Hak Anak Indonesia Belum Terpenuhi, Termasuk Soal Kesehatan Mental

Ibu Dan Anak | Jumat, 30 Juli 2021 10:07

Reporter : Cynthia Amanda Male

Didasarkan pada studi kesehatan anak pada 13 provinsi.

Dream – Situasi pandemi membuat kondisi kesehatan anak-anak Indonesia sangat memprihatinkan. Bukan hanya kesehatan fisiknya, tapi juga kesehatan mental. Untuk mengetahui kondisi kesehatan anak Indonesia selama pandemi, Health Collaborative Center (HCC) menginisiasi penelitian berbasis studi literatur dan konsensus ahli.

Penelitian yang bertajuk “ Meninjau Pemenuhan Hak Kesehatan Anak”, secara khusus menggambarkan kondisi makro dari pemenuhan hak kesehatan anak di Indonesia.
Dalam konferensi pers yang berlangsung secara virtual pada Kamis, 29 Juli 2021, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK peneliti dan founder HCC menyatakan, terdapat lima hak kesehatan anak yang belum terpenuhi. Berikut daftarnya:

1. Hak untuk terbebas dari masalah gizi buruk/gizi kurang, gizi lebih
2. Hak untuk mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan secara umum dan layanan kesehatan mental pada anak belum terpenuhi secara optimal
3. Hak mendapat pengasuhan dari orang tua dan komunitas yang belum terlindungi
4. Hak terhadap akses pendidikan, terutama pendidikan kesehatan di lembaga pendidikan (sekolah) yang belum fokus;
5. Hak untuk dilahirkan dengan selamat dan hidup dengan kualitas hidup sehat yang baik (mengingat angka kematian pada neonatal, bayi, balita masih sangat tinggi)

" Kelima hak kesehatan anak yang belum terpenuhi diperoleh dari suatu penelitian dalam bentuk rangkaian kajian berbasis konsensus ahli dan studi literatur. Melibatkan Bunga Pelangi, MKM selaku Researcher Associate HCC, 36 akademisi, pemerhati/praktisi, pemangku kepentingan, dan pelaku program perlindungan hak anak dan kesehatan anak Indonesia dari 13 provinsi di Indonesia," ujar dr. Ray.

 

Hak Anak Indonesia Belum Terpenuhi, Termasuk Soal Kesehatan Mental
Anak Stres
2 dari 6 halaman

Kesehatan Mental Anak

Ia juga menyoroti soal kesadaran orangtua dan masyarakat terhadap kesehatan mental anak masih sangat terbatas. Dibutuhkan banyak pendampingan dari pihak terkait untuk membantu menjaga kesehatan mental anak, khususnya selama masa pandemi.

“ Bisa dimulai dari perbanyak konselor kesehatan mental, posyandu dilengkapi dengan konselor kesehatan mental, guru sekolah dasar harus punya kompetensi kesehatan anak," kata dr. Ray.

Tristania Faisa Adam, Ketua Forum Anak Nasional 2019–2021 dalam kesempatan yang sama kalau kelompok anak dalam kondisi sekarang butuh perhatian ekstra dari pemerintah. Kesehatan fisik dan mental anak sangat bergantung pada kebijakan negara.

" Populasi anak menjadi salah satu komponen masyarakat yang perlu mendapat perhatian ekstra dan prioritas. Jangan hanya melihat hasil penelitian ini sebagai rekomendasi di atas kertas saja, tapi keterlibatan 36 pakar dari 13 provinsi ini memiliki validitas kuat untuk didengarkan seluruh pihak terutama pemerintah," kata Tristania.


Laporan: Elyzabeth Yulivia

 

 

 

 

3 dari 6 halaman

Kondisi Mental Anak Saat Pandemi yang Sering Tak Disadari Orangtua

Dream - Sudah hampir dua tahun pandemi membuat kita lebih banyak 'mengunci' diri di rumah, begitu juga anak-anak. Mereka tak bisa bebas bersekolah dan bermain bersama teman serta saudara di taman bermain.

Jika bermain bersama pun sederet protokol kesehatan harus dilakukan ketat. Pastinya hal ini berdampak pada kondisi psikis anak, di mana harus menghadapi faka ada virus berbahaya dan bermain dengan penuh rasa was-was.

Untuk itu, orangtua perlu memperhatikan kondii psikologis anak selama pandemi. Tanpa disadari, pandemi membuat anak-anak lebih berisiko mengalami masalah kesehatan mental.

" Anak-anak bergumul dengan banyak masalah kesehatan mental yang sama dengan yang dialami orang dewasa. Mulai dari depresi, kecemasan, kecemasan sosial, isolasi, hingga keinginan bunuh diri," kata dr. Marcie Beigel, EdD, BCBA-D, seorang pakar perilaku anak, dikutip dari Mom.com.

Hasil survei Mental Health America, anak-anak berusia 11 hingga 17 tahun yang mengikuti tes skrining, lebih mungkin menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan depresi sedang hingga parah dibandingkan semua kelompok usia lainnya.

