Hadapi Anak Tantrum, Ayudia Punya Trik Khusus

Ibu Dan Anak | Jumat, 13 September 2019 18:03
Hadapi Anak Tantrum, Ayudia Punya Trik Khusus

Reporter : Mutia Nugraheni

Bisa dicontoh saat menghadapi si kecil yang sedang mengamuk.

Dream - Ayudia Bing Slamet yang duluk sibuk bermain sinetron, kini lebih memilih menjadi fotografer persalinan. Profesi barunya ini membuat ia bisa lebih banyak waktu untuk mengurus putra satu-satunya, Sekala.

Sebagai ibu, Ayudia berbagi pengalamannya membesarkan Sekala. Salah satu momen yang paling menantang adalah ketika sang putra tantrum atau mengamuk tak terkendali.

Menurutnya anak yang mengalami tantrum memiliki berbagai faktor mulai dari kondisi tubuh si anak sedang tidak sehat, atau keinginan si anak yang tidak dituruti oleh orangtuanya.

" Intinya kita santai dulu, biarkan si anak meluapkan apa yang jadi perasaanya abis itu ketika dia sudah tenang tanyain lagi, kenapa? Tadi tuh kenapa ? Oh ga enak badan, dan kita harus melakukan sesuatu dan intinya sih kita harus banyak mendengarkan dari si anak itu" Kata Ayudia, saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

2 dari 6 halaman

Kesabaran ekstra

Menurutnya menghadapi anak tantrum memang bukan perkara mudah. Butuh kesabaran ekstra dan trik khusus untul menenangkan si anak.

" Kalau Sekala tantrum aku cuma diam biasa, aku napas dalam-dalam. Biarin aja sampai nanti dia udah agak tenang. Sekarang kalau dia marah suka aku suruh 'Sekala coba tenang dulu' sampi detik ini marah nanti balik lagi sambil bilang 'Mom aku udah tenang gitu'," kata Ayudia

Saat anak mengamuk, menurut Ayudia, lebih baik orangtua pasang wajah datar, tanpa ekspresi, seolah tidak terjadi apa-apa. Barulah setelah anak tenang atau sudah melepaskan energinya, ajak anak bicara atau alihkan perhatiannya ke hal lain.

Laporan Vika Novianti Umar

3 dari 6 halaman

3 Hal yang Sering Memicu Balita Alami Tantrum

Dream - Tantrum atau mengamuk tak terkendali sering terjadi pada anak balita. Mereka bukan hanya menangis, tapi berguling, teriak, memukul orang di sekitar bahkan menyakiti diri sendiri.

Studi menunjukkan bahwa antara 60 dan 90 persen anak usia dua tahun kerap mengalami tantrum. Frekuensinya memuncak antara usia 2,5 hingga tiga tahun, dan bisa terjadi setiap hari. Pada usia lima tahun, frekuensinya akan jauh berkurang.

" Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan emosi karena memang belum matanya secara psikologis," kata psikolog anak Christina Rinaldi dari University of Alberta di Edmonton.

Apa yang dapat dikendalikan, setidaknya sampai batas tertentu, adalah situasi yang cenderung memicu kemarahan anak. Salah satunya adalah mencari tahu hal-hal sering memicu anak menjadi tantrum. Berikut daftarnya.

4 dari 6 halaman

Lelah

Anak-anak suka sekali beralrian ke sana ke mari. Apalagi jika banyak teman atau saudaranya. Biasanya setelah main seharian, ia akan sangat kelelahan fisik dan mental dan menjadi sangat rewel hingga mengamuk.

Jika sudah begini, hal apapun akan membuatnya menangis dan sulit dikendalikan. Penting untuk tetap tidur siang dan mengajak istirahat setelah kelelahan. Mandikan dengan air hangat, lalu balur tubuhnya dengan minyak telon. Ajak ia tidur sambil beri pijatan.

5 dari 6 halaman

Lapar dan haus

Rasa lapar dan haus yang dialami anak-anak kerap kali diabaikan. Saat perutnya kosong dan kehausan, anak jadi mudah sekali mengamuk. Mereka juga cenderung menolak apapun yang ditawarkan.

Untuk itu, jika selalu sediakan camilan atau susu dalam kemasan yang bisa dinikmati si kecil setiap saat. Sehingga, saat bermain ia bisa menikmati camilan dan tak kelaparan hingga menunggu waktu makan.

6 dari 6 halaman

Orangtua yang 'pecah' perhatian


Perhatian memang sangat dibutuhkan anak-anak. Mereka pun akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya termasuk mengamuk. Biasanya, saat orangtua sedang melakukan sesuatu dan anak meminta perhatian lalu tak didapatkan, mereka akan tantrum.

Mengatasinya harus seimbang. Jika memang bisa langsung memberi perhatian, segera lakukan. Tapi jika sedang ada hal yang harus diselesaikan seperti telepon penting, mengurus pekerjaan, jelaskan pada anak. Setelah itu baru perhatian akan fokus kepadanya.

Sumber: Todays Parent

 

Join Dream.co.id