Cerita 2 Remaja 13 Tahun Raih Medali Olimpiade Pertamanya

Ibu Dan Anak | Kamis, 29 Juli 2021 14:07

Reporter : Mutia Nugraheni

Dua remaja putri itu di masa pandemi menorehkan prestasi luar biasa yang membanggakan negaranya.

Dream - Masih berusia 13 tahun, sudah berlaga di level Olimpiade dan mendapat medali. Sebuah kebanggaan tak terkira dirasakan oleh Momiji Nishiya dari Jepang dan Rayssa Leal dari Brasil.

Dua remaja putri itu di masa pandemi menorehkan prestasi luar biasa yang membanggakan negaranya. Momiji Nishiya baru saja menyabet medali emas dan Rayssa Leal meraih perak di cabang olahraga skateboard olimpiade.

Penampilan keduanya sangat mencuri perhatian. Terutama ketika mereka naik podium. Dikutip dari Cbsnews, Momiji jadi salah satu pemenang medali emas termuda di Olimpiade.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Momiji Nishiya (@momiji_nishiya830)

Ia meraih emas pada street competition skateboarding. Sementara di tempat kedua, ada Rayssa Leal yang meraih perak.

"Saya menangis karena saya sangat bahagia," kata Momiji.

 

Cerita 2 Remaja 13 Tahun Raih Medali Olimpiade Pertamanya
Momiji Nishiya/ Instagram @Momiji
2 dari 6 halaman

Rayssa Leal Viral Saat 7 Tahun

Hal yang juga mencuri perhatian adalah Rayssa Leal, remaja asal Brasil. Saat ia berusia 7 tahun, videonya bermain skateboard mengenakan kostum peri viral di media sosial.

Video itu mencuri perhatian Tony Hawk, pemain skateboard profesional. Sejak itu Leal mendapat pelatihan dari Hawk dan menjadi pemain skateboard profesional.

Melalui akun Twitter @olympics, digambarkan 'metamorfosis' Leal dari saat ia belajar main skateboard hingga meraih medali emas.

 

 

Salut kerja keras para remaja ini!

3 dari 6 halaman

Anindya Bakrie Bagikan Momen Kelulusan Putrinya di SMA Bergengsi Inggris

Dream - Keluarga besar pengusaha sekaligus politisi, Aburizal Bakrie tengah jadi sorotan. Hal tersebut lantaran kasus narkoba yang menjerat putranya, Ardi Bakrie dan sang menantu, Nia Ramadhani.

Dari banyaknya berita negatif, rupanya kakak dari Ardi, Anindya memiliki kabar yang menggembirakan.  Putri Anin, Alisha Bakrie, baru saja lulus dari SMA bergengsi di Inggris, Cheltenham Ladies College. Hal ini diketahui dari unggahan Anin di akun Instagram resminya

" Congrats @alishabkrie for your graduation. Tidak terasa sudah 3 tahun sejak pertama kali diantar ke sekolah @cheltladiescoll,"  tulis Anin.

 Keluarga Anindya Bakrie
© Instagram Anindya Bakrie

Tak hanya itu, Anin juga memberi tahu kalau putrinya juga bakal melanjutkan pendidikan di Inggris. Alisha rupanya bakal menempuh pendidikan sarjananya di London School of Economics (LSE).

 

4 dari 6 halaman

Kebersamaan

" Semoga selalu dilancarkan upayanya. Insya Allah dengan kerja keras dan doa, cita-cita Alisha dapat terus tercapai dengan baik. Amin," ungkap Anin.

 Alisha Bakrie
© Instagram Anindya Bakrie

Ia juga mengunggah beberapa foto kebersamaan mereka saat berada di Inggris menemani putrinya.

 Keluarga Anindya Bakrie
© Instagram Anindya Bakrie

5 dari 6 halaman

Ibu Maudy Ayunda Jawab Rasa Penasaran Orang Soal Uang Sekolah Putrinya

Dream - Maudy Ayunda termasuk selebritas yang memiliki latar pendidikan tinggi. Ia merupakan lulusan S1 Oxford University, lalu S2-nya diselesaikan di Stanford University. Dua universitas tersebut merupakan yang terbaik di dunia.

Banyak warganet yang penasaran bagaimana orangtua Maudy mengasuh dan mendidiknya, agar memiliki latar pendidikan yang baik. Termasuk juga banyak yang ingin tahu uang bayaran sekolah Maudy.

Mauren Jasmedi, ibu dari Maudy lewat akun Instagramnya @muren.s menjelaskan kalau dulu saat putri pertamanya kelas 2 SD, pindah sekolah. Hal itu lantaran Mauren agak kecewa dengan pelajaran di SD pertama Maudy.

