Cara Memicu Anak Berani Ungkapkan Pikiran dan Perasaan

Ibu Dan Anak | Selasa, 1 Desember 2020 14:03
{IMAGE_NORMAL}

Reporter : Mutia Nugraheni

Pembiasaan untuk berani mengungkapkan pikiran dan perasaan sebenarnya harus dimulai sejak kecil.

Dream - Tak semua orang bisa mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan gamblang. Ada yang lebih memilih untuk menyimpannya sendiri atau melakukan hal lain demi mengeluarkan emosinya.

Pembiasaan untuk berani mengungkapkan pikiran dan perasaan sebenarnya harus dimulai sejak kecil. Pada anak yang terbiasa didengar, dilibatkan, dimintai pendapat, akan cenderung terbiasa dan berani mengungkap pendapatnya terhadap suatu hal.

" Mengajari anak untuk bersuara dan tegas adalah keterampilan hidup penting yang sangat bermanfaat bagi masa depan mereka. Para ahli mengatakan keterampilan asertif seperti ini kelak dapat membantu anak saat dewasa saat membina hubungan, baik hubungan romantis, persahabatan, dalam lingkungan kerja atau sekolah, atau mungkin dengan dirinya sendiri," kata Mia Rosenberg, seorang psikoterapis anak, dikutip dari Parents.

Membangun keterampilan mengungkapkan pikiran dan pendapat memungkinkan anak memiliki kekuatan untuk merasa didengarkan dan membangun kepercayaan diri mereka. Rosenberg menyaranakan beberapa cara berikut untuk membiasakan anak berani mengungkapkan pikirannya.

 

{IMAGE_PAGING}
2 dari 5 halaman

Biarkan anak berbicara sendiri

Baik itu menyapa teman yang berpapasan dengan di jalan atau memesan makanan sendiri di restoran, biarkan anak berbicara sendiri. Hindari untuk selalu jadi 'juru bicara' anak.

" Orang tua ingin membuat hidup lebih mudah bagi anak-anak mereka, terutama saat anak sedang malu, padahal ini tak selalu tepat," kata Marcie Beigel, BCBA-D, spesialis perilaku dan pendiri Behavior and Beyond di New York.

Orangtua harus menghentikan kebiasaan mengatur dan berbicara atas nama anak. Dorong anak untuk berbicara sendiri dalam berbagai situasi.

 

3 dari 5 halaman

Diskusi seru

Luangkan waktu setiap hari untuk melakukan percakapan yang seru dengan anak-anak. Mungkin saat makan atau jalan-jalan keluarga.

" Bicarakan dengan anak-anak tentang topik yang penting bagi keluarga dan tanyakan pendapat mereka dan tunggu jawaban mereka," kata Dr. Beigel.

Penasaran dengan pikiran anak-anak. Disarankan untuk mengajukan pertanyaan seperti: " Di mana kakak/adik mempelajarinya?" dan " Wah seru, coba ceritakan lebih banyak" .

 

4 dari 5 halaman

Cobalah untuk tidak menghakimi

Anak cenderung sangat hati-hati memutuskan kapan mereka akan mengangkat topik pembicaraan tertentu pada orangtuanya. Saat merasa dihakimi, anak mungkin malah menutup diri.

" Penting bahwa ketika anak-anak mencoba untuk mengangkat suatu topik, orangtua dapat mendengarkan tanpa menghakimi. Ini berarti tidak mengajukan pertanyaan yang dapat memancing anak untuk membela diri," kata Rosenberg.

 

5 dari 5 halaman

Berikan pilihan pada anak sejak dini

Ingin makan pisan atau apel? Mau pakai baju yang mana? Kakak/adik lebih suka belajar apa? Ini mungkin tampak seperti pilihan sederhana, tetapi dapat memberikan pengaruh yang besar.

" Jenis pilihan ini akan membantu anak kecil terbiasa memilih dan berbicara untuk apa yang mereka inginkan. Hal ini akan memicunya melakukan analisis kelebihan dan kekurangan dari pilihannya untuk kemudian diungkapkan tanpa perlu takut," ujar Rosenberg.

Jangan selalu menentukan segala hal untuk anak. Sesekali biarkan ia membuat keputusan sendiri, ini sangat penting bagi kemampuan analisis dan keberaniannya.

Join Dream.co.id