Curhat Mona Ratuliu Urus 5 Anak Selama Pandemi

Ibu Dan Anak | Rabu, 22 September 2021 12:02

Reporter : Mutia Nugraheni

Sebagai ibu yang selalu berada di rumah, Mona tak memungkiri kalau dirinya kerap merasa bosan.

Dream – Sudah hampir dua tahun berjalan sejak 2020, pandemi Covid-19 belum juga usai. Setiap orang dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi sulit yang penuh tantangan. Tak terkecuali seorang ibu.

Ibu cenderung selalu ingin memastikan kebahagiaan dalam rumah dan selalu membagikan energi positif. Mona Ratuliu, selebritis dan ibu dari empat anak, menyebutkan bahwa peran ibu di masa pandemi menjadi lebih penting.

“ Semua kebahagiaan rumah bertumpu pada ibu, namanya anak yang dicari bunda lagi bunda lagi,” kata Mona pada acara Bincang Shopee 10.10 Brands Festival: Rahasia Kebahagiaan Ibu & Anak di Tengah Pandemi, Selasa 21 September 2021.

Sebagai ibu yang selalu berada di rumah, Mona tak memungkiri kalau dirinya kerap merasa bosan. Meski demikian Mona berusaha tetap menyebarkan energi positif.

“ Ada rasa jenuh dan bosan dengan aktivitas yang gitu-gitu terus. Tapi menurut aku, penting banget kita sebagai ibu membagikan energi positif. Walaupun di rumah saja, minimal anak-anak bisa tetap bahagia,” ungkap istri dari Indra Brasco ini.

 

Curhat Mona Ratuliu Urus 5 Anak Selama Pandemi
Mona Ratuliu/ Foto: Instagram Mona Ratuliu
2 dari 6 halaman

Level Stres Ibu Meningkat

Menurut Samanta Elsener, seorang psikolog keluarga, situasi pandemi kadang membuat kondisi rumah menjadi terbengkalai. Waktu yang ada tidak dimanfaatkan untuk bonding dengan anak, justru banyak ibu yang kerap memarahi anak karena sudah lelah mengurus rumah.

 Shoppee© Shoppee

Samanta juga membagikan riset pada 2020 yang menyatakan bahwa tingkat stres ibu dan anak naik 95 persen di masa pandemi. Tidak heran, hal ini dikarenakan tugas ibu dua kali lebih berat ketimbang sebelumnya. Ketika anak sekolah, ibu harus meluangkan waktu untuk menjadi guru yang menyenangkan.

“ Tiang penyangga kebahagiaan rumah tangga adalah ibu. Kalau ibunya nggak bahagia, akan berdampak ke seluruh rumah,” kata Samanta pada kesempatan yang sama.

 

3 dari 6 halaman

Tantangan

Selain harus menyisihkan waktu untuk mengawasi dan membimbing anak dalam melakukan aktivitas belajar mengajar dan bermain, seorang ibu juga memiliki tantangan lainnya. Sebagai teladan, teman, pengawas hingga tempat curhat. Hal ini juga dialami Mona.

“ Tantangannya luar biasa, karena ada lima anak yang rentang usiannya jauh-jauh. Pertama, mengelola waktu antara kerja dan mengurus anak. Biasanya cuma menyiapkan sarapan, pulang sekolah snack dan makan malam. Sekarang kita harus jadi temannya,” kata Mona.

Menurut Mona, sesibuk apa pun pastikan ibu selalu berusaha terkoneksi dengan anak. Samanta. mengingatkan untuk melibatkan buah hati dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena itu juga merupakan tanggung jawab mereka. Justru komunikasi bisa berjalan saat saling membantu dan mengerti.

“ Hindari kata awas dan jangan, karena dapat membuat hubungan orang tua dan anak menjadi jauh. Padahal pandemi seharusnya menjaga kedekatan anak, dengan membuat anak berkontribusi misalnya membereskan kamar dan angkat jemuran,” kata Samanta.

Tidak berhenti sampai situ, seorang ibu juga harus menjadi solusi terhadap kebutuhan sang buah hati. Salah satunya berbelanja secara online untuk keperluan anak-anak di Shopee agar lebih praktis.

