Dokter Ingatkan Tanda Disleksia Anak, Penting Diwaspadai Saat SFH

Ibu Dan Anak | Kamis, 26 Agustus 2021 16:05

Reporter : Mutia Nugraheni

Anak disleksia bisa jadi sangat sangat pintar tapi memiliki kelainan dalam memproses bahasa.

Dream - Kemampuan membaca merupakan hal yang sangat mendasar. Pada beberapa anak, ada yang sangat sulit untuk membaca. Kondisi tersebut bisa mengindikasikan disleksia yaitu gangguan di mana seseorang mengalami kesulitan membaca, menulis, dan mengeja.

Disleksia umumnya terjadi pada anak-anak, dan dapat terjadi pada mereka yang memiliki intelegensi lebih dari rata-rata. Dokter Citra Melinda, spesialis anak, lewat akun Instagram resminya @citra_amelinda mengungkap kalau disleksia umumnya terjadi di dua tahun pertama mulai sekolah saat anak baru bisa membaca.

" Anak-anak dengan disleksia memiliki kesulitan membaca dan mengeja kata-kata. Disleksia bukan merupakan masalah kecerdasan, anak disleksia pintar seperti anak lainnya namun terdapat kelainan dalam memproses bahasa," tulis dr. Citra.

 

 

Dokter Ingatkan Tanda Disleksia Anak, Penting Diwaspadai Saat SFH
Disleksia/ Foto: Shutterstock
2 dari 6 halaman

Perhatikan Tanda Berikut

Ia menjelaskan kalau memang agak sulit mendeteksi disleksia pada anak pra sekolah. Jika orangtua lebih peka, mungkin bisa melihat tanda-tanda berikut.

- salah mengucapkan banyak kata
- tidak bisa memainkan intonasi atau kesulitan mengicapkan kata yang huruf awalnya sama seperti " saya suka sekali"
- sangat kesultan mengulang kata dan kaliman panjang dibandingkan teman seusianya
- sulit menyambungkan huruf dan melafalkannya
- cenderung menebak dan menghafal kata dibandingkan membaca
- kesulitan mengeja dan membaca dibandingkan anak seusianya

" Walaupun begitu tingkat intelejensia anak dengan Disleksia sama dengan anak normal namun otak mereka memproses bahasa dengan cara yang berbeda," ungkap dr. Citra.

Untuk mengetahui kondisi anak secara detail jangan segan untuk berkonsultasi dengan dokter anak agar mendapat diagnosis dan penanganan dan terapi yang tepat.

3 dari 6 halaman

Anak Masih Sekolah Online, Pastikan Tidak Lakukan Ini

Dream - Hingga saat ini kasus Covid-19 di Indonesia masih sangat tinggi. Kebijakan PPKM kembali diperpanjang dan sekolah belum dibuka untuk tatap muka. Hal ini demi kesehatan dan keselamatan anak-anak.

Belajar secara online memang tidak mudah. Baik bagi anak-anak, orangtua yang mendampingi, serta guru di sekolah. Sebisa mungkin dengan keterbatasan yang ada, penting bagi orangtua untuk memaksimalkan belajar online.

Bagaimana caranya? Pastikan anak tidak melakukan hal berikut

Belajar di tempat tidur
Saat anak sedang tak bersemangat, mungkin ia akan membawa laptop atau tablet ke tempat tidur. Anak mendengarkan guru sambil berbaring. Hal ini bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Terutama dalam hal kesehatan otot dan tulangnya.

" Ketika duduk di tempat tidur membungkuk di atas layar komputer, seluruh tulang belakang melengkung ke depan dengan berat tubuh bagian atas dan kepala terus-menerus ditarik ke bawah," kata Kaliq Chang, M.D., spesialis manajemen nyeri di Atlantic Spine Center.

Hal ini menyebabkan tulang belakang duduk dalam posisi yang tidak wajar. Bisa menimbulkan rasa nyeri hingga sakit kepala. Dalam kondisi ini anak akan kehilangan konsentrasi.

