Curhat Raditya Dika, Anak Keduanya Harus Jalani Fototerapi

Ibu Dan Anak | Jumat, 13 November 2020 16:04
Curhat Raditya Dika, Anak Keduanya Harus Jalani Fototerapi

Reporter : Mutia Nugraheni

Ia bersama Anissa mengaku sempat panik, karena baru tahu kalau buah hatinya mengalami masalah bilirubin.

Dream - Raditya Dika dan Anissa Aziza, sang istri baru saja dikaruniai anak kedua yang diberi nama Aksara Asa Nasution. Buah hati mereka lahir pada 4 November 2020 lalu.

Setelah melahirkan, Anissa berharap segera pulang ke rumah dan berkumpul bersama anak pertamanya, Alea. Setelah pulang dan untuk melakukan kontrol, ternyata dari hasil laboratorium, level bilirubin anak mereka sangat tinggi atau kerap disebut jaundice/ bayi kuning.

Angkanya mencapai 18,9, sementara level yang normal adalah 10-12. Awalnya mereka tak menyadari hal tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dokter, pasangan ini baru menyadari.

Radit pun berusaha mencari informasi di internet yang membuatnya malah tambah panik. Anissa yang baru melahirkan dengan level hormon yang masih tak stabil, menangis. Hal ini diceritakan Radit dan Nisa di YouTube Raditya Dika.

" Gua sebagaimana lazimnya seorang bapak yang khawatir google dong, penyakit yang kita google kan jadinya 300 persen jadi lebih parah daripada sebenarnya, kena ke otak, inilah, itulah, makin panik gue lah," kata Radit.

 

2 dari 6 halaman

Terapi Sinar

Akhirnya Aksa harus menjalani fototerapi, tapi ternyata di hari pertama tak berjalan mulus. Bayi tersebut sangat rewel dan selalu digendong Anissa, hal ini membuat terapi tak optimal.

Angka bilirubin yang diharapkan bisa turun, hanya menurun 2 poin. Terapi pun berlanjut di hari kedua yang ternyata bilirubin belum menurun signifikan.

" Untuk dokternya kasih tahu kita, tenang saja. Ini mungkin dari menyusui juga," kata Radit dalam YouTube channelnya.

Akhirnya setelah hari ketiga, level bilirubin Aksa menurun ke angka normal dan dibolehkan pulang. Mereka pun bersyukur buah hatinya sudah sehat kembali.

 

3 dari 6 halaman

Masalah Bilirubin Pada Bayi

Dikutip dari KlikDokter, bilirubin merupakan hasil produk dari pemecahan sel darah merah yang akan dibawa oleh darah menuju organ hati. Saat itu terjadi proses kimiawi yang menghasilkan pigmen hijau dan dikeluarkan melalui empedu. Pada orang dewasa, bilirubin ini akan dikeluarkan dari tubuh saat buang air besar.

Selama masa kehamilan, organ hati ibu akan menyaring bilirubin keluar dari darah yang berada di sekitar janin. Setelah lahir, proses ini kemudian diambil alih oleh organ hati si Kecil yang baru lahir.

Karena organ hati pada bayi baru lahir masih belum sempurna, sehingga butuh waktu untuk mengeluarkan bilirubin tersebut. Akibatnya, bilirubin menumpuk dalam darah dan menyebabkan warna kuning pada permukaan kulit si Kecil.

Sering kali, peningkatan kadar bilirubin tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Namun, kadar bilirubin yang sangat tinggi atau tidak berfungsinya terapi dapat menyebabkan hilangnya pendengaran dan kerusakan otak pada bayi baru lahir.

4 dari 6 halaman

Fakta Mengagumkan Plasenta, 'Teman Hidup' Bayi Selama di Rahim

Dream - Janin dan plasenta tumbuh bersamaan di dalam rahim. Plasenta merupakan organ milik ibu dan janin, bagian dari kehidupan yang tak bisa dilepaskan.

Saat bayi lahir, tali plasenta diputus dan kemudian bayi hidup 'mandiri' dengan organnya.Sumber oksigen, darah, dan nutrisi bagi janin adalah plasenta. Betapa menakjubkannya organ satu ini, tiap ibu hamil akan tumbuh dan 'hidup' menemani bayi di rahim.

Dalam Islam, plasenta seperti juga organ tubuh lainnya, harus dikuburkan setelah keluar bersamaan dengan janin. Dicuci bersih lalu dikubur dengan layak. Ketahui lima fakta mengagumkan plasenta yang mungkin belum Sahabat Dream ketahui.

 

5 dari 6 halaman

1. Fungsinya seperti multiorgan

Bentuk plasenta seperti payung di atas bayi, berfungsi seperti beberapa organ. Bertindak sebagai paru-paru bayi dengan menyediakan oksigen dari ibu, sebagai ginjalnya untuk menyaring kotoran, serta juga menjadi sistem pencernaan dan kekebalan dengan memberikan nutrisi dan antibodi.

Plasenta juga membuat suplai darah ibu terpisah dari janin, tapi bisa membantu meneruskan nutrisi. Plasenta inilah yang memungkinkan janin tumbuh sehat sebelum lahir.

 

6 dari 6 halaman

2. Plasenta berkomunikasi dengan ibu menggunakan eksosom

Salah satu kesulitan terbesar bagi dokter adalah plasenta tidak dapat dipantau pertumbuhannya secara detail selama kehamilan. Jika pembuluh darah tidak bekerja dengan benar, akan membatasi aliran darah ke plasenta, yang dapat menyebabkan preeklamsia, atau plasenta menembus terlalu dalam ke dinding rahim, suatu kondisi yang disebut plasenta akreta.

Para peneliti baru-baru ini menemukan bahwa eksosom (vesikula kecil yang disekresikan oleh organ tubuh) yang dilepaskan oleh plasenta mungkin menawarkan cara non-invasif untuk memantau pertumbuhan plasenta. Studi tersebut menemukan bahwa pada saat melahirkan, konsentrasi eksosom plasenta berkorelasi dengan berat plasenta. Analisis darah bisa jadi dikembangkan untuk memantau kondisi plasenta ibu.

3. Ibu yang tinggal di dataran tinggi, kerja plasentanya lebih efisien

“ Tekanan evolusioner pada plasenta sangat besar. Ini adalah tekanan evolusioner yang jauh lebih serius daripada perubahan kecil pada struktur tulang perempuan, ”kata Stacy Zamudio, ilmuwan senior dan direktur penelitian di Hackensack University Medical Center.

Untuk menunjukkan betapa sensitifnya plasenta terhadap kekuatan lingkungan, Zamudio mempelajari perempuan yang tinggal di dataran tinggi di Andes. Ditemukan bahwa plasenta mereka menghasilkan bayi yang lebih besar daripada wanita yang baru saja pindah ke komunitas dataran tinggi. Wanita yang telah tinggal di dataran tinggi selama beberapa generasi lebih efisien dalam mengambil oksigen dari udara tipis, yang pada gilirannya berdampak pada plasentanya.

 

 

Join Dream.co.id