“ Perintilan anak sekolah kalau beli di luar kan pulangnya harus mandi, jadi aku pelanggan setianya Shopee karena tinggal pencet langsung datang,” kata Mona Ratuliu.

Laporan Angela Mihardja

4 dari 6 halaman

4 Tanda Orangtua Sudah Ajarkan Kecerdasan Emosi Pada Anak

Dream - Kecerdasan emosi (atau dikenal sebagai emotional quotient/ EQ) adalah kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, dan mengelola emosi sendiri dengan cara yang positif. Hal ini berdampak pada pengelolaan stres yang baik, mampu berkomunikasi secara efektif, berempati dengan orang lain, serta bisa mengatasi tantangan dan meredakan konflik.

Kecerdasan emosi didapatkan bukan dalam waktu singkat. Perlu diajarkan, dicontohkan dan dilatih terus-menerus sejak dini. Sebagai orangtua, apakah ayah bunda sudah mengejarkan kecerdasan emosi pada buah hati?

Salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan untuk anak adalah membantu mereka mengelola emosinya. Berikut tanda jika orangtua sudah mengajarkan kecerdasan emosi pada anak.

Orangtua melatih anak untuk tak impulsif
“ Anak-anak pada dasarnya impulsif dan jika tidak dikendalikan mereka bisa menjadi orang dewasa yang impulsif,” kata Aleasa Word, pelatih kecerdasan emosional bersertifikat.

Impulsif merusak kecerdasan emosional, jadi ajari anak-anak untuk berhenti dan berpikir tentang apa yang mereka rasakan sebelum bertindak. Word menyarankan untuk menggunakan isyarat visual, seperti gelang khusus atau kata-kata pemicu untuk membantu anak-anak belajar cara berhenti. Jelaskan kepada anak-anak pentingnya meluangkan waktu lima detik untuk menanggapi apa pun, kecuali dalam keadaan darurat.

“ Anak-anak saya sendiri telah melihat ke atas, melihat ke bawah, melihat ke kiri, dan melihat ke kanan secara rutin sebelum merespons, demi memaksa mereka untuk berhenti sejenak,” kata Word, dikutip dari Readers Digest.

 

5 dari 6 halaman

Berdiskusi

Penting bagi orangtua untuk selalu meluangkan waktu berdiskusi dengan anak-anaknya. Hal yang dibahas bisa banyak hal, bukan hanya sekadar hal berat, tapi juga tema yang ringan. Kuncinya adalah saling mendengarkan.

“ Miliki waktu bicara untuk keluarga adalah wajib,” kata Tom Kersting, seorang psikoterapis.

Rata-rata orangtua menghabiskan tiga setengah menit per minggu untuk percakapan yang bermakna dengan anak-anak mereka. Ini sangat kurang, coba buat rutinitas seluruh keluarga untuk berbincang selama 15 menit per malam.

 

6 dari 6 halaman

Menerima emosi anak

Perasaan tidak ada yang benar atau salah, memang demikian adanya, dan setiap orang berhak atas perasaan mereka, termasuk anak saat mengalami perasaan tertentu. Selalu dorong anak untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui pertanyaan.

Misalnya, jika mereka terlihat sedih atau kesal dan tidak mau berbicara, orangtua dapat bertanya, 'Kakak/ adik terlihat murung diri hari ini, apakah sesuatu terjadi?. Jangan pernah menghakimi atau meragukan perasaan anak-anak. Cobalah berempati, bila tak punya kta positif yang ingin diucapkan lebih baik diam dan cukup beri pelukan hangat pada anak.

Puji saat anak mampu mengendalikan emosi

Membesarkan anak yang memiliki kecerdasan emosi adalah proses yang lambat tapi sangat layak. Jadi, penting bagi orangtua untuk memberi pujian dan merayakannya saat anak mempu mengendalikan emosi.

Akui situasi di mana anak membiarkan emosinya kacau tetapi tetap terkendali. Pujilah dia karena itu. Katakan, 'Aku suka caramu mengontrol emosi saat adik terus mengganggu. Itu cara yang bagus untuk menghadapinya'.

Join Dream.co.id