Ayah Bunda, Asah Kecerdasan Emosi Anak Selama Pandemi

Ibu Dan Anak | Kamis, 26 Agustus 2021 10:05

Reporter : Mutia Nugraheni

Saat pandemi, anak lebih banyak di rumah dan hanya bertemu dengan keluarga dekat saja.

Dream - Mengasuh anak selama pandemi merupakan hal yang cukup berat bagi para orangtua. Kita harus menjaga kesehatan anak secara ekstra, tapi juga penting untuk memenuhi kebutuhannya emosinya.

Untuk perkembangan emosi, saat anak bermain, bertemu teman sebaya, berada di lingkungan baru, akan sangat melatihnya. Sementara saat pandemi, anak lebih banyak di rumah dan hanya bertemu dengan keluarga dekat saja.

Penting untuk tetap mengasah kecerdasan emosi anak meski di rumah. Lalu bagaimana caranya?

Biarkan anak memilih
Setiap anak memiliki pilihan. Jadi, berikan ia kepercayaan untuk memilih. Siapkan ia untuk menerima penolakan dan penerimaan hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya. Hal ini akan membantu anak untuk lebih berlapang dada.

Hindari membandingkannya
Setiap anak terlahir istimewa. Membandingkan anak secara fisik dan mental akan menyakiti hatinya dan membuatnya tidak percaya diri. Tentu, sebagai orangtua pun tak ingin dibandingkan bukan? Hal ini juga dialami anak-anak. Membandingkannya dengan anak lain akan berdampak buruk pada kecerdasan emosinya.

 

Ayah Bunda, Asah Kecerdasan Emosi Anak Selama Pandemi
Ilustrasi
2 dari 7 halaman

Lakukan Juga Hal Ini

Jangan Selalu menyalahkan
Anak yang sering disalahkan akan tumbuh menjadi orang yang penakut dan tidak percaya diri. Melakukan kesalahan adalah hal yang wajar, namun bukan berarti selalu menyalahkan anak. Berikan anak keleluasan dalam membuat keputusan dan pilihan.

Kurangi Mendiktenya
Pandemi adalah masa-masa sulit bagi setiap orang. Tak terkecuali bagi anak-anak. Anak perlu belajar untuk memikirkan jalan hidupnya, seperti yang kita pahami bersama pandemi banyak mengubah cara pandang dan rencana hidup. Jadi, penting bagi anak untuk memahami tujuan hidupnya.

Selengkapnya baca di Fimela.

3 dari 7 halaman

Psikiater Anak: Jangan Jadikan Buah Hati 'Tong Sampah' Emosi

Dream - Belum ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 bakal berakhir. Prioritas saat ini adalah mampu bertahan hidup, menjaga kesehatan fisik maupun mental seluruh keluarga termasuk anak-anak.

Untuk menjaga kesehatan fisiknya, ayah bunda pasti sudah tahu hal-hal yang harus disiapkan dan dilakukan. Mulai dari menyiapkan makanan sehat, vitamin, masker hingga face shield.

Lalu bagaimana dengan kesehatan mental anak selama pandemi? Hal tersebut kerap kali luput dari perhatian.

Menurut dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K), spesialis kedokteran jiwa konsultan psikiatri anak dan remaja RS Pondok Indah Bintaro Jaya dalam webinar yang digelar RS Pondok Indah Group pada 29 Juni 2021, anak-anak jadi pihak yang paling terdampak karena pandemi dalam hal kesehatan mental.

" Anak tidak mengeluh ketika punya perasaan lonely/ kesepian, mereka tak bisa mengatakannya. Lebih banyak mengatakan bosan. Mereka harus kompromi dengan perubahan, gak bisa exercise, kalau pun bisa terbatas, belum lagi terjadi perubahan pola asuh selama pandemi. Misalnya terjadi permasalah ekonomi, masalah rumah tangga," kata dr. Anggia.

 

© Dream
4 dari 7 halaman

Peka Terhadap Perubahan Anak

Penting bagi orangtua untuk memperhatikan perubahan sikap dan perilaku anak sehari-hari. Jika ada perubahan seperti menarik diri, lebih suka sendiri, sering mengeluhkan nyeri tanpa sebab, tak termotivasi, bisa jadi anak sedang mengalami stres.

Tanpa disadari, seringkali sikap orangtua saat di rumah dan kondisi pandemi membuat anak mengalami stres tinggi. Salah satunya karena orangtua meluapkan emosi negatif pada anak karena hal lain.

" Kita harus membantu diri kita dulu sebagai orangtua, perbaiki emosi kita dulu baru membantu emosi anak-anak agar bisa bertahan saat pandemi, dan sehat jiwa tentunya. Prinsipnya menjaga susasa hati mood orangtua. Jangan jadikan anak-anak tong sampah orang dewasa. Kalau di ruang praktik banyak yang cerita mereka dicurhati orangtuanya, anak-anak juga punya perasaan lho," ujar dr. Anggia.