 

4 dari 6 halaman

Anak Kebingungan

Di semua kelompok umur, kelompok ini mengalami tingkat keinginan bunuh diri tertinggi. Dari Januari hingga September 2020, dari 77.470 anak (11 hingga 17 tahun) yang dilaporkan sering mengalami keinginan bunuh diri.

“ Mereka tidak tahu bagaimana meminta bantuan [atau memahami] apa yang dirasakan dan mereka merasa sendirian. Pandemi juga telah meningkatkan banyak masalah mental yang dialami anak-anak. Jika mereka merasa sedikit tidak sinkron sebelum pandemi, sekarang mereka merasa seperti orang buangan," kata Beigel.

Gejala kecemasan pada anak-anak kerap berbeda dibandingkan pada orang dewasa. Anak-anak kerap bingung mengungkapkan apa yang dirasakannya.

“ Ada perubahan dalam kepribadiannya, lalu anak tampaknya mengalami kemunduran dalam kemampuannya. Misalnya anak berhenti melakukan hal-hal yang biasa disukai. Bisa jadi anak menolak untuk sekolah online dan hanya ingin menonton video yang sama berulang-ulang untuk menenangkan diri," ujar Beigel.

Orangtua memang harus lebih peka dalam melihat perubahan sikap dan kebiasaan anak. Bila mereka menarik diri, sulit tidur atau sikapnya lebih agresif dan tak kunjung mereda selama lebih dari 3 pekan, penting untuk berkonsultasi dengan para profesional. Bisa dengan dokter anak atau psikolog anak.

 

5 dari 6 halaman

Anak yang Rajin Ternyata Rentan Mengalami Masalah Mental

Dream - Sikap rajin tak dimiliki semua anak. Bagi orangtua yang memiliki anak yang rajin tentunya akan sangat senang. Si rajin tak perlu lagi disuruh saat belajar atau mengerjakan sesuatu karena mereka cenderung berinisiatif untuk segera menyelesaikannya.

Dikutip dari KlikDokter.com, menjadi rajin dan tekun pada dasarnya baik. Banyak kesuksesan yang datang dari sifat yang satu itu. Jika perilaku rajin bukan datang dari keinginan anak sendiri, maka hal tersebut justru bisa menjadi bumerang.

Tekanan berlebihan yang setiap hari diterima dari orangtua dan sekitar akhirnya menumbuhkan ambisi yang tidak sehat dalam diri anak. Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan dampak buruk yang rentan dialami anak dengan kondisi tersebut. Apa saja?

1. Lelah Secara Fisik
Segala sesuatu yang dilakukan berlebihan akhirnya akan membuat stamina tubuh drop dan jatuh sakit. Belajar, mengerjakan tugas, les ini dan itu, ikut beragam komunitas, hingga membantu banyak pekerjaan rumah memang aktivitas positif. Kalau dilakukan tanpa jeda agar mendapat titel “ anak rajin”, itu justru merugikan kesehatannya.

2. Lelah Secara Mental (Burnout)
“ Karena terus berfokus pada pencapaian-pencapaian yang tinggi, mentalnya akan ikut lelah. Bila pada kenyataannya potensi anak di bawah target lalu memarahinya, ia juga akan down dan lelah psikisnya,” kata Gracia.

Ia menambahkan, “ Tertekan dan burnout mungkin dapat dialami oleh si anak karena ia berusaha memenuhi ekspektasi lingkungan.”

Semua aktivitas yang dilakukan saat terlanjur burnout akan memberikan hasil yang buruk. Hal itu semakin menambah kekecewaan dan seperti “ lingkaran setan” yang tak pernah selesai.

 

6 dari 6 halaman

Bisa Juga Mengalami Ini

3. Sering Dimanfaatkan Orang Lain
Kekurangan anak rajin yang satu ini juga sangat menyebalkan untuknya. Kebiasaan disuruh ini dan itu oleh orang dewasa di rumah akan membuat anak menjadi tidak peka dan asertif (tegas).

Alhasil, potensinya malah dimanfaatkan orang lain, tak terkecuali teman sebayanya. Ia sering disuruh mengerjakan tugas teman-temannya, memberikan jawaban ujian, mewakili untuk melakukan sesuatu hal yang tidak perlu, dan lainnya.

4. Bila Kurang Apresiasi, Langsung Merasa Tak Berharga
Usaha ekstra biasanya menuntut apresiasi lebih. Sayangnya, kadang hidup tidak sesuai harapan. Orangtua acap kali tidak memberikan perhatian dan apresiasi secara penuh atas usaha-usaha anak. Anak pun bisa merasa tidak berharga, menganggap yang dilakukannya sia-sia saja, dan rendah diri.

5. Timbul Masalah Mental
Pada taraf yang tidak lagi bisa ditoleransi anak, paksaan untuk rajin mengarahkannya ke masalah psikologis, seperti gangguan cemas dan depresi. Hal ini karena anak melakukannya bukan untuk kepuasan pribadi, melainkan orang lain.

" Sehingga, pure sense of completion dan joy-nya tidak benar-benar didapatkan anak," kata Gracia.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id