 

4 dari 6 halaman

Hindari Juga Hal Ini

Mengenakan piyama dan tak mandi
Wajar jika belajar dari rumah aturan pakaian lebih " longgar" tapi jangan sampai anak sekolah masih dengan piyama tidurnya. Buat rutinitas, agar anak tahu batasannya.

" Menjaga rutinitas yang membuat batasan antara waktu sekolah dan waktu non-sekolah sangat penting," kata Rachel Busman, Psy.D., dari Child Mind Institute.

Bersiap-siap sebelum sekolah termasuk bangun pada waktu yang sama setiap pagi dan mengganti piyama, adalah sinyal ke otak dan tubuh bahwa sudah waktunya untuk bekerja.

Melewatkan jadwal makan
Setelah bangun dan bersiap, anak seringkali langsun online tanpa sarapan. Saat pembelajaran dimulai, mereka merasa pusing karena belum makan. Akhirnya makan terburu-buru di sela istirahat.

Kebiasaan ini sangat tidak baik. Jadi pastikan sebelum anak belajar, sarapan lebih dulu. Tetap buat jadwal makan yang teratur, karena jika asupan nutrisi terpenuhi konsentrasinya jadi lebih baik.

 

 

5 dari 6 halaman

Anak Lama Pakai Headphone untuk Sekolah Online, Berbahayakah?

Dream - Headphone atau earphone jadi barang elektronik yang kerap digunakan saat sekolah online. Dengan menggunakannya anak memang bisa jelas mendengar penjelasan guru melalui zoom atau video pembelajaran.

Belum lagi menikmati hiburan lain seperti saat main game atau menonton tayangan favorit mereka di gadget. Sebagai orangtua kita pastinya khawatir jika anak setiap hari menggunakan headphone atau earphone dalam jangka waktu lama setiap hari.

" Bahayanya adalah mendengarkan sesuatu yang sangat keras untuk waktu yang lama. Anda perlu membatasi volume dan durasinya," kata Susan Scollie, Director National Centre for Audiology di Western University, Kanada, dikutip dari Todays Parent.

Gangguan pendengaran akibat kebisingan bersifat kumulatif. Jika anak sering terpapar suara keras dalam waktu lama, mereka berisiko mengalami kerusakan permanen. Headphone sebenarnya tidak secara khusus lebih berbahaya dibandingkan dengan sumber kebisingan lainnya namun dapat menjadi kendaraan untuk paparan kebisingan yang berbahaya jika digunakan secara tidak benar.

 

6 dari 6 halaman

Perhatikan Volume dan Durasi

Sebagian besar data tentang gangguan pendengaran jangka panjang berasal dari studi tentang paparan tempat kerja orang dewasa terhadap kebisingan. Delapan jam paparan suara pada 85 desibel (dB), yang setara dengan kebisingan di restoran yang ramai atau lalu lintas yang padat, dianggap berbahaya.

Jika anak mendengarkan film, musik, atau video game pada 85 dB atau lebih tinggi untuk jangka waktu tersebut sekaligus atau secara kumulatif sepanjang hari, mereka bisa berisiko mengalami masalah pendengaran. Volume adalah faktor kunci.

Anak-anak di bawah usia 5 tahun memiliki saluran telinga yang lebih pendek daripada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa, yang memperkuat suara. Penting untuk ewaspada lebih ekstra terutama paparan suara yang keras pada bayi, balita dan anak-anak prasekolah.

Orangtua memiliki beberapa opsi untuk membantu menghindari kerusakan pendengaran pada anak-anak mereka, dan kuncinya adalah membatasi volume dan lamanya waktu yang dihabiskan anak-anak menggunakan earphone.

" Banyak perangkat memiliki pengaturan yang memungkinkan kita mengontrol output volume maksimum. Bisa juga menggunakan headphone pembatas volume yang membatasi keluaran suara yang mencapai telinga anak-anak, tidak peduli seberapa tinggi volume pada perangkat yang mereka gunakan," kata Scollie.

Anak-anak (dan orang dewasa) juga harus memberi waktu pada gendang telinga untuk beristirahat. Direkomendasikan rasio dua banding satu yaitu jika memakai headphone selama dua jam, luangkan waktu satu jam untuk telinga beristirahat.

Join Dream.co.id