 Maudy Ayunda SD
© Instagra, @muren.s

" Saat anak sy TK & sampai kelas 2 SD, mereka bersekolah di sekolah berkurikulum nasional. Awalnya, sama sekali tidak terpikir pindahkan anak dari sekolah tersebut. Sampai suatu saat, ketika saya menemani anak belajar, saya kecewa atas materi pembelajaran kala itu. Murid diminta menghapal nama-nama kecamatan di Jakarta & materi hapalan lain yang saya anggap kurang tepat. Sejak itu, ada saja materi belajar anak yang membuat saya tidak nyaman. Mau protes tapi kepad siapa? Daripada sibuk cari kesalahan orang, mulailah saya hunting mencari sekolah lain yang lebih sesuai harapan. Saat mencari SD kala itu, saya tidak masuk ke ruang kantor, tapi saya coba duduk di kantin mendengar murid berceloteh, mengintip proses belajar di kelas dan itu saya lakukan setiap hari di beberapa SD. Hingga suatu hari, saya mendapatkan 1 SD berkurikulum Nasional Plus, yang terbilang masih baru, & bahkan anak saya baru akan mjadi angkatan ke 2 di sekolah itu dan bermurid hanya 9 orang per kelas. Mungkin bagi sbagian orang, sekolah dengan minim fasilitas ini bukan pilihan menarik, tapi saat memasuki sekolah itu saya sungguh telah jatuh cinta,"  tulis Mauren.

Akhirnya Mauren memutuskan untuk memindahkan sekolah Maudy. Fasilitas sekolah baru ternyata jauh lebih minim, tapi menurutnya lebih bisa mengakomodir tumbuh kembang dan pendidikan sang putri. Biaya sekolah, menurut ibu dua anak ini saat itu dibilang terjangkau.

" Di sanalah akhirnya anak-anak saya menghabiskan sekolah dasar hingga masa SMP mereka. SD dan SMP itu, tumbuh bersama seperti keluarga dengan anak-anak kami. Sekarang sekolah tersebut menjadi besar bahkan menjadi sekolah international favorit, yang memiliki banyak murid. Bicara soal uang sekolah, SD yg saat itu baru punya 2 angkatan belumlah pede membandrol harga mahal seperti sekarang,"  ungkap ibunda Maudy.

 

6 dari 6 halaman

Masuk SMA Internasional, Jual Mobil

Setelah Maudy lulus SMP, pertimbangan soal SMA kembali dilakukan dengan panjang. Mauren berusaha mengajak anak-anaknya selalu berdiskusi karena mereka yang akan menempuh pendidikan.

Maudy ingin bersekolah di sekolah internasional yang biayanya cukup mahal. Ia sampai menawarkan untuk menggunakan uang sendiri yang saat itu didapatkan dari menjadi bintang iklan dan model.

" Saatnya pilih SMA , keputusannya pun diambil dari hasil pertimbangan & diskusi panjang, bareng anak-anak. 'Bayar sekolah nya pakai uang aku aja ma,' kata sulungku yang saat itu sudah punya tabungan sendiri, dari menjadi model & BA beberapa produk. Tak sampai hati memakai uang anak yang sangat ingin bersekolah di sana, kami pun menawarkan 1 solusi yang mbuat mereka belajar mbuat pilihan melalui sebuah pengorbanan. 'Gimana kalau mobil antar jemput kalian dijual buat bayar sekolah, tapi kalian naik bis sekolah setiap harinya nanti? Dan mereka pun menyetujui pilihan itu. Selama SMA kubiarkan anak-anak naik bis jemputan sekolah setiap hari dari Bintaro ke kemang. Walau mereka harus dijemput lebih pagi dan pulang lebih sore, bahkan kadang tertidur di mobil karena mobil itu berisi sampai 12 orang untuk area Jakarta Selatan yang harus diantar jemput satu persatu,"  ungkap Mauren.

Komentar pun bermunculan. Banyak yang salut dengan cara ibunda menerapkan pendidikan bagi dua putrinya. Seperti komentar @marcalais_fransisca yang menulis 'Salut tante kasih anak pilihan untuk berkorban untuk memperjuangkan apa yang dia mau'.

Lalu ada juga akun @nuraenii_2405 yang berkomentar 'Masyaallah ibu yang tangguh,,ibu yang bisa memantau keadaan anak-anaknya. Komentar lainnya dari akun @_putridianasri_ yang menulis 'Wih salut banget sama tantee benar2 serius dan effort sama pendidikan ka maudy dan ka manda'.

Join Dream.co.id