, menaruh pakaian kotor di keranjang, mencuci piring, menyapu halaman, banyak sekali tugas rumah tangga yang bisa dikerjakan anak. Mungkin sebagian besar orangtua merasa anak masih terlalu kecil untuk diberikan tanggung jawab rumah tangga.

Faktanya, anak usia 2 tahun atau ketika ia sudah mengerti diberi instruksi, maka sudah bisa diberikan tugas. Sesederhana menaruh sampah ringan di tempatnya. Pada anak usia 5 tahun, bisa dibiasakan membereskan bantal dan guling bekas tidurnya atau menaruh piring di bak cuci setelah makan.

Sementara anak 7 tahun sudah bisa diajarkan memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Bila instruksi diberikan dengan jelas dan dibiasakan, bahkan anak sudah bisa mengoperasikan mesin cuci sendiri.

" Kita kerap menahan terlalu lama memberi anak pekerjaan rumah tangga karena berpikir mereka harus siap dulu. Padahal cara terbaik agar anak siap adalah dengan belajar langsung di rumah. Cukup beri 'pekerjaan' sesuai usia dan kemampuannya," ujar Roger W. McIntire, profesor psikologi di Universitas Maryland, dikutip dari SmartParenting.

 

Jangan Tunda Beri Tugas Rumah Tangga, Berdampak Dahsyat Bagi Mental Anak
Anak Mencuci Baju/ Foto: Shutterstock
2 dari 5 halaman

Ikut Bertanggang Jawab Pada Kondisi Rumah

Menurut penelitian yang dilakukan Marty Rossman, seorang profesor di University of Minnesota, pekerjaan rumah tangga merupakan faktor penting untuk membuat anak-anak sukses. Keterampilan dan nilai-nilai yang mereka pelajari akan berguna saat menavigasi masa depan, menakar risiko yang dihadapi dan bertanggung jawab atas apa yang silakukan.

" Dorong partisipasi mereka, dan ingat bahwa ukuran tugas tidak masalah yang penting adalah membangun rasa tanggung jawab anak," kata McIntire.

Hanya dengan membantu tugas-tugas rumah tangga sederhana, anak-anak dapat mempelajari banyak keterampilan dasar yang mereka butuhkan di sekolah. Pekerjaan seperti menyortir cucian dan memasak, dapat mengajari anak tentang berhitung, menyortir warna, memotong, menjumlahkan, dan sebagainya.

Anak-anak yang didorong untuk membantu pekerjaan rumah tangga di usia dini tumbuh dengan sikap positif terhadap tugas-tugas. Ini juga penguat moral.

“ Ketika mereka menyelesaikan tugas, mereka juga mengalami kebanggaan, rasa pencapaian, kemandirian, otonomi, dan perasaan baik secara umum tentang diri mereka sendiri,” kata McIntire.

3 dari 5 halaman

Buah Hati Miliki Mental Kuat, Penting Ajarkan Hal Ini

Dream - Mental kuat tak bisa dibentuk dalam waktu singkat. Seseorang yang bermental kuat bisa dilihat dengan sikap dan keputusannya saat menghadapi masalah besar.

Masalah bisa datang kapan saja. Untuk itu sebagai orangtua kita harus menyiapkan buah hati agar bermental kuat. Bagaimana caranya? Dikutip dari CNBC Make It, berikut rekomendasi psikolog untuk melatih anak punya mental yang kuat.

Memberdayakan Diri Sendiri
Bantu anak-anak untuk bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan dapatkan. Sesekali anak akan membandingkan dirinya dengan teman atau orang lain, hal ini sangat wajar. Kuncinya adalah selalu bisa melihat sisi positif dan kelebihan pada diri sendiri

Anak yang mampu memberdayakan dirinya dengan baik adalah ketika ia mandiri dan sudah bisa membuat keputusan sendiri. Orangtua perlu memberi anak kepercayaan untuk membuat keputusan. Secara tidak langsung hal itu akan mempengaruhi mereka untuk bertanggung jawab atas cara mereka berpikir, merasa, dan berperilaku.

 

4 dari 5 halaman

Berusaha Beradaptasi dengan Perubahan

Berada di lingkungan baru, bertemu orang baru, bukanlah hal mudah bagi anak. Ketika mereka berusaha beradaptasi maka anak akan belajar mengontrol emosi dan perasaannya.

Bagi anak-anak yang kuat secara mental, mereka akan memahami bahwa perubahan yang terjadi dapat membantu mereka untuk tumbuh menjadi orang yang lebih kuat. Awalnya memang tak terasa menyenangkan, tapi mereka akan terbiasa. Saat anak gugup dengan beragam perubahan besar, cobalah meminta mereka untuk mendeskripsikan emosi/perasaan seperti sedih, bahagia, kecewa, takut, antusias, dan sebagainya.

 

5 dari 5 halaman

Tahu Kapan Harus Berkata Tidak

Anak-anak cenderung kesulitan untuk mengatakan tidak karena merasa canggung atau aneh. Hal ini sering berjalan hingga mereka dewasa. Dengan dapat menemukan keberanian itu, maka hal ini akan memudahkan mereka memberikan jawaban untuk permasalahan di masa depan.

Sebagai orang tua, kita bisa membantu dengan mencontohkan mengatakan “ tidak” dengan cara yang sopan. Seperti saat ingin menolak seseorang, " maaf kami tak bisa datang karena berisiko masih pandemi dan membawa anak-anak yang belum vaksin" .

Selengkapnya baca Diadona.id.

Join Dream.co.id