Dokter Anggia mengingatkan para orangtua untuk menggunakan tiap kesempatan membangun kelekatan dengan anak. Eksplor hal lain di luar jam sekolah misalnya. Buat aktivitas menyenangkan bersama anak yang melibatkannya.

Kuncinya adalah benar-benar hadir untuk anak secara fisik dan pikiran. Jangan sampai saat bersama anak, otak dan pikiran malah tertuju pada gadget atau pekerjaan dan mengeluhkan banyak hal pada anak. Pasalnya, banyak orangtua saat sedang stres dan emosinya tak stabil malah melampiaskannya pada anak. Ini sangat berbahaya.

5 dari 7 halaman

4 Tanda Orangtua Sudah Ajarkan Kecerdasan Emosi Pada Anak

Dream - Kecerdasan emosi (atau dikenal sebagai emotional quotient/ EQ) adalah kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, dan mengelola emosi sendiri dengan cara yang positif. Hal ini berdampak pada pengelolaan stres yang baik, mampu berkomunikasi secara efektif, berempati dengan orang lain, serta bisa mengatasi tantangan dan meredakan konflik.

Kecerdasan emosi didapatkan bukan dalam waktu singkat. Perlu diajarkan, dicontohkan dan dilatih terus-menerus sejak dini. Sebagai orangtua, apakah ayah bunda sudah mengejarkan kecerdasan emosi pada buah hati?

Salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan untuk anak adalah membantu mereka mengelola emosinya. Berikut tanda jika orangtua sudah mengajarkan kecerdasan emosi pada anak.

Orangtua melatih anak untuk tak impulsif
“ Anak-anak pada dasarnya impulsif dan jika tidak dikendalikan mereka bisa menjadi orang dewasa yang impulsif,” kata Aleasa Word, pelatih kecerdasan emosional bersertifikat.

Impulsif merusak kecerdasan emosional, jadi ajari anak-anak untuk berhenti dan berpikir tentang apa yang mereka rasakan sebelum bertindak. Word menyarankan untuk menggunakan isyarat visual, seperti gelang khusus atau kata-kata pemicu untuk membantu anak-anak belajar cara berhenti. Jelaskan kepada anak-anak pentingnya meluangkan waktu lima detik untuk menanggapi apa pun, kecuali dalam keadaan darurat.

“ Anak-anak saya sendiri telah melihat ke atas, melihat ke bawah, melihat ke kiri, dan melihat ke kanan secara rutin sebelum merespons, demi memaksa mereka untuk berhenti sejenak,” kata Word, dikutip dari Readers Digest.

 

© Dream
6 dari 7 halaman

Berdiskusi

Penting bagi orangtua untuk selalu meluangkan waktu berdiskusi dengan anak-anaknya. Hal yang dibahas bisa banyak hal, bukan hanya sekadar hal berat, tapi juga tema yang ringan. Kuncinya adalah saling mendengarkan.

“ Miliki waktu bicara untuk keluarga adalah wajib,” kata Tom Kersting, seorang psikoterapis.

Rata-rata orangtua menghabiskan tiga setengah menit per minggu untuk percakapan yang bermakna dengan anak-anak mereka. Ini sangat kurang, coba buat rutinitas seluruh keluarga untuk berbincang selama 15 menit per malam.

 

7 dari 7 halaman

Menerima emosi anak

Perasaan tidak ada yang benar atau salah, memang demikian adanya, dan setiap orang berhak atas perasaan mereka, termasuk anak saat mengalami perasaan tertentu. Selalu dorong anak untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui pertanyaan.

Misalnya, jika mereka terlihat sedih atau kesal dan tidak mau berbicara, orangtua dapat bertanya, 'Kakak/ adik terlihat murung diri hari ini, apakah sesuatu terjadi?. Jangan pernah menghakimi atau meragukan perasaan anak-anak. Cobalah berempati, bila tak punya kata positif yang ingin diucapkan lebih baik diam dan cukup beri pelukan hangat pada anak.

Puji saat anak mampu mengendalikan emosi

Membesarkan anak yang memiliki kecerdasan emosi adalah proses yang lambat tapi sangat layak. Jadi, penting bagi orangtua untuk memberi pujian dan merayakannya saat anak mempu mengendalikan emosi.

Akui situasi di mana anak membiarkan emosinya kacau tetapi tetap terkendali. Pujilah dia karena itu. Katakan, 'Aku suka caramu mengontrol emosi saat adik terus mengganggu. Itu cara yang bagus untuk menghadapinya'.

© Dream
Join Dream.co.id