Ini Alasan Anak Cenderung Tak Nyaman Belajar dengan Orangtua

Ibu Dan Anak | Selasa, 30 Maret 2021 10:04
Ini Alasan Anak Cenderung Tak Nyaman Belajar dengan Orangtua

Reporter : Mutia Nugraheni

Mungkin yang jadi pertanyaan banyak orangtua.

Dream - Pandemi mau tak mau membuat orangtua harus turun tangan mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Tentunya hal ini sangat menantang, terutama saat anak berhadapan dnegan pelajaran yang sulit dan orangtua juga kurang mengerti.

Emosi anak dan orangtua pun jadi sama-sama tinggi dan proses belajar malah jadi tak efektif. Anak lebih bisa menyerap pelajaran saat didampingi guru atau tutor privat, mengapa?

Dikutip dari KlikDokter, Gracia Ivonika, M. Psi., seorang psikolog memberi penjelasan. Menurutnya, kondisi seperti itu berkaitan dengan pendekatan antara orangtua ke anak dan orang lain/guru ke anak.

“ Guru punya kelebihan dalam ilmu dan kemampuan memberikan pengajaran yang pastinya berguna secara spesifik untuk membantu anak belajar. Sedangkan, tidak semua orangtua memahaminya dengan baik,” jelasnya.

 

2 dari 6 halaman

Relasi Orangtua dan Anak

Perbedaan lain yang mendasari adalah relasi orangtua ke anak yang berbeda dari relasi guru ke anak. Relasi orangtua dan anak lebih melibatkan emosi. Perbedaan relasi ini akan memengaruhi proses belajar mengajar dan bagaimana anak menangkap informasi dari yang dijelaskan oleh orangtua atau guru.

“ Orang tua punya ekspektasi dan harapan tersendiri kepada anak. Alhasil, itu memengaruhi cara orangtua dalam mengajarkan anak. Orangtua juga lebih leluasa untuk memberikan respons kepada anak. Misalnya, jika anak cukup lama atau susah mengerti, orangtua mungkin lebih mudah marah atau kecewa karena adanya ekspektasi terhadap anak,” kata Ivon.

Atas dasar itulah beberapa anak justru takut dan sering menangis ketika diajari oleh ibu atau bapaknya sendiri. Daripada dimarahi, lebih baik iya-iya saja dan pura-pura mengerti. Saat mengerjakan soal, anak pun kesulitan karena sebenarnya belum paham.

 

3 dari 6 halaman

Pola Pengajaran

Jika bicara soal dampaknya, ternyata hal itu tidak bisa digeneralisasikan. Kita perlu melihat dulu pola pengajaran seperti apa yang diberikan orangtua saat di rumah dan karakteristik si anak sendiri.

“ Banyak juga kasus yang pada akhirnya membuat si anak memiliki trauma tertentu. Mereka jadi low self esteem (rendah diri/minder), kurang punya motivasi. Salah satu hal yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah karena anak memiliki pengalaman belajar yang buruk, termasuk pengalaman saat diajari orangtuanya sendiri," kata Ivon.

Tak cuma itu, apa yang dilakukan orangtua akan diserap oleh anak sehingga di masa depan, dirinya berpotensi melakukan hal serupa. Misalnya, orangtua mengajari anak sambil marah-marah. Di kemudian hari, saat dia sudah dewasa dan punya anak, dia pun berpotensi membentak anaknya juga saat belajar.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

4 dari 6 halaman

Ada 4 Tahapan Penting Saat Anak Belajar Membaca

Dream - Kemampuan membaca akan sangat berdampak signifikan pada pengetahuan anak. Hal ini juga yang membuat banyak orangtua ingin anak-anaknya cepat bisa membaca. Saat anak belajar membaca, seperti membuka dunia yang baru bagi mereka.

Penting bagi anak untuk mempelajari keterampilan membaca sejak usia dini. Seperti yang kita tahu, mengajari anak membaca tidaklah mudah dan membutuhkan waktu serta kesabaran.

" Seorang anak perlu mengembangkan beberapa keterampilan lain dan memiliki daya ingat yang baik untuk membaca tulisan sederhana," kata Ratika Pai, seorang pakar pendidikan anak, dikutip dari MomJunction.

Setiap anak mengembangkan keterampilan membaca dengan kecepatan mereka sendiri. Sesuai model yang dikembangka ahli teori pendidikan Jeanne Chall, kebanyakan anak melalui tahapan perkembangan membaca berikut.

Tahap 0 - Pra-membaca
Dari usia enam bulan hingga enam tahun, anak-anak sebagian besar terlibat dalam “ membaca semu,” artinya anak hanya berpura-pura membaca dengan memegang buku di tangan mereka.

" Mereka biasanya meniru orangtua atau guru mereka yang sebelumnya membacakan untuk mereka dari sebuah buku. Pada usia enam tahun, mereka umumnya memahami ribuan kata yang mereka dengar tetapi hanya dapat membaca beberapa di antaranya," ujar Pai.

 

5 dari 6 halaman

Tahap 1 - Penguraian kode awal

Ketika anak berusia antara enam dan tujuh tahun, mereka dapat mengenali hubungan antara kata-kata tertulis dan lisan dan antara huruf dan suara. Anak juga mulai mengenali kata-kata sederhana dan mampu membunyikan kata-kata satu suku kata.

Anak secara khusus mengembangkan keterampilan ini jika dibimbing langsung oleh orang dewasa. Latihan teratur membantu mereka memahami lebih dari 4.000 kata yang mereka dengar dan membaca hingga 600 kata yang berbeda.

Tahap 2 - Konfirmasi dan kefasihan
Antara usia tujuh dan delapan tahun, anak-anak belajar membaca cerita sederhana yang pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka melakukan ini dengan menerapkan keterampilan decoding, kosa kata penglihatan, dan petunjuk konteks.

" Dari titik ini, anak-anak dapat lebih mengembangkan keterampilan membaca mereka dengan mendengarkan orang lain lebih banyak membaca dan membaca. Pada akhir tahap ini, mereka memahami sekitar 9.000 kata yang telah mereka dengar dan belajar membaca sekitar 3.000 kata," kata Pai.

 

6 dari 6 halaman

Tahap 3 - Membaca untuk mempelajari yang baru

Antara sembilan dan 13 tahun, anak-anak belajar membaca teks yang kompleks untuk mendapatkan pengetahuan baru, ide-ide baru, dan pengalaman baru. Pada tahap awal ini, anak cenderung belajar lebih banyak melalui pemahaman mendengarkan, dan pada akhir tahap ini, mereka mampu belajar baik melalui mendengarkan maupun membaca.

Meskipun sebagian besar anak mungkin mengikuti pola yang disebutkan di atas saat belajar membaca, penelitian menunjukkan bahwa membaca kepada anak secara teratur pada usia empat hingga lima tahun berdampak positif pada keterampilan membaca dan kognitif mereka di kemudian hari.

Join Dream.co.id