Hukum Membentak Anak Saat Menegur dalam Islam

Ibu Dan Anak | Rabu, 10 November 2021 12:05

Reporter : Mutia Nugraheni

Ayah Bunda wajib tahu.

Dream - Sikap anak-anak seringkali sangat menguras emosi orangtua. Terutama saat mereka berulah, tak mau mendengarkan atau tidak disiplin. Tanpa sadar kita sebagai orangtua menegurnya dengan suara tinggi, membentak, bahkan berteriak

Hal tersebut sebaiknya dihindari. Dalam Islam, orangtua diajarkan untuk menjadi teladan yang baik bagi anak. Dikutip dari DalamIslam.com, Sebagaimana nasihat Luqman Al Hakim kepada anaknya yang diabadikan dalam Alquran:

 Luqman 19© DalamIslam.com

Artinya: Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai,” (Luqman: 19).

Maksudnya, janganlah berlebihan dalam berbicara dan janganlah meninggikan suara tanpa kebutuhan. Oleh karena itu, Allah berfirman (yang artinya): “ Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Berteriak pada anak menurut islam adalah dilarang. Diriwayatkan dalam hadits saat mengurus anak, orangtua seharusnya bisa bertindak seperti anak-anak ketika sedang bersama si kecil, orangtua harus lebih bisa memahami anak-anaknya dengan lebih baik.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

 Tafsir Ibnu Katsir, 3/711© DalamIslam.com

“ Kalau kalian mendengar ayam berteriak (berkokok) maka berdoalah meminta nikmat kepada Allah. Namun, jika kalian mendengar suara keledai berteriak (meringkik) maka mintalah perlindungan kepada Allah, karena keledai tersebut sedang melihat setan,” tafsir Ibnu Katsir, 3/711.

 

Hukum Membentak Anak Saat Menegur dalam Islam
Memarahi Anak/ Foto: Shutterstock
2 dari 5 halaman

Istigfar

Untuk menghindari membentak anak meski Moms dan Dads merasa kesal ketika mereka berulah, inilah beberapa cara yang bisa diterapkan:

1. Istighfar
Ketika berteriak kepada anak, itu tandanya anda berada dalam keadaan marah yang disebabkan oleh bisikan setan. Oleh karena itu pentinh untuk mencari perlindungan dari setan, seperti mengucapkan istighfar “ Astagfirullahaladzim”.

Agar di jauhkan dari godaan setan. Sebagaimana di riwayatkan oleh atiyyah sa’di Nabi berkata:

“ Kemarahan datang dari iblis, iblis dicipatakan dari api dan api padam hanya dengan air. Jadi ketika salah satu dari Kamu menjadi marah, dia harus melakukan wudhu,” (Abu Dawud).



3 dari 5 halaman

Menjauh dan Duduk

2. Menjauh dari anak
Untuk sementara, jauhkan diri dari anak saat emosi sedang tinggi. Tenangkan diri lebih dulu, tarik napas panjang. Setelah emosi menurun, baru kemudian bicaralah dengan anak secara baik-baik.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“ Tidaklah kelemah lembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasainya dan tidaklah dicabut darinya melainkan akan memperjeleknya ” (HR. Muslim 2594 dari ‘Aisyah radhiallahu’anha)


3. Duduklah saat berbicara
Faktanya saat berdiri membuat orangtua akan lebih mudah marah. Untuk mencegah hal-hal seperti itu, sebaiknya lekas duduk ketika berbicara kepada anak-anak, ini juga bagian dari sunnah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) beliau bersabda dalam satu hadis:

“ La taghdob walakal Jannah (janganlah marah maka bagimu surga).”

4 dari 5 halaman

Hukum Islam Gelar Tedhak Siten untuk Buah Hati

Dream - Tinggal di Indonesia, terutama di lingkungan yang masih memegang teguh ritual budaya dan kepercayaan, kita seringkali mengikuti adat dan kebiasaan yang ada. Salah satunya dalam hal tumbuh kembang anak.

Bagi masyarakat Jawa, anak yang memasuki usia 7 bulan dan baru belajar menapak serta merangkak, dianjurkan untuk melakukan upacara Tedhak Siten. Ritual ini dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dan memohon kepada-NYA agar buah hati tumbuh dengan sehat dan pintar.

Upacara ini bukan hanya menjalani ritual seperti memilih mainan, menapaki tangga dan lainnya. Para kerabat dan sesepuh juga diundang untuk bersama-sama memanjatkan doa pada anak yang sudah berusia 7 bulan.

Dikutip dari BincangSyariah.com, dalam Islam, acara ini lebih dikenal dengan istilah al-ihtifal bihadzaq al-shibyan, atau merayakan kepintaran anak. Menurut para ulama, hukum mengadakan al-ihtifal bihadzaq al-shibyan adalah boleh.

5 dari 5 halaman

Penjelasan Ulama

Banyak di antara kalangan ulama salaf, seperti Imam Al-Hasan Al-Bashri, yang membolehkan merayakan kepintaran anak ini. Misalnya, dengan menabur kacang-kacangan, memberikan uang, menyembelih hewan kemudian mengundang orang lain untuk makan bersama.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Fashsh Al-Khawatim Fima Qila fi Al-Wala-im berikut;

 Fashsh Al-Khawatim Fima Qila fi Al-Wala-im© Bincang Syariah

Merayakan kepintaran anak-anak; Al-Dauri meriwayatkan dari Abu Bakr Al-Hudzali, dia berkata; Aku bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri dan Ikrimah mengenai seorang anak yang sudah tumbuh giginya, kemudian dilemparkan kacang-kacangan padanya. Mereka berdua menjawab; Halal. Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata; Jika anak sudah pintar, mereka menyembelih kambing kemudian mereka membuat makanan.

Selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id