Habibie yang Jenius Dibentuk oleh Asuhan Sang Ayah

Ibu Dan Anak | Kamis, 12 September 2019 16:04

Reporter : Mutia Nugraheni

Alwi Abdul Djalil Habibie adalah sosok penting yang membentuk Habibie kecil.

Dream - Latar belakang keluarga tentu sangat berpengaruh pada pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Bagaimana ia menghadapi masalah, beradaptasi hingga mencapai kesuksesan. Pribadi Prof. DR. H. Baharuddin Jusuf Habibie, berasal dari keluarga yang hangat.

Dikutip dari Sahabat Keluarga Kemdikbud, kejeniusan Habibie telah terbentuk sejak kecil. Selain karena keenceran otaknya, juga karena hasil didikan dan gemblengan ayahnya, Alwi Abdul Djalil Habibie.

Cara yang digunakan Alwi membuat Rudy, nama kecil BJ Habibie, selalu ingin tahu segala sesuatu dan selalu ingin memecahkan masalah yang ditemuinya, serumit apapun. Dalam buku biografinya BJ Habibie berjudul “ Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner” yang ditulis oleh Gina S Noer dan diterbitkan 2015, terungk bahwa saat berusia 2-3 tahun, Rudy adalah anak yang selalu ingin tahu segala sesuatu dan cerewet menanyakan segala sesuatu yang ditemui dan dilihat pada ayahnya.

Habibie yang Jenius Dibentuk oleh Asuhan Sang Ayah
BJ Habibie (Foto: Instagram Habibie Center)
2 dari 6 halaman

Kritis sejak kecil

Contohnya, saat Rudy berusia 3 tahun. Ia menanyakan, apa yang dilakukan ayahnya dengan menggabungkan kedua pohon yang berbeda atau tak sejenis. Ayahnya memang menjabat landbouwconsulent atau setara dengan Kepala Dinas Pertanian di Pare Pare, Sulawesi Selatan.

Ayahnya tidak kesal dengan pertanyaan Rudy tersebut, tapi menjawabnya dengan serius. “ Papi sedang melakukan eksperimen, jadi kita bisa menemukan jawaban dari percobaan. Nah, ini namanya setek. Batang yang di bawah itu adalah mangga yang ada di tanah kita, tapi rasanya tidak seenak mangga dari Jawa. Jadi, batang Mangga dari jawa, Papi gabungkan dengan batang yang di bawah ini”, kata ayahnya.

3 dari 6 halaman

Ayahnya memancing rasa ingin tahu

Rudy kembali bertanya, “ Mengapa Papi gabungkan?” Jawaban ayahnya: “ Agar kamu dan teman-teman bisa makan Mangga yang enak”. Lantas Rudy bertanya lagi: “ Kalau gagal bagaimana?”. Jawaban ayahnya: “ Kita cari cara lain dan pohon Mangga lain agar bisa tumbuh di sini”.

Rudy pun puas atas jawaban ayahnya itu dan itulah yang selalu dilakukan ayahnya setiap kali Rudy bertanya segala sesuatu, dijawab dengan cara sesederhana mungkin agar bisa dipahami anak kecil. Dengan cara itulah, keingintahuan Rudy terus tumbuh dan terasah sampai dewasa.

4 dari 6 halaman

Dibelikan banyak buku

Kesibukan pekerjaan membuat sang ayah tak bisa selalu menjawa pertanyaan Habibie kecil. Sang ayah lalu mengajarkan membaca agar Rudy bisa mencari jawabannya melalui buku-buku. Ayahnya membeli bermacam-macam buku untuk dibaca Rudy.

Hasilnya, usia 4 tahun, Rudy sudah lancar membaca dan rajin melahap buku-buku yang disediakan ayahnya. Sejak usia empat tahun, buku menjadi cinta pertama Rudy dan membaca menjadi bagian hidupnya.

5 dari 6 halaman

Buku cinta pertama

Rudy membaca buku apa saja, mulai ensiklopedia sampai buku cerita. Buku-buku karya Leonardo Da Vinci dan buku fiksi ilmiah karya Jules Verne menjadi buku-buku favorit Rudy.

Rudy pun senang sekali membuka buku-buku dalam bahasa Belanda. Setiap menemukan kata-kata yang sulit dan tak dipahami, Rudy tak segan bertanya pada orang tuanya sehingga akhirnya orang tuanya membelikan kamus Indonesia-Belanda sehingga bisa belajar sendiri.

6 dari 6 halaman

Kebiasaan literasi

Apa yang dilakukan Alwi pada Rudy merupakan salah salah praktik penanaman kebiasaan membaca di rumah. Alwi berusaha menjawab setiap pertanyaan anaknya, dengan metode penanaman literasi sains di keluarga. Melalui cara Alwi tersebut, Rudy tumbuh menjadi manusia yang gemar mencari setiap masalah dan menemukan solusinya.

Saya dari lahir, cuma butuh tidur empat jam, selebihnya yang dua puluh jam, panca indera saya menyerap lingkungan sekitar dan bertanya-tanya," kata Habibie.

Sumber: Kemdikbud

Join Dream.co.id