Cerita Manis Pembangunan Ruang Sensori untuk Anak Autisme di Bandara

Ibu Dan Anak | Senin, 5 Agustus 2019 16:03
Cerita Manis Pembangunan Ruang Sensori untuk Anak Autisme di Bandara

Reporter : Mutia Nugraheni

Suasana bandara bagi mereka dengan autisme merupakan kondisi yang sangat menyiksa.

Dream - Pittsburgh International Airport, Amerika Serikat kini punya ruangan baru. Ruangan ini merupakan ruangan ramah sensori untuk anak-anak dan orang dewasa dengan autisme.

Suasana bandara yang sangat riuh, banyak orang lalu lalang, suara dari speaker, lalu lintas udara, bagi orang biasa merupakan hal yang normal. Namun bagi mereka yang memiliki spektrum autisme, sangat menyiksa.

Kondisi bandara bisa meningkatkan rasa gelisah, hingga mengalami serangan panik yang tak terkendali. Jason Rudge, seorang petugas bandara, sangat mengerti akan hal ini. Pasalnya ia juga juga memiliki anak dengan spektrum autisme bernama Presley yang berusia 4 tahun

2 dari 8 halaman

Proposal Jason Rudge

Rudge pun memiliki ide untuk menyediakan ruangan sensori di bandara Pittsburgh. Sederet penelitian dilakukannya untuk kemudian dibuat proposal.

" Aku melakukan penelitian lalu menuliskan surat pada CEO bandara. Sambil melampirkan hasil penelitianku tentang ruangan sensori. Dua minggu kemudian, CEO memanggilku ke ruangannya dan mengatakan 'ini akan terjadi', aku senang sekali," ungkapnya, seperti dikutip dari People.

3 dari 8 halaman

Suasana Lebih Tenang

Ruang sensori tersebut kedap suara dan memiliki replika kabin jet. Replika tersebut memungkinkan penumpang merasakan berada dalam pesawat sebelum mereka benar-benar naik.

Ruangan ini juga dirancang dengan lampu yang menenangkan, tabung gelembung, dan area pribadi untuk keluarga untuk bersantai sebelum terbang. Kamar mandi juga dilengkapi dengan meja ganti.

4 dari 8 halaman

Membuat nyaman orang dengan Autisme

Dua tahun yang lalu Rudge dan istrinya Sharon menemukan betapa ruang sensori mempengaruhi Presley ketika mereka mengunjungi salah satu ruangan di sekolahnya. Presley kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam rutinitasnya, tetapi ruangan itu mampu menenangkannya.

" Perbedaannya seperti siang dan malam setelah dia pergi ke ruang sensori. Setelag keluar dari ruang sensorik, Preslet siap berinteraksi dengan orang lain," ungkap Rudge.

5 dari 8 halaman

Tanggapan CEO Bandara Pittsburgh

Christina Cassotis, CEO bandara Pittsburgh, mengungkap kalau pembangunan ruangan sensori yang diinisiasi Rudge, tak melalui proses yang rumit. Ia ingin seluruh penumpang di bandara merasa nyaman, termasuk mereka yang memiliki spektrum autisme.

“ Kami melihat ini sebagai layanan yang sangat baik dan membuat segalanya jadi lebih baik untuk keluarga dan sesama penumpang," kata Cassotis.

Ruangan sensori tersebut pun dinamai Persley's Place. Bocah itulah yang menginspirasi dibangunnya ruangan tersebut.

6 dari 8 halaman

Bocah Autisme Jadi Mahasiwa Termuda di Oxford

Dream - Joshua Beckford, bocah usia 13 tahun asal Tottenham, Inggris sedang jadi perbincangan dunia. Ia masuk daftar 30 orang paling luar biasa di dunia dengan autisme yang memberikan insipirasi pada publik.

Bagaimana tidak, saat usianya masih 6 tahun Beckford sudah mengeyam pendidikan di Universitas Oxford, salah satu kampus terbaik di Inggris. Kini di usianya yang sudah 13 tahun dan sudah bergelar sarjana muda.

Penting diketahui Beckford merupakan anak dengan autisme. Ia menjadi contoh banyak orang kalau autisme tak bisa menghambat impian besar seorang anak. Usaha bocah ini untuk mengejar impiannya pada 2011 lalu.

Daniel, ayah Beckford, mengetahui ada program kuliah di Universitas Oxford khusus untuk anak usia delapan dan tiga belas tahun. Untuk membantu putranya, ia menulis surat untuk Oxford berharap mendapatkan izin masuk untuk anaknya meski ia lebih muda dari usia yang ditentukan untuk program tersebut.

Tak disangka, Beckford diberi kesempatan untuk mendaftar. Ia menjadi mahasiswa termuda yang pernah diterima di Universitas Oxford. Bocah brilian itu mengambil kursus filsafat dan sejarah.

Beckford sangat menyukai sejarah Mesir selama masa perkuliahannya. Ia juga menulis buku anak-anak tentang negara bersejarah dan kuno. Selain kecakapan akademisnya, wajah Beckford menjadi ikon kampanye National Autistic Society’s Black and Minority.

7 dari 8 halaman

Menjadi Duta Pendidikan

Pada Januari 2019, Beckford ditunjuk sebagai Duta Pendidikan Keluarga Berpenghasilan Rendah (L.I.F.E) untuk Jaringan Advokasi Pendampingan Anak Laki-Laki di Nigeria, Uganda, Ghana, Afrika Selatan, Kenya, dan Inggris.

Beckford dan ayahnya juga bakal membuka fasilitasi sesi bimbingan dengan orang tua dalam acara inisiatif Father And Son Together [FAST] di Nigeria pada Agustus 2019.

Pada 2017, Beckford memenangkan The Positive Role Model Award for Age dalam acara The National Diversity Awards, sebuah acara yang merayakan pencapaian luar biasa dari komunitas akar rumput yang menangani berbagai isu di masyarakat.

8 dari 8 halaman

Didikan Ulet Sang Ayah

Pencapaian Beckford yang menyandang autisme tak lepas dari latihan dan didikan sang ayah. Pada usia 10 bulan, ayah Beckford, Knox Daniel, menemukan kemampuan belajar putranya yang unik saat bocah lucu itu duduk di pangkuannya di depan komputer.

Keyboard komputer menjadi minat anak. Daniel mulai memberi tahu Beckford huruf-huruf pada keyboard. Ia menyadari, anaknya mampu mengingat dan mengerti.

Pada usia 3 tahun, Beckford sudah bisa membaca dengan lancar menggunakan phonics--sistem pengajaran membaca bahasa Inggris. Ia belajar berbicara bahasa Jepang, bahkan belajar mengetik di komputer sebelum belajar menulis.

" Sejak usia 4 tahun, aku menggunakan laptop ayah untuk belajar," ucap Beckford, dikutip dari Face2Face Africa.


Laporan Fitri Haryanti Harsono/ Liputan6.com

Join Dream.co.id